Ketika Para Sastrawan Menulis Khasanah Kuliner Pedesaan Trenggalek

0
135

Belajar, apalagi mengajar kadang terlalu rumit diikuti, bahkan dipahami ketika menggunakan pendekatan klasik, seperti belajar membaca buku-buku teks atau buku formal lainnya. Buku ini merupakan potret mengedukasi masyarakat bukan menggunakan teks formal, tetapi disajikan melalui cerita pendek. Nah, inspirasi buku ini menegaskan bahwa cerita mampu mendidik atau mengajak masyarakat secara kritis tanpa rumit, cukup menggunakan cerita (Mohammad Mahpur).

Tahun ini, di Trenggalek terbit lagi buku baru yang ditulis oleh para penulis lokal pedesaan. Ini menandai bahwa eksistensi gerakan literasi Trenggalek yang dimotori oleh komunitas yang menamakan dirinya Quantum Litera Center (QLC) masih terus terjaga. Yang menarik, masih seperti kumpulan cerita pendek sebelumnya, buku Kumpulan Cerita Pendek Trenggalek 2018 ini masih beraroma lokal, berbau pedesaan. Cerpen yang tidak (belum) berbau besi dan plastik, tapi masih mengandung bumbu lokalitas yang meramu kisah dari bahan-bahan (materi) berupa tanah pedesaan, air, tumbuhan, hingga kuliner—bersama nilai-nilai yang lahir bersamanya. Baik sebagai latar semata, maupun sebagai inti cerita atau hal yang hendak ditonjolkan oleh penulisnya. Baunya amat sedap, ramuannya semakin “pas”.

Langsung saja, soal cerpen yang menurut saya paling berbau sedap dalam buku ini. Yang bisa kita buat untuk mengerucutkan bentuk cerpen Trenggalek bersama kecenderungan tema dan pesan-pesan moral yang diangkat—yang memiliki kecenderungan yang sama sejak Kumpulan Cerpen Trenggalek terbit sejak 2012.

Saya memilih salah satu cerpen yang bisa kita kembangkan sebagai sebuah kecenderungan cerpen Trenggalek di masa depan—yang saya sebut secara berani sebagai cerpen berbau pedesaan dan berbau kuliner. Sastra Kuliner ini telah menjadi topic obrolan saya bersama sastrawan Jawa Timur, mbak Wina Bojonegoro, saat kami (berempat) sedang menikmati Lodho Bojana Rasa Trenggalek beberapa bulan lalu. Sastra kuliner, menurut info beliau, pernah diujicobakan di Surabaya. Tetapi, menurut kesimpulan saya dari informasi yang disampaikan Mbak Wina, eksperimen itu tidak membawa dampak.

“Mungkin basis material untuk diangkat jadi karya sastra kurang”, komentar saya dalam hati. Tapi setidaknya kabar tentang penerbitan buku “Sastra Kuliner” tersebut menginspirasi. Dan tentunya harus dicoba di Trenggalek setelah ini (mungkin bisa jadi agenda tahun 2019 nanti—bisa juga diupayakan tahun ini juga).

Setelah membaca semua karya yang lolos dalam buku ini, saya kemudian menyadari bahwa sastra kuliner yang dimaksud juga sudah muncul dan bisa ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Cerpen “Kembang Sepatu” karya Isna Indriati yang saya pilih sebagai cerpen yang paling sedap dalam buku ini (di antara 25 cerpen yang tersaji), tidak bisa tidak, jelas mewakili genre Sastra Kuliner sebagaimana saya dengar dari Mbak Wina itu. Cerpen inilah yang merogoh hampir semua kenangan mas kecil saya (mungkin anda yang seusia kurang lebih hampir sama dengan saya) akan masa kecil dengan berbagai kekayaan kuliner—selain kenangan tentang rumah, alam, masyarakat, hingga permainan tradisonal di pedesaan.

Memang, cerpen ini pertama-tama menggambarkan suasana dan bentuk rumah yang ditinggal Mbah Ti dan cicitnya. Rumah jaman dulu yang dihidupi oleh orang yang secara materi tidak kekurangan, rumah yang pemiliknya punya tanah dan berhasil mendapatkan penghidupan

Ada Kendi, tempat minuman terbuat dari tanah liat di rumah yang di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman yang hampir semuanya bermanfaat itu. Memang, cerpen ini pertama-tama menggambarkan suasana dan bentuk rumah yang ditinggal Mbah Ti dan cicitnya. Rumah jaman dulu yang dihidupi oleh orang yang secara materi tidak kekurangan, rumah yang pemiliknya punya tanah dan berhasil mendapatkan penghidupan dari tanah dengan berbagai tanamannya.

