Konflik Guru – Murid dan Seni Beladiri

0
398
Abdullah Sam (Kanan) Pendiri Pesantren Rakyat Sumberpucung Kab. Malang. Sarjana Psikologi yang pulang kampung melakukan perubahan di desanya

ALLAHUMMAGHFIRLAHU warhamu waafihi wa’fuanhu. Semoga Pak Cahaya damai dalam peristirahatan menemui Tuhannya dan dipenuhi amal atas pengabdiannya menjadi guru, semoga menjadi amal khusnul khotimah. Kita tidak bisa menolong dan takdir tidak bisa dicabut untuk pak Cahaya. Semoga pengabdiannya menjadi syahid. Bukankah beliau mengajar meski gajinya pas-pasan. Ini seperti orang beribadah lalu pulang dan meninggal dalam perjalanan karena sebuah kecelakan. Peristiwa ini juga dihukumi syahid.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari beberapa peristiwa tersebut? Kebanyakan pendapat mengarah pada Fulan, sebagai murid, yang menghajar seorang guru sampai kehilangan nyawa. Jika kita lihat pada sudut pandang patron-klien dan nilai ketawadhu’an, Fulan adalah murid yang telah melanggar nilai keutamaan menghargai guru, apalagi guru yang berjuang menjadikan murid bisa memiliki pengetahuan. Bagi orang yang memiliki pengetahuan, maka dia akan dimuliakan. Jadi tindakan Fulan telah keluar dari konteks kemuliaan itu.  Murid demikian jelas akan dinilai tidak sekedar tidak memiliki sopan santun. Lebih dari itu kiranya.

Kita coba ingat kembali sejumlah data yang muncul di beberapa viral media online untuk memahami konteks peristiwa pak Cahaya dan Fulan agar kita bisa belajar tentang relasi guru murid dalam proses pembelajaran di kelas. Saat sebelum kejadian, Fulan sedang mengganggu temannya ketika belajar melukis. Melihat peristiwa tersebut, pak Mudi menegur dan mengingatkan Fulan untuk tidak mengganggu temannya yang sedang belajar melukis. Fulan pun tidak kunjung menghentikan perilaku mengganggunya dan malah terus menggoda teman-temannya. Pak Cahaya lantas mengambil kuas cat dan mengolesi cat ke pipi Fulan. Fulan mereaksi dengan balik menyerang pak Cahaya dengan memukuli hingga mengarah ke kepalanya.

Problem sosio-emosional, Membaca Konteks Fulan

Berita yang beredar, Fulan disebut murid dengan tingkat pelanggaran tinggi. Para guru lain juga sudah mengenalnya karena seringkali Fulan keluar masuk pendampingan konseling di sekolahnya. Fulan dikabarkan juga anak yang suka beladiri dan memang hidup dalam lingkungan identik kekerasan. Dia “anak pasar” dan akan dibayangkan anak yang berkembang dengan kebebasannya, tanpa nilai penting yang bisa dibelajari mampu mengendalikan dirinya. Orang tuanya pun sering dipanggil oleh guru konseling karena perilaku Fulan. Titik nadir gambaran konteks perilaku Fulan berujung pada tindakan agresif ke seorang guru, pak Cahaya.

Biasanya, Fulan lain sudah dikeluarkan dari sekolah. Namun, Fulan masih bisa bertahan di sekolahan tersebut. Barangkali ada sisi kemanusiaannya bahwa Fulan masih bisa bertahan di sekolahan sebelum peristiwa ini terjadi. Yah, bagaimana kita menempatkan Fulan-Fulan lain yang banyak ditemui di sekolah tersebut. Maka kajian sudut pandang Fulan akan lebih baik jika dilihat dari konteks hidup ekologis (lingkungan sosial) Fulan untuk mendapatkan kejernihan pengambilan hikmah mendidik anak, khususnya memfasilitasi gaya perilaku Fulan.

Fulan hidup diliputi oleh suasana resiko yakni hidup di lingkungan pasar dengan interaksi yang cukup kompleks. Dia juga ikut olah raga karate yang memberikan pelatihan diri ketrampilan bertarung. Pelanggaran yang terjadi di sekolah juga memberikan gambaran Fulan sedikit keluar dari norma sosial sekolah. Ketika terjadi peristiwa agresif pada pak Cahaya, kisah tersebut cukup bisa diterima sebagai satu kronologis bahwa Fulan adalah sosok murid dengan perilaku agresif. Tentu ini adalah gejala yang tidak sehat secara mental, khususnya perkembangan emosi-sosial Fulan.

