Kisah Tentang Perempuan-Perempuan Desa: Kecantikan, Pernikahan, dan Ketegantungan

0
811

0Shares
0

Kecantikan adalah sebuah keberkahan. Keberkahan yang lumintu bagi siapa saja yang mempunyai paras cantik. Tetapi bagaimana ketika kecantikan masih dihantui oleh budaya patriakhi? Ya, dalam konteks budaya yang didominasi oleh kuasa laki-laki, kecantikan adalah komoditas yang dihargai dari segi kapital dan kecantikan juga modal yang menjadi ukuran kesejahteraan hidup. Bagaimana makna cantik menurut orang desa? Apakah masih benar merupakan komoditas yang dilihat dari nilai kapital dan terhubung dengan jembatan kekayaan yang mirip diperjualbelikan?

Kampusdesa–Selamat pagi alam yang indah dengan bagian bagiannya yang saling behubungan (warna, bentuk, ukuran, bau, dan lain-lain). Yang menanti sinar pagi yang belum jelas datangnya, meskipun keindahan pagi ini melebihi malam-malam yang belum luruh. Selamat pagi alam yang menghadirkan perempuan-perempuan yang kadang terbangun lebih dulu daripada lelaki…

Pagi ini saya ingin membicarakan kecantikan perempuan!

Tidak ada yang salah dengan kecantikan. Jarang laki-laki yang tidak menyukai perempuan yang cantik. Cantik secara fisik itu adalah suatu kondisi yang kadang sudah menjelaskan semuanya jika kita mengamati secara sekilas.

Hampir semua orang melihat perempuan cantik itu asik bahkan sebelum bercakap-cakap dan mendalami pikiran dan omongan-omongannya. Bahkan perempuan bodoh dan omongannya sering tak bermutu sekalipun, sekilas orangnya asik. Bahkan orang cantik tampaknya di depan mata amat menarik, seakan mereka menarik secara keseluruhan.

Tentunya ada perempuan cantik tapi pikirannya norak, terbelakang, ngomongnya tidak bermutu. Kadang diam begitu saja, karena keadaannya cantik, ya sudah menarik. Dan membuat banyak orang, terutama laki-laki tertarik. Terutama laki-laki yang hanya butuh perempuan dari sisi kecantikan fisiknya.

Daya tarik perempuan cantik dan seksi bagi lelaki yang hanya ingin mengeksploitasi perempuan dari segi fisiknya, ya memang sisi fisiknya itu. Keindahan tubuh (bentuk, warna, ukuran, bau, dan kesatuan antara semuanya dalam satu wujud) bisa menggoda hasrat seksual, yang bisa saja laki-laki ingin mendekat dan memiliki dan menguasai untuk melampiaskan hasrat seknya.

Dan laki-laki akan mendapatkannya dengan berbagai cara, entah dengan cara halus atau kasar, entah dengan cara rayuan maupun pemaksaan. Entah dengan cara baik atau licik. Dan seringkali harta dan kekayaan (kepemilikan) merupakan modal yang lebih efektif untuk mendekati para perempuan cantik.

Sebagian perempuan memang menganggap dirinya adalah kaum yang mempersiapkan diri untuk didatangi lelaki yang tepat. Semakin perempuan merasa cantik, kadang ia akan cenderung merasa bahwa ia punya daya tawar yang tinggi untuk memilih lelaki. Ada diantara perempuan ini yang akan telaten menunggu laki-laki yang lebih punya tanggungjawab dan modal besar untuk menghidupinya.

Di desa, kebanyakan perempuan yang merasa cantik ini amat mengidolakan pasangan yang punya pekerjaan mapan. Konon kabarnya, memiliki suami berseragam (terutama polisi) adalah dambaan paling besar bagi gadis-gadis yang cantik atau merasa cantik ini.

Bisa jadi mereka sedang dekat dengan lelaki, katakanlah yang menjadi pacarnya. Tapi sekaligus ia sedang mendalami bagaimana kesiapan lelaki yang dekat dengannya untuk menjadi pendamping yang memang bisa diandalkan dalam sebuah ikatan yang jangka panjang (pernikahan). Di desa, kebanyakan perempuan yang merasa cantik ini amat mengidolakan pasangan yang punya pekerjaan mapan. Konon kabarnya, memiliki suami berseragam (terutama polisi) adalah dambaan paling besar bagi gadis-gadis yang cantik atau merasa cantik ini. Benarkan? Luruskan jika salah!

Kecantikan bisa menjadi modal, bisa digunakan untuk meningkatkan daya tawar dalam pasar perjodohan. Tetapi benarkah bahwa kemudian para perempuan cantik akan selalu menjadi pasangan laki-laki kaya dan mapan pada akhirnya? Ternyata tidak juga. Ada juga perempuan yang ternyata mementingkan kualitas hubungan bukan berdasarkan seberapa ia bisa diberian “sogokan” material dari lelaki. Perempuan ini pada akhirnya akan menjatuhkan pilihan pada lelaki yang tidak begitu mampu memberinya materi-materi (uang dan fasilitas material).