Isna berhasil menarasikan bentuk rumah kuno Trenggalek. Ada “bale” yang merupakan ruang luas dalam yang biasanya memiliki empat tiang besar. Lalu ada ‘kampung’, ruangan setelah ‘bale’, biasanya tak seluas ‘bale’ (lebih sempit). Gambaran yang mirip dengan rumah Mbah saya dulu. Saya mendapati memori masa kecil saya tentang rumah hampir utuh setelah membaca narasi Isna: “Satu pintu dengan dua daun pintu rangkap menghubungkan kampung dengan ruang tengah. Dua daun pintu depan atau luar kayu semua. Dua daun pintu dalam merupakan kombinasi kayu dan kaca… Di ruang tengah inilah ada tiga kamar, ruang keluarga dan ruang makan. Ruang tengah inilah yang bisa di sebut rumah. Sebelah kiri ruang tengah, ada satu pintu menuju ke dapur.”

Selanjutnya masuk ke narasi tentang kuliner berbasis tetumbuhan Trenggalek. Di belakang rumah, tepatnya beberapa meter dari pintu dapur belakang, ada tetumbuhan ‘mpon-mpon’ dan pisang. “Godhong Gedhang” adalah bahan untuk membungkus berbagai masakan. Dalam cerpennya, Isna menonjolkan salah satu kuliner tradisional berbungkus daun pisang (‘geneman’) yang barangkali sudah kita lupakan, yaitu “Temu Poh”.

Selayaknya narasi tentang kuliner, maka ada istilah bahasa Jawa (Trenggalek) yang menunjukkan kata kerja atau tindakan seperti “Ditus”—artinya dibiarkan hingga air yang menempel di barang yang dicuci kering. Ada pula alat masak tradisional dan bahan bakar yang digunakan di masa itu. Ada ‘blarak’, kata yang saya yakin sudah mulai hilang seiring hilangnya benda nyatanya. Sebab daun kelapa kering itu sudah digantikan oleh ‘liquid petroleum gas’ (LPG)—yang belakangan sempat menghebohkan karena langka di pasaran.

Waktu itu belum ada kompor, yang ada adalah “pawonan”, yaitu alat yang dijelaskan langsung melalui narasi dalam kalimat berikutnya oleh penulis: “tungku dari tanah yang pembuatannya dicampur dengan sekam”. Sekali lagi, suatu benda dan kegiatan tertentu memiliki efek tertentu, yang dalam konteks bahasa kemudian juga melahirkan istilah yang berkaitan dengan kenyataan yang berkaitan. Kata ‘plepek’ yang menggambarkan bagaimana mata harus sering terpejam dan kadang mengeluarkan air karena (menghindari) asap api di dapur dalam kegiatan masak atau memanasi benda-benda lainnya yang dilakukan didapur. Apakah ibu-ibu sekarang pernah ‘plepek’ gara-gara masak pakai kompor gas? Hehehe… Nggak kan? Gak ada lagi kata ‘plepek’ dari dalam dapur-dapur kita.

Meskipun tidak digambarkan dalam cerpen tersebut, setidaknya saya ingat masa kecil saya dulu. Waktu itu dapur Mbah saya terbilang luas dengan ‘pawonan’ berada di pojok dan meja kursi tempat makan ada di dapur yang sama—ya, saking luas dapurnya. Di antara ‘pawonan’ dan meja tempat makan dan meletakkan masakan yang siap saji. Ada tempat berbentuk persegi empat dari anyaman bambu yang disebut “Paga” (huruf ‘a’ dibaca ‘o’ seperti pada kata ‘tolong” dalam bahasa Indonesia).

‘Paga’ digantung dengan gagang yang ditalikan atau dicantolkan ke langit-langit dapur. Apa fungsi tempat itu? Antara lain untuk meletakkan lauk dan bumbu agar terjauhkan dari semut dan tikus. Bahkan juga agar tidak bisa diambil dari anak-anak kecil (mengingat posisinya yang di atas). Beberapa masakan ditaruh di sana, tidak diletakkan semuanya di meja makan, agar juga tidak dihabiskan oleh anggota keluarga saat makan.

