Kisah Cinta yang Tak Biasa dalam Bumi Manusia

0
294
Foto diambil dari https://www.tribunnews.com

Bumi Manusia adalah cinta dan jejak kolonialisme. Novel dan filmnya tak semata berurusan dengan asmara antar orang. Cinta sejatinya tidak lain dari bertemunya mental imperial dan terjajah. Namun, balutan cinta menjadikan tubuh dalam identitas penjajah-terjajah kabur ditutupi oleh gelora hasrat.

Kampusdesa.or.id–Jean Marais, pelukis berdarah Prancis itu, turut meyakinkan Minke tentang suatu arti kisah cinta yang universal tanpa terbatasi ras dan warna kulit. Kita melihat dalam adegan film: di sebuah tempat yang indah dihiasi pohon-pohon, lelaki bernama Jean Marais itu sedang membuat sketsa lukisan, sedang anak perempuan bermain sendiri bersama alam yang indah di sana.

Minke menemui lelaki itu untuk dimintai pendapat. Dialog tentang cinta yang tidak kacangan terjadi dalam adegan ini. Jean adalah seorang humanis yang telah membawa anak perempuan itu, May, karena ibunya meninggal. Latarbelakang Jean dan anak itu dalam novelnya memang lebih jauh digambarkan daripada filmnya: Jean Marais berlatarbelakang seorang serdadu.

Perempuan pribumi Aceh itu terjamah oleh seorang laki-laki serdadu dari Eropa yang tentu dianggap masyarakat Aceh sebagai Kafir.

Sedang ibu May adalah seorang perempuan Aceh kelahiran pantai yang dihamili seorang Kompeni di area tangsi tentara. Perempuan pribumi Aceh itu terjamah oleh seorang laki-laki serdadu dari Eropa yang tentu dianggap masyarakat Aceh sebagai Kafir. Adik laki-lakinya dengan cara menyusup ke dalam tangsi tentara kafir dan menikamkan rencong beracun dari samping dan perempuan itu mati seketika. Lelaki anti-kafir ini lalu bunuh diri sambil berteriak pada adik perempuan yang baru dibantainya: “Mampus Kafir!! Mampus Pengikut Kafir!”

Dari alur dialog dalam novel Bumi Manusia, kita bisa menduga Jean Marais adalah yang menghamili perempuan itu. Jean mengambil anak itu dan merawatnya. Sebuah cinta yang tidak muncul mendadak, cinta yang merupakan “anak kebudayaan, bukan batu dari langit”. Kata Jean: “Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”

Novel ‘Bumi Manusia’ juga menceritakan bagaimana sejarahnya hingga seniman humanis itu bisa masuk barisan Kompeni. Di masa belianya Jean pernah kuliah di Sorbonne, tetapi karena tak puas dengan perkuliahan akhirnya ia keluar dan belajar seni lukis. Lalu ia menjajakan lukisannya di tempat-tempat umum. Lima tahun kemudian ia bosan dengan hal itu dan ingin mengisi kekosongan hidupnya dengan berkeliling ke negara-negara Afrika, lalu yang terakhir di Hindia. Di wilayah inilah ia kehabisan uang dan akhirnya terpaksa daftar menjadi Kompeni untuk menyelamatkan hidupnya. Salah satu medan tempurnya sebagai pasukan penjajah adalah di daerah Aceh.

Ia bertekad, saat menjalani tugas sebagai serdadu ia juga akan melukis. Dalam perjalanannya sebagai Kompeni, ia mendapatkan banyak pelajaran hidup. Salah satunya adalah bahwa orang pribumi punya kekuatan jiwa yang hebat dalam berperang—juga kehebatan lain yang tak dimiliki Eropa. Iapun mulai mencintai dan menyukai orang-orang pribumi Hindia. Salah satunya adalah perempuan yang menjadi Ibu May, anak perempuan itu.

