Hari ini dunia pendidikan dasar dan menengah digemparkan oleh kebijakan tentang full day school.   Bersanding dengan itu, full day school didasari alasan untuk membangun pendidikan karakter anak.   Pertanyaannya adalah apakah pendidikan berkarakter itu lebih menekankan waktu lamanya anak tinggal di sekolah atau proses belajarnya ? Inilah yang mengherankan. Bahkan, jika ditinjau ulang, pendidikan yang terselenggara di negeri ini, boleh jadi masih banyak mengalami distorsi filosofis/paradigmatik dan terjebak dalam pragmatisme kepentingan di luar kepentingan anak-anak yang sedang belajar.

Saya pernah diceritai oleh saudara ipar tentang munculnya kesilangsengkarutan penentuan batasan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) dari sebuah sekolah.  Demi mencapai KKM tersebut, ada kegiatan terkordinir dan itu berarti dengan sengaja, para guru mengatur nilai hasil ujian agar mampu disetarakan dengan KKM sekolah. Usut punya usut, penyelarasan KKM dan nilai ujian akhir dari anak-anak yang belajar sangat menentukan prestise sekolah. Lebih dahsyat lagi, kegiatan semacam mark-up nilai juga didasarkan pada kepentingan mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah. Peristiwa ini tidak akan saya gebyak uyah (dipukul rata pada semua sekolahan).  Akan tetapi cerita ini ada di lingkungan sekolah negeri dan guru-guru yang bersertifikasi.

Proses belajar siswa telah direbut dari tujuan siswa menjadi tujuan sekolah dan kepentingan guru. Melihat kenyataan tersebut, peningkatan gaji guru tidak serta merta meningkatkan kesadaran terhadap tugas guru. Oleh karena itu, realitas yang ada mengharuskan pendidikan karakter tidak sebatas pada lamanya anak-anak  ada di sekolah tetapi bagaimana proses belajar dan melayani manusia yang sangat beragam ditempatkan dalam kerangka kebutuhan siswa. Selain itu, filosofi pendidikan yang bergeser ke arena kompetisi  menuju keunggulan potensial yang didasari oleh kompetensi, bukan kompetisi yang banyak  mengambil jalur-lajur instans dan borjuasi. Ada cerita juga  di sebuah sekolah ternama, proses penguasaan belajar sering dilimpah ke siswa sehingga mereka lebih banyak meluangkan waktu dengan guru kursusnya daripada guru mata pelajaran di sekolah.

Pendidikan berkarakter salah-satunya adalah berpijak dari bagaimana merumuskan tujuan belajar dari obsesi, tujuan dan cita-cita hidup siswa. Cara perumusan ini sejalan dengan kemanusiaan anak. Inilah menurut saya bisa menjadi salah satu  bagian dari pendidikan berkarakter. Sebuah pendidikan yang tujuan belajarnya kembali ke siswa bukan dirumuskan oleh guru sehingga siswa tinggal mengikuti tujuan guru yang dirumuskan sebelum belajar.

Anak dengan begitu diarahkan menjadi pribadi otonom dan terbimbing untuk mengelola tujuan dirinya dengan tujuan belajarnya. Dengan demikian kelas adalah tempat menempa diri. Guru ditempatkan sebagai fasilitator yang mendampingi anak-anak mencapai obsesi, tujuan dan cita-cita hidupnya. Guru dapat mengedit tujuan siswa ketika tidak sejalan dengan visi dan nilai ideal hidup.