Ini juga merupakan upaya masyarakat Jawa (Trenggalek) untuk mengirit makanan-makanan tertentu yang memang perlu diirit atau dibagi. Makanan yang dimasak dipastikan bisa dibagi rata karena anggota keluarga banyak. Kalau ditaruh disembarang tempat, siapapun akan mudah mengambil. Apalagi oleh anak-anak yang tak mengenal ukuran. Atau oleh salah satu anggota keluarga yang egois dan serakah.

Suasana dapur luas yang belum digambarkan lagi dalam cerpen itu antara lain bahwa selain meja makan, paga, dan pawonan, di dapur yang luas bahkan juga ada ambin, babragan (semacam tempat piring, lepek, sendok, cangkir, atau wadah-wadah lain untuk masakan dan makanan). Bahkan saya masih ingat bagaimana di dapur (pawon) Mbah saya dulu ada dua ambin.

Cerpen ini bukan hanya berhasil membawa ingatan saya pada “kekayaan” kuliner dan alam kehidupan masyarakat desa kita.

Meski demikian, fokus Isna Indriati dalam menarasikan kuliner, tanaman, rumah, dan relasi keluarga tradisonal dalam cerpen ini bukan hanya berhasil membawa ingatan saya pada “kekayaan” kuliner dan alam kehidupan masyarakat desa kita. Tapi bahkan mengingatkan kita pada kuliner yang sudah kita lupakan itu sendiri.

Dan Alhamdulillah, kita mendapatkan penjelasan tentang “Geneman Temu Poh” dari kalimat ini: “Masakan sejenis bothok ini dibuat dari rimpang sejenis kunyit putih. Parutan kelapa muda ditambah bumbu halus yang terdiri bawang merah, bawang putih, cabe rawit, ketumbar, garam dan gula menjadi bahan penting demi cita rasa temu poh yang menurut Mbah Ti tiada duanya. Bahkan dia meminta tambahan daun kunyit muda yang segar untuk alas saat dibungkus dengan daun pisang. Uni sangat hafal dengan selera nenek buyutnya yang tak absen dari nginang-nya itu.”

Kuliner pedesaan asli kita bukan hanya enak, tapi juga membuat kita sehat dan awet hidup.

“Nginang” adalah mengunyah daun sirih yang dicampur “Njet” (semacam kapur yang basah empuk tercampur air). Itulah yang membuat Mbah Ti yang umurnya sudah 95 tahun itu masing sehat. Hal yang mau disampaikan penulis juga: Kuliner pedesaan asli kita bukan hanya enak, tapi juga membuat kita sehat dan awet hidup. Sedangkan hilangnya kuliner asli, dengan bombardier makanan instan, masyarakat Trenggalek justru cenderung sakit-sakitan.

Ada juga narasi tentang masa kecil anak-anak era itu dengan permainan tradisional berbahan pedesaan yang masih alami. Bermain perang-perangan dengan “senjata laras panjang dari pelepah daun pisang”, hingga permainan ‘Gedrik’ yang alatnya adalah “pecahan genteng atau batu bata”. Tentu permainan yang terakhir ini butuh tanah lapang, halaman rumah yang luas. Dan sekarang, apakah halaman atau tanah lapang dan berbagai bahan yang bisa kita gunakan untuk melestarikan permainan tradisional itu masih ada (tersisa)?

Yang terpenting lagi dalam cerpen ‘Kembang Sepatu’ karya perempuan kelahiran Desa Panggungsari (Kecamatan Durenan) ini adalah semangat bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan dengan nilai-nilai sosial yang berkembang, ikatan antara Buyut dan Cicitnya, sesama perempuan dari generasi yang berbeda. Apakah yang bertahan dari hubungan keduanya? Inilah kisah utama yang dinarasikan dari cerpen tersebut.

Mbah Ti yang digambarkan di cerpen ini adalah sosok perempuan kuat dan tangguh yang juga sering kita temui di daerah pedesaan. Ia merawat seorang cucu yang kemudian sukses karena perawatannya—ini nampaknya inti dari cerita dari cerpen ini. Bagaimana nenek tua ini bisa membiayai cucunya hingga sukses? Hampir persis Mbah saya dulu dalam hal mendapatkan penghasilan: Punya kebun dan ladang luas, ada banyak pohon kelapa yang buahnya dijual dan dari sinilah uang didapat. Punya pesuruh (pembantu) yang siap dimintai tolong untuk memetik hasil tani di sawah dan tanaman di tegalan—apalagi jika mengenang masa jaya Cengkeh sebelum harganya dirusak oleh BPPC.