Minke menemui Jean untuk memperjelas definisi perasaan dalam dirinya dan minta pendapat tentang perjumpaannya dengan Annelis dan Nyai. Jean berkata pada Minke: “darah mudamu ingin memiliki dia [Annelis] untuk dirimu sendiri, dan kau takut pada pendapat umum.” Jean menambahkan: “pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan?”

Maka kita pada sebuah kalimat Pram melalui mulut Marais yang menurut saya adalah kata-kata yang layak didengar oleh kita semua—terutama orang yang terpelajar, “seorang pelajar juga harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

Di film, kutipan-kutipan kata makjleb dari novel itu juga dihadirkan—bersama kutipan-kutipan kalimat lainnya yang membuat kita mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di film, kutipan-kutipan kata makjleb dari novel itu juga dihadirkan—bersama kutipan-kutipan kalimat lainnya yang membuat kita mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Minke tumbuh dengan itu, sebagaimana kita umumnya tumbuh dari perjumpaan dengan orang-orang dan realitas baru yang merubah pikiran kita.

Itulah yang membuatnya berani keluar dari pendapat umum masyarakat feodal Jawa yang hanya semangat dalam hal rasan-rasan. Masyarakat feodal Jawa beda dengan masyarakat Barat yang suka mencari bukti sebagai pilar tradisi maju berbasis ilmu pengetahuan. Cinta harus berpilar pada tindakan mengetahui dan memahami, tidak terbatasi oleh persepsi umum tentang cinta itu. Realitas tentang orang dan keberadaan orang yang kita cintai tentunya harus didekati.

Maka, setelah perjumpaan pertama dengan Annelis dan Nyai, Minke harus mengetahui lebih jauh sebenarnya bagaimana kehidupan Nyai. Minke tak percaya bahwa perasaan yang dialaminya adalah akibat Sihir dari Nyai—sebagaimana dipersepsikan selama ini bahwa seorang Nyai selalu punya ilmu guna-guna.

Pendapat Jean Marais tentang guna-guna sudah cukup membuat Minke memiliki kesadaran baru dan meninggalkan kesadaran lama, “aku tak percaya guna-guna. Barangkali memang ada, tapi aku tak perlu mempercayainya, karena itu hanya berlaku dalam kehidupan yang masih terlalu sederhana tingkat peradabannya. Apalagi kau sudah bilang, Nyai melakukan segala pekerjaan kantor. Orang begitu tak akan bermain guna-guna. Dia akan lebih percaya pada kekuatan pribadi. Hanya orang tidak berpribadi bermain sihir, bermain dukun” (hlm. 56).

Mencintai Annelis dan Nyai adalah kisah cinta, tapi dalam film ini—sebagaimana novelnya—juga ada sihir nilai-nilai kemodernan dengan nilai ilmu pengetahuan dan pemaknaan terhadap relasi antar sesama manusia.

Singkatnya, “Bumi Manusia” memang kisah (per)cinta(an). Lantas di mana salahnya film yang berkisah tentang percintaan? Ia mengisahkan seorang anak elit feodal yang tersihir oleh kecantikan perempuan Indo yang cantik, juga sihir ibunya yang seorang Nyai. Sihir cinta terhadap lawan jenis ini sekaligus menumbuhkan sihir terhadap nilai-nilai hidup yang baru. Mencintai Annelis dan Nyai adalah kisah cinta, tapi dalam film ini—sebagaimana novelnya—juga ada sihir nilai-nilai kemodernan dengan nilai ilmu pengetahuan dan pemaknaan terhadap relasi antar sesama manusia.

Di “Bumi Manusia” ini, karena Minke tumbuh bersama perjumpaan dan hubungan, maka ia juga tumbuh bersama sekolah formal di HBS, dari membaca, dan menulis. Kenyataan hidup yang dijumpai adalah bahan mentah, berupa kontradiksi hidup yang harus dihadapi. Mulanya dipikirkan dan merubah pikirannya. Lalu ia tulis dan ia jalani sebagai taktik untuk menghadapi masalah-masalah yang ia jumpai, juga masalah dari orang yang dicintainya. Kebencian dan perlakuan kakak Annelis padanya—pun pada Annelis sendiri yang melakukan kebejadan sebagai kakak kandung yang menggagahi adhiknya sendiri.