Tapi masih saja banyak perempuan yang menganggap bahwa kalau ia diperhatikan dan dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya oleh lelaki, hal itu adalah bentuk kesuksesannya sebagai diri. Sebagian perempuan yang saling kenal bahkan bersaing untuk bisa tampil paling cantik dan kemudian bersaing untuk mendapatkan lelaki yang lebih hebat dalam ukuran material. Di daerah pedesaan, misalnya, saya masih menjumpai bahwa antara perempuan yang saling bertetangga akan bersaing mendapatkan suami mana yang lebih mapan dan kaya.

Celakanya, lingkungan tempat mereka hidup, terutama pandangan yang berkembang di kalangan kaum perempuannya, akan memberikan penilaian lebih tinggi bagi perempuan yang mendapatkan suami laki-laki yang mapan dan punya pekerjaan bagus. Dan seorang perempuan yang mendapatkan suami yang biasa-biasa saja dan buruk dalam hal ekonomi (pekerjaan, jabatan) akan menjadi bahan pergunjingan (terutama jika cara mendapatkan jodoh ini dengan cara-cara yang kurang baik).

Celakanya, ada kasus pula di mana seorang perempuan yang bersama ibunya berjuang keras untuk mendapatkan suami yang mapan (inginnya dinikahi “yang berkalung senjata” atau polisi atau ABRI), justru menjadi perawan tua. Karena jodoh lelaki idaman, yaitu lelaki punya jabatan da berseragam, justru tidak datang-datang. Perempuan ini justru keburu tua dan akhirnya malah kesulitan mencari jodoh.

Di daerah pedesaan yang cuacanya berlumuran ideologi patriarki, pemahaman bahwa perempuan hidup untuk menunggu jodoh lelaki yang menafkahi dan memenuhi hidupnya ini masih kuat—meskipun secara perlahan-lahan juga sudah mulai tergerus.

Di daerah pedesaan yang cuacanya berlumuran ideologi patriarki, pemahaman bahwa perempuan hidup untuk menunggu jodoh lelaki yang menafkahi dan memenuhi hidupnya ini masih kuat—meskipun secara perlahan-lahan juga sudah mulai tergerus. Tentu saja, kecantikan masih menjadi dambaan siapa saja. Perempuan memang selalu ingin cantik. Tapi sebagian dari mereka memang sudah mulai menyadari bahwa mereka akan berkembang sebagai manusia dengan cara mendapatkan penghasilannya sendiri dan ingin bekerja—tidak buru-buru nikah. Nikah yang buru-buru kadang juga justru merupakan keinginan orangtua yang cara pandangnya masih konservatif atau memang alasan ekonomi.

Yang dimaksud alasan ekonomi di sini adalah jika anak perempuan menikah, maka beban ekonomis akan berkurang. Karena anak tersebut akan hidup bersama lelaki yang akan menafkahinya. Itu harapannya, meskipun selalu tak semulus yang diharapkan. Karena pada kenyataannya, setelah anak menikah, ternyata juga perlu banyak sokongan material dari orangtua. Karena anak yang menikah tak selalu langsung mandiri.

Seorang gadis harus segera menikah bukan karena ia memang ingin segera menikah, tapi karena bapak dan ibunya ingin menggelar pesta pernikahan dan mendapatkan uang becekan (arisan).

Celakanya lagi, di desa, ada fenomena orangtua ingin segera menikahkan anaknya dengan obsesi agar ia segera bisa “nduwe gawe” dan mendapatkan arisan (becekan) dari orang-orang sekitarnya atau orang yang pernah “dibeceki.” Seorang gadis harus segera menikah bukan karena ia memang ingin segera menikah, tapi karena bapak dan ibunya ingin menggelar pesta pernikahan dan mendapatkan uang becekan (arisan).

Bukan si gadis yang menimbang-nimbang alasan menikah, tapi justru orangtualah yang punya alasan kuat agar anaknya segera menikah. Saya jadi teringat apa yang pernah ditulis Ayu Utami dalam novel “Saman” (hal. 127-128): “… mencari suami memang seperti melihat-lihat toko perabot untuk setelah meja makan yang pas buat ruangan dan keuangan. Kita datang dengan sejumlah syarat geometris dan budget. Sedangkan KEKASIH muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati, kita ingin mendapatkannya dan mengubah seluruh desain kamar agar sesuai dengannya.”

Nah, ini yang mikir budget malah si orangtua!

Trenggalek, 17 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here