Dari cerpen karya Isna, dengan menjual hasil bumi yang ada inilah Mbah Ti dapat uang untuk membiayai kuliah anak-anaknya, dan bahkan nyambung cicitnya yang bernama Uni. Gambaran ketercupukan hidup di era yang masih hijau itu dinarasikan seperti ini: “Uni tak kan kelaparan hidup berdua dengan buyutnya. Hasil kelapa juga yang dulu mampu mengantarkan pakdhenya jadi guru, dan sekarang sudah jadi kepala sekolah. Ibu dan pakdhenya lah yang dibiayai oleh buyutnya karena kakek Uni meninggal saat anaknya masih kecil.”

Kenapa tak mungkin kelaparan? Ya karena dari kebun dan ladang, segala tetumbuhan tersedia untuk dimakan. Tak ada bahan makanan (instan) dari pabrik yang “membanjiri” daerah pedesaan. Buah-buahan tidak usah beli. Bahkan juga berlimpah. “Beberapa tandan pisang tergeletak di pojok ruangan. Mereka juga tak malu untuk meminta. Mbah Ti bukan orang pelit. Jika anak-anak meminta untuk dimakan, dia pasti mengijinkan.”

Semuanya nyaris ada: “Halaman belakang rumah masih dipenuhi tumbuhan rimpang temu poh kesayangan buyutnya. Garut dan ganyong juga masih ada. Ayam, angsa dan menthok…” Keberadaan buyut janda yang punya segalanya itulah yang membuat Uni, tokoh utama cerpen ini, akhirnya bisa tumbuh menjadi perempuan sukses.

Yang menarik adalah setelah sukses dan jadi dokter (“tukang suntik”), Uni masih bisa mewariskan “bothok Temu Poh” pada anak kecilnya yang amat aktif, meskipun kuliner warisan itu ditampilkan dengan cara yang baru yang menarik anaknya: “Bothok temu poh yang sudah dibungkus dengan telur dadar itu lain dengan yang dimasaknya dulu bersama Mbah Ti. Bahan yang masih sama, khasiat juga masih sama tapi penampilan yang berbeda.”

Uni adalah perempuan modern yang masih mau meneruskan khasanak kuliner Trenggalek yang sehat dan bebas dari racun kimia. Dan dia juga ingin anaknya mencintai kuliner khas Trenggalek. Karena itulah ia mencintai apa yang tumbuh sejak Buyutnya dulu. Bukan hanya pisang, mpon-mpon, jagung dan palawija lain yang disebut-sebut dalam cerpen ini. Tapi juga pohon Ketapang dan pohon nam-naman. Dan terakhir adalah ‘Kembang Sepatu’. Di awal saya belum paham alias lupa apa itu Kembang Sepatu. Ternyata dibagian akhir cerpen ini saya baru ingat bahwa dulu saya juga sering menikmati kembang ini. Kembang Sepatu itu kalau kita lepas tangkai dan mahkotanya, ada air di dalamnya yang jika dihisap rasanya manis. Kembang Sepatu itu sejak Dokter Wuni Dwitari sudah ada di rumah buyutnya (Mbah Ti) itu. Perjuangan buyut dan cicit ini menghasilkan akhir hidup yang manis, semanis madu kembang sepatu.

Memang tidak semua cerpen dalam Kumpulan Cerpen Trenggalek 2018 ini mengangkat kuliner dalam narasinya, atau setidaknya disebut dalam tulisan yang diguritkan penulis Trenggalek yang memiliki latarbelakang berbeda-beda ini dari sisi usia, pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan, dan lain-lain.

Tapi setidaknya beberapa cerpen menampilkan nama kuliner, makanan, minuman, buah-buahan, atau benda-benda yang bisa masuk di mulut dan masuk ke perut. Nasi Pindang dan Pecel Hutan Kota disebut dalam cerpen Adi Treswantoro (Inos). Juga Pecel Mbah Suti pada cerpen saya.

