Komunitas Suket Indonesia (KSI); sebuah catatan kecil dari seorang warga belajar di KSI

0
440
proses negeri sungsang KSI. Courtessy of Riris D. Nugrahini

0Shares
0

Upaya yang dilakukan Komunitas Suket Indonesia ini adalah sebuah bentuk upaya untuk memanusiakan manusia, upaya dalam menempatkan pihak lain diposisi yang bermartabat. Kemudian tidak berlebihan rasanya jika saya menyebutnya sebagai sebuah upaya yang bermartabat pula.

Kampusdesa.or.id–Tidak ada yang menarik dari Komunitas Suket Indonesia(KSI), selain karena mereka bersifat sangat cair, terbuka dan selalu komunal; mungkin karena mereka adalah sebuah komunitas. Saya mengenal KSI di akhir tahun belajar saya di sebuah perguruan tinggi swasta di Tuban, 2001. Sepintas saja dan sangat tidak intens, karena setelah itu saya mulai disibukkan dengan aktifitas baru saya di Yogyakarta. Mungkin takdir, yang kemudian justru malah mendekatkan saya pada KSI. Setahu saya, kebetulan banyak personil-nya yang berdomisili di Jombang, karena itu kegiatan mereka banyak berpusat di Jombang-Jawa Timur.

Tahun 2003 sebuah garapan keliling KSI yang kedua mungkin, membuka mata saya. Beberapa pertanyaan sepele mengganggu ruang pikir saya. Pilihan-pilihan bentuk pementasan, pilihan tempat pertunjukan, sasaran penonton dan juga side-events yang mereka desain sangat diluar bayangan saya. Alih-alih membuat pertunjukan di gedung pertunjukan, mereka memilih balai desa, lapangan/aloon-aloon, halaman parkir dan beberapa tempat lain yang tidak lazim bagi sebuah pertunjukan teater. Disaat banyak seniman mencari ruang untuk unjuk karya, KSI mencipta ruang mereka sendiri bukan hanya secara fisik, tetapi juga ruang yang tak kasat mata, di hati penikmat. Dalam peristiwa pemanggungan itu, KSI tidak melulu mengajak kita bersintesa dalam issue yang dibawa pada naskah (yang hingga saat catatan ini saya release-pun, naskah yang mereka bawakan selalu karya mereka, bukan karya teaterawan lain yang terkenal) melainkan mereka juga mengadakan beberapa workshop. Mungkin akan jadi biasa jika workshop mereka adalah workshop tentang penulisan naskah, keaktoran, penyutradaraan atau hal-hal lain yang tidak jauh dari teater dan pemanggungan. Tapi saat itu, workshop yang mereka inisiasi adalah workshop kerajinan bersama anak-anak warga desa setempat. Saat itu saya pikir, teman-teman ini iseng atau kurang kerjaan.

Saya datang seorang diri berkereta dari Yogya menuju sebuah desa yang agak terpencil di kabupaten Nganjuk-Jawa Timur. Dari stasiun kereta, harus berjalan kaki sedikit kearah timur untuk kemudian bisa naik angkutan pedesaan yang lumayan jaraknya menuju ke sebuah terminal kecil. Tidak berhenti disitu, karena saya masih harus naik becak menuju ke balai desa tersebut. Malam itu juga saya diajak ngleset di balai pertemuan warga menyaksikan sebuah pertunjukan teater diantara ratusan warga desa yang mungkin, belum pernah menyaksikan sebuah pertunjukan teater. Blits menyala, tulat-tulit suara dering HP, tertawa cekikikan, saling celetuk dan banyak lagi sikap penonton yang membuat saya benar-benar yakin bahwa mereka publik yang belum pernah melihat pertunjukan teater.

Selepas pertunjukan, karena memang sudah sulit mencari transportasi umum untuk kembali ke pusat kota, saya putuskan menginap bersama puluhan teman KSI lain di balai pertemuan warga tersebut. Esok paginya, saya dikejutkan dengan teriakan beberapa anak belia seusia 8-10 tahun. Mereka berkumpul di ruang yang sama dengan membawa beberapa bahan bekas seperti kardus sedotan dan tali rafia, serta beberapa tangkai/batang daun singkong. Saya terkaget-kaget, karena teman-teman KSI tidak mengajak anak-anak itu melakukan aktifitas teater tetapi malah mengajarkan beberapa anak itu membuat beberapa jenis kerajinan dan mainan dari bahan-bahan yang mereka bawa. Sepanjang perjalanan saya kembali ke Yogyakarta, saya sibuk mencari penjelasan yang logis tentang korelasi antara teater dan workshop kurang kerjaan itu.

Mungkin agak lambat saya pahami itu sebagai sebuah idealisme komunitas. Pilihan laku. Naskah-naskah mereka saya pahami sebagai sebuah antena yang memancar-teruskan beragam peristiwa di negri ini. Mulai dari konflik personal hingga konflik politik bangsa kita. Tempat pertunjukan, menjadi tidak penting ketika KSI lebih memilih untuk membeber karya mereka agar bisa dinikmati dan diakrabi oleh masyarakat awam. Bagi KSI, semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, berhak mendapatkan sebuah tontonan atau sajian pertunjukan alternatif yang tidak bersifat instan seperti yang banyak didapatkan di sinetron atau tayangan-tayangan TV yang lain. Tidak hanya konsumen ruang pertunjukan yang bisa meng-apresiasi sebuah peristiwa pemanggungan. Menurut saya, ini adalah sebuah bentuk upaya untuk memanusiakan manusia. Upaya menempatkan pihak lain diposisi yang bermartabat. Dan kemudian tidak berlebihan rasanya jika saya menyebutnya sebagai sebuah upaya yang bermartabat pula.

