Khusnudzon, Ketenangan Hati dengan Berpikir Positif

0
179

Saat kita mengeluh, jangan-jangan kita telah memantulkan su’udhon pada diri kita. Seperti senjata makan tuan begitu ? Sebaliknya, saat kita selalu berpikir baik maka sebenarnya kita justru mampu berhusnudzon pada diri sendiri. Jadi, apakah hidup kita seperti senjata makan tuan, suka memaki diri sendiri atau selalu hidup dengan limpahan berpikir positif.


DALAM melakukan aktivitas sehari-hari, tentunya tidak terlepas dari masalah, konflik, perbedaan pendapat dan kesalah-pahaman. Entah itu terjadi dengan keluarga kita, tetangga kita, teman kita, rekan kerja kita, pimpinan kita atau dengan bawahan kita.

Jika kita bisa menyadarinya, sejatinya berbagai masalah yang terjadi dalam hubungan kita sebagai makhluk sosial berawal dari diri dan pikiran kita sendiri. Saya teringat sebuah cerita. Dikisahkan ada seorang anak laki-laki diajak mendaki sebuah gunung oleh ayahnya. Ketika sampai di atas gunung anak laki-laki tersebut terpeleset dan terjatuh. Spontan ia berteriak, “ Aaaaaaaa…..”. Tiba-tiba dari lereng gunung muncul suara yang sama, “Aaaaaaaa…..”

Untungnya, tangan anak laki-laki tersebut sempat dipegang oleh ayahnya sehingga ia tidak sampai terjatuh ke jurang di lereng gunung. Anak laki-laki tersebut heran ketika ada suara yang menirukan teriakannya. Berikutnya ia berteriak keras, “Siapa kau…!” Dari lereng gunung muncul suara yang sama, “siapa kau…” Anak laki-laki tersebut semakin penasaran dan merasa dilecehkan oleh suara yang tidak ada wujudnya tersebut. Lalu ia berteriak lagi, “Kamu jelek…!” Seketika kembali terdengar suara dari lereng gunung, “Kamu jelek…!”

Tentunya semakin membuat anak laki-laki tersebut marah, karena ia merasa dihina oleh suara dari lereng gunung itu. Anak laki-laki itu kembali berteriak, “Dasar kamu bodoh…!” Dari lereng gunung pun terdengar suara, “Dasar kamu bodoh…!” Suara dari lereng gunung seolah menantang anak laki-laki tersebut.

“Ayah, siapa yang menghina aku itu?” Tanya anak laki-laki itu pada ayahnya.

“Anakku, itu adalah suara gema. Apa pun yang kita teriakkan, akan terdengar kembali suara teriakan kita”, jawab ayahnya menjelaskan. Kemudian ayahnya berteriak, “Kamu hebaaatttt,” suara dari lereng gunung terdengar, “Kamu hebaaatttt.” Anak laki-laki tersebut pun tersenyum heran karena suara gema yang memuji dirinya hebat.

“Kamu anak yang cerdas,” teriak ayahnya dengan keras. Tentunya suara gema dari lereng gunung terdengar sama persis dengan suara teriakan ayahnya, “Kamu anak yang cerdas….”

Begitulah sekiranya kita dapat mengambil hikmah dari cerita di atas. Bahwasanya jika kita terus menerus berpikir dan berucap negatif, kehidupan kita pun akan menjadi negatif, respon dari orang-orang di sekeliling kita pun akan menjadi negatif. Sikap orang lain pada kita, sesungguhnya adalah cermin sikap kita kepada mereka. Jika kita bersikap buruk, maka orang lain akan bersikap buruk pada kita, sebaliknya jika kita berbuat baik pada orang lain, maka orang akan bersikap baik pula pada kita. Termasuk disini juga dalam hal fikiran. Apabila kita berfikir negatif, tanpa disadari fikiran tersebut tertanam dalam diri dan menjadikan hidup seperti itu. Hendaknya kita berhati-hati dalam berfikir dan bersikap.

Kemampuan berpikir positif akan membuat kita semakin mengenal diri sendiri yang akan menjadi kekuatan yang mampu mempengaruhi cara pandang kita terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan kita bahkan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita yang menjadi modal awal keberhasilan kita dalam hidup di pergaulan sosial kita.

Semestinya kita belajar berpikir positif dan membiasakan mengucapkan kata-kata positif. Itu merupakan awal untuk kita mengoptimalkan segala potensi dan daya kemampuan yang kita miliki. Kemampuan berpikir positif akan membuat kita semakin mengenal diri sendiri yang akan menjadi kekuatan yang mampu mempengaruhi cara pandang kita terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan kita bahkan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita yang menjadi modal awal keberhasilan kita dalam hidup di pergaulan sosial kita.

Namun berpikir positif bukan berarti keberhasilan akan dengan mudah tercapai karena pada hakikatnya keberhasilan dan kegagalan, kesuksesan dan kekecewaan, tertawa dan menangis, akan selalu kita jumpai dalam kehidupan kita. Tidak ada jalan yang lurus, rata, dan mulus dalam kehidupan di dunia ini. Jalan yang terjal berliku, naik dan turun juga mengiringi kehidupan ini. Dengan berpikir positif akan membuat kita terus berusaha mengambil hikmah atas apa pun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita sehingga kita bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur atas segala yang diberikan oleh Tuhan dan menciptakan suasana yang damai dan nyaman dalam pikiran dan perasaan kita.

Manusia yang berpikir positif adalah individu yang berani mengakui kekurangan, kesalahan dan kelemahannya. Namun selalu optimis dan memiliki daya tahan mental yang luar biasa yang tidak pernah larut dalam keputus-asaan.

Manusia yang berpikir positif adalah individu yang berani mengakui kekurangan, kesalahan dan kelemahannya. Namun selalu optimis dan memiliki daya tahan mental yang luar biasa yang tidak pernah larut dalam keputus-asaan. Menghadapi masalah apa pun, orang yang berpikir positif akan tenang dan dapat mengendalikan emosi. Orang seperti ini berbakat menjadi seorang pemimpin yang selalu berani menghadapi kenyataan, seburuk apa pun kenyataan yang dihadapi.

Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya megutip hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman;

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Hal ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznudzon (berprasangka baik/ berpikir positif) kepada Allah SWT. Tentunya, pikiran positif inilah yang akan menghantarkan kita pada hal-hal yang positif pula. Selain menghantarkan pada hal-hal yang positif, husnudzon juga akan membuat hati kita lebih tenang karena telah yakin dan percaya bahwa segala yang ditentukan Allah adalah yang terbaik untuk kita. Wallahu a’alam bis-showab.

Penulis : Abd. Azis Tata Pangarsa*

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah (Ifa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here