“Tak Senikmat Sego Gegok Buatanmu” karya Fitri jelas ingin menjadikan kuliner asal Bendungan itu sebagai latar cerita. Upaya untuk mengangkat Nasi Gegok bahkan tergambar jelas dari Narasi Fitri: “Hanya makanan ini yang membuatku bersemangat saat ke sawah tiap pagi. Dari sego berbalut pisang yang bernama Gegok ini aku menemukan kesederhanaan, yang menyimpan sejuta kecantikan. Ia tak jual mahal, tidak mengandung kolesterol dan bumbu-bumbu yang mengancam kesehatan. Hingga akhirnya muncul pertanyaan dalam benakku, tangan siapakah yang telah membuatnya? Dia pasti membuatnya dengan penuh cinta, buktinya semua pengunjung begitu berselera saat menyantapnya.”

Kuliner ‘Sompil’ dan ‘Gembrung’ juga muncul dalam cerpen karya Reny (penulis asal Desa Karanggangu Watulimo) yang berjudul “Pion Kangmas Gentong”. Bahkan kekayaan alam pedesaan Trenggalek juga diangkat, bukan hanya Cengkeh dan durian tapi juga buah-buahan: “Beberapa bungkus sompil dan gembrung selalu menjadi oleh-oleh Bu Mitro sepulang dari pasar berjualan sayur-mayur. Cipir, sawi, singkong, tewel, kelapa, rebung adalah barang dagangan Bu Mitro yang dipetik dari kebun di sekitar rumah. Pada musim tertentu, dia menjual sawo, belimbing, nangka, labu, tebu, manggis dan durian.”

Kuliner yang menyatu dalam ubo rampen juga disebut-sebut dalam beberapa cerpen, misalnya, cerpen ‘Watu Tledek’ karya Mbak Iin: Boreh kembang telon, minyak srimpi, ragi, tape… Juga ada sesajen, beberapa bentuk buah-buahan dan olahan, yang mengiringi sesajen utama. “Sesajen utama ritual ini adalah kepala kambing muda”, tulis dalam cerpen Harendhika Lukiswara berjudul ‘Desa Kutukan’.

Sedangkan nama-nama kuliner modern dengan nama-nama semacam “vanilla latte”, “tortilla chips”, “mayonais”, “cappuccino dengan marshmallow” seperti yang muncul dalam cerpen “Perahu Yang Berlabuh” karya Helfrida Miftakhur Raifa Sogara tidak mengganggu keseluruhan isi buku ini.

Cerpen-cerpen lainnya dengan tema yang berbeda-beda juga mewarnai buku ini. Masih seputar alam, konflik sosial, pendidikan, kecelakaan dan bencana yang dialami, cinta dan perpisahan (perceraian)—dan segala sesuatu yang sudah, sedang, dan akan terjadi pada orang-orang Trenggalek. Kisah-kisah ini teranyam dengan proses kreatif yang berbeda-beda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Tergantung banyak hal. Ada yang penulis lama yang masih banyak hadir dalam buku ini—yang dalam kumpulan cerpen sebelumnya sudah hadir. Ada pula pendatang baru, termasuk adhik-adhik pelajar baik sekolah lanjutan tingkat pertama atau sekolah lanjutan tingkat atas—yang masih bisa dikatakan sebagai penulis anak (remaja).

Harapannya, terbitnya buku ini bisa bermanfaat dalam beberapa hal. Setidaknya, pertama, akan terus terjada budaya membaca dan menulis di Trenggalek. Dengan upaya menerbitkan buku kumpulan cerpen setidaknya setiap setahun sekali, akan ada harapan bagi para pegiat literasi Trenggalek (penulis) untuk melihat karyanya (cerpennya) bisa diterbitkan melalui penerbitkan yang difasilitasi oleg Quantum Litera Center (QLC) Trenggalek.

Kedua, dengan mengambil pilihan mengangkat kisah Trenggalek, akan banyak orang yang membaca buku ini. Branding “penulis Trenggalek” sendiri akan membuat banyak orang Trenggalek penasaran tentang apa yang ditulis orang Trenggalek dan bagaimana mereka menuliskan kisah dan imajinasinya. Ketiga, untuk mewarnai menggeliatnya tradisi literasi yang mulai bangkit, yang juga mulai tumbuh di daerah pedesaan.

Kaki Gunung Jabung, Karangan, Trenggalek 19 Mei 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here