Kemiri, Bahan Masakan Menyelamatkan Kehidupan

0
87
Kemiri yang kiri adalah kemiri hasil dari Yu Sinten. Sebelah kanan adalah teknologi sederhana pemecah kemiri. Bisa dibuat dari bahan kayu dengan modifikasi. Sumber gambar kanan diambil dari https://pxhere.com/id/photo/753973

Internet sangat bermanfaat untuk meningkatkan taraf rakyat kecil. Bahkan mampu mengangkat derajat kemudahan hidup para orang miskin yang kesulitan memanfaatkan sumberdaya alam. Termasuk Yu Sinten. Melihat tetangganya kesulitan memecah Kemiri, bahan masakan yang terkenal ini, maka seorang yang peduli mencarikan cara di internet, maka cara ini menyelamatkan kehidupan Yu Sinten.

Yu Sinten seringkali gugup akhir-akhir ini. Uang belanja dari suaminya serasa mengkerut. Jika biasanya uang segitu bisa cukup untuk satu minggu, sekarang menjelang hari ke-4 sudah tambal sulam.

Yu Ten (panggilan sayangnya) tidak kenal inflasi. Hanya saja akhir-akhir ini keluarganya makin keranjingan terasi. Sambal terasi semakin terasa urgen kehadirannya ketika persediaan lauk-pauk sangat terbatas. Kalau ada sambal pedasnya, semua terasa nikmat! Jadi lupa lainnya…

Untung saja Yu Ten hidup di pedesaan yang gemah ripah loh jinawi. Lombok tomat pada berbuah, ranum merah mengkilat. Tidak bakalan kekurangan bahan baku utama sambal segala macam. Sayur-mayur tumbuh menyeruak bak semak di sekitar rumah. Empon-empon cukul (muncul bertunas) sendiri dari gundukan tanah. Perlu santan? Pohon kelapa berbuah lebat di pekarangan belakang.

Tidak cukup sampai di situ, Allah memanjakan Yu Ten dengan bumbu penyedap lain yang pohonnya tumbuh bercabang membesar, buahnya seukuran bola pingpong. Dari dalamnya terkandung biji-bijian yang dilapisi kulit sekeras batok kelapa. Buah kemiri namanya.

Hari Senin Yu Ten bikin penyet terong. Hari Selasa beliau memasak lodeh nangka muda. Jodohnya sambal terasi dan ikan asin. Awet sampai hari Rabu. Selanjutnya bikin soto, sambelnya pakai kemiri. Hari Kamis Yu Ten melirik jantung pisang. Ia pun bikin pecel jantung pisang. Kemiri berandil dalam bumbunya. Hari Jum’at ia masak kare tahu. Gurihnya kemiri dan santan dipadu sambal bawang bikin semua orang ketagihan. Hari Minggu suami Yu Ten bawa ikan wader banyak sekali dari Kali Amprong. Sebagian dipenyet sama sambal, sebagian digoreng dengan tepung bumbu kemiri. Temannya oseng-oseng pepaya muda hasil memetik di kebun. Seminggu full lidah sekeluarga dimanjakan dalam kesederhanaan. Sedap betul hidup di pedesaan.

Yu Ten amat mensyukuri sebatang pohon besar bercabang dua yang tumbuh di samping rumah. Saat terdengar isu inflasi pohon itu semakin rajin beraksi. Menggugurkan buah-buah keringnya yang berukuran sekepalan tangan anak kecil.

Yu Ten bukan asyik dengan buahnya, tapi sibuk mengamankan biji-bijinya. Dengan telaten ia menjemurnya di halaman depan. Setelah beberapa hari dan cukup kering, dipukul-pukulinya kulit biji yang sekeras batok kelapa. Hasilnya isi bijinya keluar berhamburan, jauh dari utuh.

Untunglah seorang tetangganya yang sedang lewat melihat hal itu, lalu mencarikannya info di internet. Ketemulah sebuah alat pemukul sederhana terbuat dari rotan dengan jaring-jaring kecil dari tali rafia. Suami Yu Ten meniru membuat alat tersebut.

Pagi ini Yu Ten tersenyum-senyum senang, melihat biji-bijian yang dipukulinya retak dan terbelah, lalu mengeluarkan isi yang masih utuh. Biji kemiri utuh. Kalau begini caranya, pasti harga jualnya ke melijo juga lebih baik. Dapur dan dompetnya sama-sama sedap!

#Tinta Mulia. #Dewipelaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here