Ada pula masalah hukum kolonial yang harus dihadapi oleh seorang Gundik pribumi, yang bagaimanapun ikut melibatkan Minke untuk berpikir dan berhadapan dengan masalah itu. Minke yang melakukan perjuangan menulis untuk melawan hukum itu. Yang juga melawan kondisi sakit kekasih dan istrinya, yang berujung pada perpisahan. Juga menghadapi fakta bahwa perusahaan Nyai terancam akan disita oleh anak sah dari Herman Melema yang tinggal di Belanda dan datang ke Hindia sebagai ancaman terhadap Nyai. Dan Annelis pun harus dibawa ke Eropa, dengan akibat perpisahan yang menyedihkan—yang dirasakan Minke dan Nyai.

Dan film “Bumi Manusia” tidak memerosotkan pesan Pram tentang Cinta dan Kemanusiaan. Pun juga tidak mereduksi karakter Nyai Ontosoroh. Dalam film ini, kita tetap bisa menikmati sosok Nyai yang modern dan kuat—yang memang mengenyahkan persepsi masyarakat tentang Nyai, yaitu—yang oleh Pram dalam ‘Bumi Manusia’ disebut sebagai sosok yang “rendah, jorok, tanpa kebudayaan, perhatiannya hanya pada soal-soal birahi semata” (hlm. 50).

Makanya, terasa agak menggelikan jika ada yang mengatakan bahwa film ‘Bumi Manusia’ mereduksi pesan Pram karena filmnya hanya dominan urusan percintaan. Pendapat ini sangat lucu, menurut saya, karena dua hal. Pertama, ya karena novel ‘Bumi Manusia’ itu memanglah kisah percintaan sebagaimana juga diangkat dalam film. Artinya, kalau film ‘Bumi Manusia’ dituduh sebagai film yang mereduksi kisah ke melulu kisah percintaan berarti sebutan ini tidak ada gunanya sama sekali atau bukanlah suatu kritik.

Kedua, kisah cinta yang disuguhkan tetaplah membawa pesan-pesan baik tak langsung maupun langsung diucapkan oleh karakter-karakter dalam film tersebut—sebagaimana juga kutipan-kutipan kalimat kuat dan penuh inspirasi menguatkan jiwa yang ada dalam novel juga muncul dalam filmnya. Bahkan kutipan-kutipan itu muncul dalam dialog film sama persis dengan tulisan dalam novelnya.

Evolusi sejarah dari feodalisme ke kapitalisme merupakan topik utama bagi para penulis Humanis Kiri.

Perlu diketahui, Pram adalah humanis yang menganut filsafat dialetika historis. Filsafat itu mendasari analisa terhadap perubahan sejarah manusia sesuai dengan gerak material relasi-relasi produksi. Perubahan masyarakat feodal ke arah modern yang kapitalistik. Evolusi sejarah dari feodalisme ke kapitalisme merupakan topik utama bagi para penulis Humanis Kiri. “Manusia Baru” dengan hasil lompatan kesadaran dari manusia feodal yang berpikir klenik dan irasional menjadi manusia modern yang berpikiran ilmiah, kritis, dan rasional mewarnai kisah ‘Bumi Manusia’—terutama pada sosok Nyai Ontosoroh (dari Sanikem) dan Minke (dari anak elit feodal Jawa).

Film itu sudah lumayan bagus dalam mempertahankan gesekan-gesekan batin tokoh tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh akibat kenyataan hidup yang dinamis pula, juga karena adanya interaksi antara modernisasi Eropa dengan masyarakat Jawa akibat kolonialisme yang merupakan salah satu fase sejarah munculnya modernisasi Jawa yang ternyata hingga kini belum matang dan belum mampu menuntaskan fase feodalnya.

Trenggalek, 24/08/2019