Fulan dalam perkembangan emosi-sosial bermasalah. Fulan oleh karena itu perlu digaransi untuk dilatih membangun perkembangan sosio-emosional yang sehat. Mendidik Fulan dengan begitu butuh pendekatan inklusif karena dapat juga dikategorikan berkebutuhan khusus, atau lebih tepatnya diberi layanan yang sesuai dengan kepentingannya, yakni secara sosial-emosional. Oleh karena itu, dalam konteks relasi sosial di sekolahan, Fulan selalu ditempatkan dalam proses pendampingan pembelajaran dalam pantauan perkembangan emosi-sosialnya. Sedangkan perkembangan prestasi akademiknya, hanya satu dari media yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar mengasah emosi-sosial Fulan.

Apalagi Fulan memiliki kegiatan yang bisa disebut positif, yakni sebagai murid yang menyukai olah raga beladiri. Gayung bersambut, kekuatan beladiri yang tidak didasari oleh pembentukan emosi-sosial yang positif, agresifitas Fulan-lah yang mereaksi gurunya ketika mendapat coretan cat di pipinya.

Kontrol emosi-sosial yang tidak terlatih, coretan cat dipipi seperti tamparan yang langsung memantik harga diri saat dia berposisi sebagai lawan tarung yang sedang terpojok. Emosi Fulan akan cepat mengambil posisi menyerang ketika habitus kekerasan membentuk perilaku bertarungnya. Ini adalah bukti Fulan yang belajar beladiri tetapi tidak diimbangi oleh struktur emosi-sosial yang memandunya menjadi lebih tumbuh dewasa.

Fulan tidak memiliki sumberdaya sosial-emosional yang positif dalam perkembangan dirinya. Biasanya, ini dibentuk cukup lama dalam kurun perkembangan mental dia.  Tragedi kematian pak guru Cahaya adalah akhir dari  gunung es ketika emosi agresif Fulan melahirkan babak baru pemutakhiran emosi sosial yang tidak matang.

Pendidikan Bisu

Mari kita rangkai diskusi kita menuju pada fokus mengapa Fulan memborbardir gurunya, sampai insiden tersebut menjadikan pak Cahaya meninggal ? Maghfurlahu.  Mari keluar dari stigmatisasi murid tidak ta’dhim dan guru yang dimuliakan. Saya ingin mengajak memberikan formulasi untuk menjawab secara positif agar kasus Pak Cahaya dan si murid Fulan tidak terjebak dalam menyalahkan sepihak dan membela pihak lain, namun meskipun guru menjadi korban, dan muridnya pun adalah produk korban salah asuh dan pendidikan, memangnya dunia pendidikan bergeming ?  Sudah, itu urusan SMA di sana yang tidak berkualitas, yang penting pendidikan di sekolah saya berkualitas.

Nyawa guru hilang tidak menjamin kesadaran pendidikan secara masif, bahkan pemangku kebijakan pun tidak bergeming untuk melakukan transformasi perubahan pendidikan yang lebih memanusiakan. Pendidikan kita berarti telah terjangkit budaya bisu meskipun nyawa Pak Cahaya sudah tiada.

Pendidikan berjalan instrumental. Kasus  di atas bagi saya adalah bukti instrumenalisme pendidikan telah mematikan daya tawar anak sebagai manusia yang butuh didampingi berproses, bahkan mewadahi apakah murid menyukai pelajaran atau tidak menyukai pelajaran. Saat anak tidak menyukai pelajaran, lantas mletik dengan keasliannya, salah satu reaksinya dia akan menjadi pengganggu temannya. Ini artinya, pelajaran seni melukis belum merasuki seluruh murid.  Jika sudah begini, guru semestinya bergerak kreatif. Guru dituntut bergeser dari pakem desain utama belajar ke desain metode belajar parsial/diferensial. Sebuah metode belajar yang dirancang mewadahi perbedaan sekumpulan murid. Bukankah ini sudah semestinya diterapkan ketika sekolah wajib memiliki tanggung jawab inklusif ? Sebuah tanggungjawab kreatif. Guru perlu memahami bahwa anak yang berbeda tetap bisa belajar bersama, bukan mendiskriminasi.