Dengan begitu, sudah saatnya anak dilatih untuk mengungkapkan tujuan dan cita-cita hidupnya lalu kompilasi tujuan tersebut dapat dirangkai kedalam tujuan-tujuan belajar. Bukankah cita-cita anak itu begitu futuristik dan menarik ketika anak-anak masih kecil. Kita selaku orang tua selalu bangga ketika cita-cita itu dituturkan anak-anak ketika kita menanyainya. Bahkan, kadang di kelas-kelas, anak-anak selalu ditanya tentang apa masa depan yang diinginkan. Guratan kisah dan imajinasi masa depan tentang cita-cita dan tujuan hidup tersebut dapat dijadikan sebagai reorientasi tujuan belajar. Bahan-bahan tersebut dapat dikompilasi guru kedalam tujuan-tujuan belajar di kelas. Guru bertugas mendialogkan antara tema-tema belajar dengan tujuan hidup anak-anak.

Saya sendiri punya pengalaman, bahwa tujuan tersebut dapat diintegrasikan dengan sebuah mata kuliah tertentu sehingga sekumpulan mahasiswa yang memiliki tujuan yang kira-kira sejenis dapat dikumpulkan menjadi kelompok. Mereka kemudian melakukan perencanaan belajar dari mata kuliah tertentu tetapi tema-tema matakuliah yang diambil sejalan dengan tujuan mereka. Misalnya, mereka sekelompok memiliki tujuan ingin menjadi pengusaha setelah lulus. Nah, mata kuliah yang saya ampu (waktu itu psikologi sosial) mereka kembangkan untuk tujuan-tujuan yang selaras dengan latihan wirausaha.

Mereka kemudian membuat produk-produk sangat kreatif. Dorongan internal sebagai semangat belajar bangkit dari dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak hanya mengejar nilai buta, tetapi mereka mengejar apa yang mereka inginkan. Jadi, jika diakhir belajar mereka dapat nilai baik, sejatinya mereka juga telah berproses menjadi pewirausaha yang baik karena mereka mengejar tujuan internal dirinya bukan mengejar nilai yang diberikan guru atau dosen. Nilai hasil akhir dengan demikian adalah nilai yang selaras dengan tujuan hidup anak. Dengan demikian pengetahuan anak pun akan dapat dijadikan sebagai bekal mengelola kehidupannya.

Mengembalikan tujuan belajar pada anak adalah bagian dari proses pendidikan karakter. Ia tentu tidak didikte oleh kepentingan KKM tetapi dikembalikan pada kepentingan pembelajar. Tugas guru adalah mengompilasi keragaman tujuan anak-anak dalam menata masa depannya.

Anak-anak yang lahir dari miniatur pendidikan seperti ini, dia akan semakin tahu manfaat pengetahuan yang dibelajarinya terhadap hidupnya. Mereka menjadi anak-anak yang mampu mengolah dirinya menggunakan pengetahuan yang langsung dia dapatkan di kelas. Selain itu, anak-anak akan terlatih sebagai pribadi otonom dengan pengetahuannya. Mereka akan mereproduksi hidupnya menjadi lebih baik dan guru bisa membimbing langsung. Pengetahuan dengan begitu selalu sejalan dan kontekstual dengan pengalaman hidup anak.

Anak-anak tak hanya sebagai subyek diberi, pasif dalam hidupnya, tetapi sebagai subyek aktif yang membentuk hidupnya. Mereka akan kreatif mengelola pengetahuan dan kehidupannya. Jika ini dapat dipertajam lagi, maka pendidikan karakter dapat merasuk kedalam dimensi pengetahuan dan pengalaman hidup anak-anak sehingga mereka akan dilatih maju dan mandiri, bukan subyek yang menunggu dan kemudian di kemudian hari akan lebih suka dipekerjakan, didikte oleh karena mereka di kelas dibiasakan menerima dan memenuhi target-target majikan, yakni si guru, bukan anak adalah majikan dan dia sendiri yang akan mencapai tujuan-tujuan majikan atas dirinya sendiri.

Semoga bisa menjadi salah satu pemantik bahwa pendidikan karakter bukan sebatas jam sekolah tetapi bagaimana anak belajar menjadi manusia.

Tulisan ini sudah dimuat di Koran Inspirasi Pendidikan Edisi XX Minggu II/24 Juli – 5 Agustus 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here