Suket, Semangat dan Pilihan.

Komunitas Suket Indonesia, yang kemudian akrab dengan sebutan KSI, menurut beberapa pelaku didalamnya adalah kependekan dari beberapa hal yang mereka alami; Sukar/Sulit untuk Ketemu sampai dengan Sukur bisa Ketemu. Karena memang personilnya menyebar di beberapa kota di wilayah Jawa Timur. Proses mereka diawali dari sebuah keinginan atau semangat untuk sebuah reuni dari beberapa personil yang dulunya sempat bergiat di almamater yang sama di Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka mencoba menggagas sebuah pertemuan yang bukan hanya “sekedar” acara temu kangen, namun lebih kepada sesuatu yang bisa memberi manfaat bagi banyak pihak. Angan-angan untuk tetap berkarya dalam teater tanpa harus meninggalkan aktifitas ekonomi yang saat itu sedang mereka jalani.

Kesepakatan untuk berproses pada sebuah naskah-pun diambil. Pada akhirnya komunikasi dan diskusi tentang naskah dijalin hanya melalui e-mail, sms maupun telepon. Kualitas keaktoran menjadi tanggung jawab masing-masing pihak untuk tetap menjaga dan mengembangkannya. Pada suatu waktu dan tempat yang telah disepakati bersama, mereka berkumpul untuk kemudian menjajal ide pemanggungan. Biaya produksi menjadi tanggung jawab bersama, atau istilah mereka ‘bantingan’, tanpa harus mengandalkan hasil “penjualan” proposal ke beberapa pihak donatur.

Terlepas dari itu, spirit suket (=rumput dalam bahasa Jawa) merupakan tanaman yang masuk dalam kategori gulma, bisa tumbuh dimana saja dan tetap tumbuh meskipun dibasmi dengan banyak metode dan pestisida (mulai dari kimia hingga organik). Bertemunya idealisme-idealisme pelaku yang kemudian disatukan dalam sebuah wadah komunitas sama sekali tanpa harus meninggalkan personil/pelaku masing2. Suket, dalam arti sebuah semangat, sebuah idealisme, adalah saat mereka bertemu, berkumpul dan berproses bersama. Diluar itu, mereka tetap pribadi dengan idealisme dan lakon yang mereka bawakan sendiri. Harapan mereka melalui KSI sudah bisa dipastikan bahwa melalui proses yang mereka jalani, akan selalu memberikan provokasi bagi pelaku-pelaku teater, kesenian, atau bahkan pelaku kebudayaan yang dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri, untuk tetap konsisten dan menyadari peran mereka dalam proses penciptaan kebudayaan itu sendiri.

KSI sangatlah sederhana dan bahkan terkesan ora mbejaji, tapi justru disitulah letak kekuatan mereka. Sebuah kekuatan untuk membaur dalam masyarakat, untuk kemudian menjadi bagian dalam masyarakat itu dan bersama-sama membangun kesadaran akan esensi dari laku kabudayan itu sendiri.

Mengingat itu, saya seperti sedang membaca kembali tulisan-tulisan Paolo Freire. Dimana dalam salah satu tulisannya, Freire menempatkan masyarakat sebagai subyek pencipta kebudayaan itu sendiri. Mungkin pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh teman-teman di KSI sangatlah sederhana dan bahkan terkesan ora mbejaji, tapi justru disitulah letak kekuatan mereka. Sebuah kekuatan untuk membaur dalam masyarakat, untuk kemudian menjadi bagian dalam masyarakat itu dan bersama-sama membangun kesadaran akan esensi dari laku kabudayan itu sendiri.

Sebuah organisasi yang terkesan tanpa bentuk, sangat cair. Tidak ada kepengurusan yang pasti, siapa ketua, pengurus inti, pengurus harian, atau direktur atau sebutan apa saja yang biasa mewarnai sebuah organisasi. Keanggotaannya sangat tebuka, sehingga ini memungkinkan banyak pihak untuk masuk dan turut serta dalam proses mereka.

Sebuah pilihan yang menurut mereka bukan tanpa alasan. Mengingat mereka sendiri juga punya pertimbangan untuk hal ini. Proses mereka, adalah sebuah proses belajar dan akan sangat berdosa jika kemudian mereka menutup kesempatan belajar yang harusnya menjadi hak semua pihak, tanpa harus berburuk sangka atau memandang latar belakang masing-masing pihak yang bersedia bergabung dalam proses mereka. Hal tersebut diatas saya buktikan dalam beberapa proses yang dijalani KSI yang sempat saya ikuti. Selalu menggandeng personil-personil baru, memberikan kesempatan kepada semua personil yang ingin terlibat atau bahkan mengenal teater lebih dekat, tanpa harus melihat dan memandang kualitas mereka atau apa yang mendasari mereka untuk bergabung dalam setiap proses KSI. Tidak jarang pula malahan KSI meminta teman-teman baru itu untuk sharing atas apa yang mereka miliki. Hal ini menunjukkan bahwa KSI juga sangat terbuka dengan semua hal baru yang mungkin akan menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Sebuah komunitas belajar yang kompleks; tanpa batasan tingkatan atau grade senior-yunior yang biasanya melekat erat pada sebuah komunitas. Sekali lagi, ini adalah pilihan, bukan keterpaksaan.

Riris D. Nugrahini. Warga Belajar Semesta