Pendidikan yang didominasi tujuan menggembleng prestasi akademik murni, bak seperti kacamata kuda, akan menimbulkan aneka konflik karena tata kelolanya dikuasai oleh model belajar instrumentalistik. Maksudnya, anak sudah dibentuk tujuan, cara belajar dan capaiannya secara saklek, seperti perkakas obeng  atau perkakasa dapur yang wajib siap pakai dan hasilnya harus baik.

Prestasi akan sangat ditentukan oleh kesukaan anak dan bentuk dorongan yang kuat yang mempengaruhi anak. Ketika kenyataan ini dpahami seragam, maka ada anak yang mampu menyesuaikan diri dan ada yang belum mampu. Saat guru semakin digenjot oleh target belajar, maka perlahan-lahan murid yang belum mampu akan semakin terpinggirkan. Mereka tidak memiliki daya tawar untuk memenuhi haknya untuk paham atau menyesuaikan dirinya. Ini akan memicu konflik. Oleh karena itu, peristiwa Pak Cahaya dan Fulan adalah produk konflik karena proses belajar tidak memberikan ruang penyesuaian diri terhadap pribadi siswa. Apalagi situasi konflik itu menimbulkan perilaku marah, bullying dan penilaian sosial pada setiap anak, seperti goblok, dedel, tidak paham-paham, ketinggalan dan lain sebagainya.

Bagi anak-anak yang berada dalam posisi terakhir, mereka pasti akan kehilangan daya tawar. Bahkan dia akan didera inferioritas dan ujung-ujungnya dilegitimasi dengan perangkingan. Jelas, murid yang seperti itu tidak akan banyak mendapatkan akses daya tawar dalam sebuah mata pelajaran.

Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari budaya bisu ini ?

Seni Beladiri, Pelajaran Seni Alternatif

Kata berita yang beredar, Fulan aktif mengikuti beladiri. Saat pelajaran seni menggambar, dia cenderung suka mengganggu daripada menggambar itu sendiri. Mungkinkah memang dia secara emosional masih butuh pemandu. Kalau tidak mau repot-repot, Fulan dan beberapa teman yang lebih menyukai dan berkembang kecerdasan kinestetik (gerak fisik), sekalian saja dia diberi ruang belajar seni, bukan seni menggambar, tetapi seni beladiri sebagai pelajaran seni alternatif.

Bukankah beladiri tidak semata-mata olah fisik ? Beladiri juga dapat dikategorikan sebagai salah satu panggung seni gerak. Sebuah seni yang mengutamakan kreasi gerak indah berkarakter menyerang-bertahan. Penggabungan beladiri dalam pelajaran seni bukan tidak mungkin ? Justru memasukkan pilihan beladiri sebagai bahan belajar seni akan memberikan pengakuan terhadap anak-anak sedemikian sehingga anak dihargai kesukaannya. Penonjolan aspek seni dari gerakan beladiri memberikan modal baru belajar mengolah emosi. Jikalau dalam beladiri, aspek yang menonjol ada di kekuatan fisik, namun pada sisi seninya, beladiri akan ditonjolkan estetikanya. Cara begini memberi peluang si Fulan mampu dibantu menata sisi emosi negatifnya kedalam keseimbangan emosi positifnya.

Di sini barangkali pendekatan seni alternatif akan membantu proses resolusi konflik guru siswa ketika siswa sudah mulai tidak cocok dengan pelajaran yang dibawa gurunya. Nah, hikmah kasus kematian pak Guru Cahaya semestinya membawa implikasi terhadap perubahan metode belajar, dari metode penunggalan menuju metode alternatif diferensial (pilihan berbeda-beda) sehingga pendidikan kita akan jauh lebih menuju memanusiakan manusia. Guru perlu keluar dari kotak kebiasaan dalam mengelola kelas.

Masihkah kita bersikukuh mengejar target akademik yang saklek? Atau kebisuan pendidikan kita adalah jawaban jikalau memang pendidikan kita berada dalam budaya bisu yang dipelihara sejak kolonial? Semoga saja konflik Guru Murid tak melahirkan korban-korban nyawa lagi gara-gara keacuhan pelaku pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here