Kepemimpinan Paska Kolonial

0
71

Artikel sebelum ini dijelaskan jikalau kepemimpinan desa sudah saatnya melampaui pragmatisme. Bahkan sudah harus mampu melawan “martir” atas sumberdaya desa dari kepentingan invetasi pihak luar semata. Banyak kerugiannya. Kita tahu kasus Salim Kancil, di Lumajang, yang meninggal sebagai martir karena melawan eksplorasi tambang pasir besi yang datang dari kepentingan pihak luar. Cara pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terbarukan ini, tidak hanya orang-orang desa kehilangan sumberdaya desanya, tetapi perlawanan tersebut melahirkan tragedi kehilangan nyawa warga.

Kepemimpinan tersebut adalah kepemimpinan yang menjajah warganya sendiri sehingga sumberdaya warganya tidak diberdayakan. Kepemimpinan yang menjajah hanya lahir dari gaya kepemimpinan aristokrat dan otoritarian. Sebuah kepemimpinan yang mengandalkan kekuasaan sebagai tolak ukur kekuatan memaksa atau memunculkan bentuk kepatuhan tanpa syarat. Kepemimpinan bercitra “kolonial” berhenti pada penyucian yang mandek. Rasa hormatnya berhenti pada dipuja, atau ditaati karena alasan jabatan yang disandangnya. Sementara di budaya kepemimpinan tersebut tidak ada pengembangan karya desa yang bisa memandirikan dan melakukan percepatan pembangunan sumberdaya manusia masyarakat desa. Mari kita mendiskusikan bagaimana keluar dari kepemimpinan tersebut ?

Di bulan syawal 1436 lalu, saya diminta memfasilitasi pertemuan 10 pengusaha desa di kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang yang dikumpulkan dikelola POSDAYA (Pos Pemberdayaan Keluarga) Masjid UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ternyata potensi sumberdaya manusia dan alam masyarakat Tirtoyudo dapat dipetakan. Di sana ada orang-orang produktif yang mampu mengolah sumberdaya desa seperti ada stik kopi, kripik jahe, sirup salak, dan aneka produk lainnya. Sebagian dari pengusaha ini (pengusaha kripik jahe) ada yang mampu menghasilkan produksi satu ton lebih menjelang hari raya idul fitri.

Pertemuan tersebut direspon positif oleh Camat Tirtoyudo dan diapresiasi mendukung perluasan produk lokal menjadi kompetitif di pasaran. Karakter kepemimpinan paska kolonial adalah mengetahui keunggulan lokal masyarakat atau sumber daya alamnya. Keunggulan itu perlu disosialisasikan ke luar untuk memperoleh akses pasar. Para pemimpin ini bertransaksi ke luar untuk mendapatkan nilai tambah yang diperoleh bagi warganya yang produktif.

Pemimpin desa seperti inilah yang disebut bermental kepemimpinan paska kolonial. Di jaman kolonial, penguasa lokal yang berhasil ditundukkan oleh penjajah akan menjadi kepanjangan tangan penjajah. Ia akan menarik upeti yang tinggi dari masyarakatnya atau akan menjual sumberdaya alamnya untuk kepentingan penjajah. Rakyatnya tetap berada sebagai buruh penjajah. Bahkan terkenal dengan sistem kerja paksa.

Kepemimpinan paska kolonial, seorang pemimpin lokal seperti Kepala Desa, Lurah atau Camat dapat mewakili masyarakat sebagai jembatan agar potensi desanya dipercaya orang luar. Pemimpin paska kolonial menghindari transaksi yang merugikan sumberdaya lokal. Dia harus menaikkan daya tawar atas sumberdaya lokal melalui jejaring yang berkelanjutan. Peran pemimpin lokal menjaga dan mempertahankan agar sumberdaya yang tersedi dikelola oleh orang lokal sendiri dengan segala perangkat kerjanya. Jika para warga potensial ini membutuhkan inovasi, pemimpin lokallah yang akan memfasilitasi agar potensi lokal dapat dikelola menjadi produk kompetitif.

Kepemimpinan ini dituntut peka melihat sumberdaya desanya melalui penilaian cepat potensi yang sudah dimiliki warganya atau potensi yang diciptakan untuk memaksimalkan sumber daya desa. Kepemimpinan ini dapat direpresentasikan sebagaimana teknik blusukan yang dilakukan oleh Jokowi. Blusukan pemimpin setingkat Kepala Desa atau Camat adalah aksi atau tindakan menemukan berbagai potensi desa yang kemudian menumbukan semangat kekaryaan dari komoditas masyarakat. Pemimpin seperti ini bukan makelar untuk memperkuat kekuatan luar mengeksploitasi sumberdaya masyarakat. Pada cara-cara demikian ini hanya menciptakan masyarakat sebatas pekerja.

Kepemimpinan paska kolonial adalah pribadi yang mampu menumbuhkan karya masyarakat lokal agar laku di pasaran luar. Dalam posisi demikian, masyarakat ditempatkan sebagai subyek pelaku mandiri yang difasilitasi untuk menemukan kesinambungannya dengan dunia luar. Oleh karena itu, keunggulan lokal disuarakan ke luar oleh pemimpin lokal agar mendapatkan respon pasar yang dinamis, kompetitif dan berkelanjutan. Ke dalam, pemimpin seperti ini akan mampu menemukan potensi lokal, menggerakkan masyarakatnya sendiri untuk berproduksi dan berinovasi. Ke luar, pemimpin lokal membangun jejaring untuk memperkuat dan mendapatkan peluang bagi nilai-nilai kompetitif yang diperuntukkan sebesar-besarnya demi kepentingan warganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here