Keluarga Digital di Era Industri 4.0 (Bagian 2)

0
406

Sudahkah, istri bisa sedekah sendiri-sendiri paling tidak 1.000 rupiah tiap hari. Sedangkan si suami harus sedekah tiap hari 1.000 kepada istri dan putra-putrinya yang ditangungnya.

Kampusdesa.or.id- Empat, Optimalisasi Energi Spiritual: Penggerak utama manusia dan seluruh kecerdasannya adalah komponen kecil yang merupakan mikrochip bagi eksistensi manusia sebagai manusia itu sendiri. Ia merupakan hardisc yang menggerakkan dan mematikan sifat-sifat kemanusiannya manusia. Mikrochip ini adalah qalbu, atau hati sanubari, yang oleh kalangan awam disebut dengan energi spiritualitas.

Suami dan istrinya (yang menjalin hubungan timbal balik, jasmani maupun ruhani) harus bisa menghasilkan energi spiritualitas yang mendukung eksistensi dan mobilitas sistem keluarga yang dibangunnya. Dengan adanya energi spiritualitas ini bangunan keluarga, konektivitasnya, dan jejaringanya bisa dirawat dan dipelihara.

Satu-satunya metode untuk mengembangkan atau menggali energi spiritualitas dari mikrochip qalbu ini hanya (1) Dzikir, (2) Sedekah, (3) Tawajuh, dan (4) Suluk. Dengan mengoptimalkan pelaksanaan ini maka bangunan keluarga/rumah tangga bisa menjadi kekuatan yang tak mampu dipikirkan oleh akal sehat manusia. Artinya, capaian yang akan dibentuk dan dibangun melampaui apa yang telah dibayangkan oleh keluarga tersebut.

Ketika melaksanakan berdzikir maka suami bersama istri-istrinya harus berdzikir pula. Karena dzikir diantara satu sama lainnya bisa saling memberikan pengaruh positif dan sekaligus mencegah pengaruh yang negatif. Tidak harus secara bersama berdzikir dilakukan di satu tempat, tapi bisa juga dilakukan di waktu yang sesuai dengan kesenggangannya. Diutamakan pada waktu-waktu yang mustajab menurut ajaran Rasulullah.

Berbeda ketika bertawajuh di surau induk, karena waktunya sudah ditentukan maka suami bersama istrinya harus bersama-sama bertawajuh menuju ke Surau. Kekompakan dalam melaksanakan tawajuh ini akan berimbas pada konektivitas digitalisasi dalam rumah tangga. Semakin sering pasangan suami istrinya bertawajuh maka semakin canggih dan ter-upgreat untuk menghadapi segala kemungkinan di era 4.0 ini.

Untuk suluk, masing-masing dari suami dan istri-istrinya harus menyempatkan diri paling tidak dua kali dalam setahun. Karena di suluk inilah seluruh proses kecerdasan, kesaktian, dan keberanian bisa dibentuk dan membentuk secara otomatis. Suluk inilah yang mampu menjadikan hubungan dan relasi suami istri bisa terjalin secara digital. Tidak ada eror dalam pelaksanaan berumah tangga, semua akan dijalani secara canggih dan secara online. Suluk bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama. Misalnya, di bulan januari suami suluk dengan sitri pertamanya, maka dibulan februari suluk dengan istri keduanya. Pada bulan agustus suami suluk dengan istri ketiganya, maka pada November suami pertama dan kedua bersama-sama menjalani suluk. Jika hal itu bisa dijalankan maka mustahil keruntuhan bangunan keluarga bisa runtuh, justru akan semakin kokoh dan mengalami peningkatan kecerdasan yang lebih responsif.

Suatu hal yang membuktikan adanya proses digitalisasi adalah munculnya secara otomatis sebuah kecerdasan-kesaktian-keberanian.

Lima, Distribusi Energi Terbarukan: Suatu hal yang membuktikan adanya proses digitalisasi adalah munculnya secara otomatis sebuah kecerdasan-kesaktian-keberanian. Tiga hal ini merupakan sesuatu yang (pasti harus) dimiliki oleh pasangan suami dan istri untuk membangun peradaban manusia.

Dalam membangun keluarga yang canggih mengharuskan adanya pasAngan suami-istri mampu memberikan umpan balik energi dzikir yang senantiasa terjaga dan dijaganya. Artinya masing-masing dari individu harus rajin dan istiqomah dalam menjalani dzikir dan tawajuh plus suluknya.

Dalam konteks distribusi energi terbarukan ini yang paling berpengaruh adalah distribusi energi dari suami untuk istrinya. Artinya, energi (dzikir-spiritualitas) yang dimiliki oleh suami, baik negatif maupun positif itu akan terdistribusi secara otomatis kepada istrinya. Hal ini mengharuskan si suami rajin-rajin berdzikir dari pada istrinya, karena dzikir suami pasti akan diserap oleh istrinya, sedangkan energi istri merupakan pantulan dari suami yang tidak diserap oleh suaminya.

Disinilah keuntungan seorang istri yang memiliki suami seorang ahli dzikir, dimana energi negatif si istri secara otomatis akan tergerus, tergilas oleh energi positif dzikir suaminya tergantikan oleh energi milik si suami. Sedangkan energi negatif istri secara otomatis akan menjadi beban bagi suaminya. Jika si suami tidak rajin berdzikir maka alamat negatif bagi istrinya dan tentunya juga si suami. Tidak heran jika di era industri 4.0 banyak terjadi percekcokan hubungan suami-istri, hal itu dikarenakan hubungan keduanya hanya mengandung feedback (umpan balik) energi negatif, tanpa ada yang positif.

Proses distribusi energi spiritual terbarukan bisa terjadi mengharuskan si suami tiap hari harus meningkatkan energi dzikirnya dan sekaligus (berfungsi) menggerus energi negatifnya, agar saat melakukan hubungan komunikasi (verbal maupun seksual) dengan istrinya bisa memberikan energi yang positif dan mempengaruhi kebaikan bagi bangunan sistem rumah tangganya.

Mendistribusikan energi sekaligus memperbarui energi yang sudah “rusak” tercemar oleh hal-hal yang negatif bisa disebut gampang sekaligus disebut juga susah. Karena memang mudah dikatakan namun sulit dilakukan.

Suami adalah pusat atau sarana yang mampu mendistribusikan energi kepada istrinya. Dengan modal yang dimilikinya (kekuatan, kemampuan, dan kesempatan) praktis si suami menjadi bagian yang harus mengisi, memberi, dan menanam benih kepada istrinya. Jika yang ditanam adalah jelek, yang diisikan buruk dan didistribusikan sangat mengerihkan (wujudnya) tidak menutup kemungkinan akan merusak hubungan suami-istri itu sendiri menjadi puing-puing peradaban manusia. Hubungan itu akan berubah menjadi kegoncangan, putus ikatan, stress, ketidaknyamanan, dan tidak ada rasa saling mencintai. Semuanya seolah berjalan normal dan tidak ada yang penting dalam hidup.

Untuk itu mutlak bagi suami menjadi sosok yang rajin dalam berdzikir, berangkat suluk, dan berbhakti pada Allah, karena semua yang dilakukan olehnya secara otomatis akan memberikan dampak yang memperbarui energi spiritual pada istri-istrinya. Akibatnya, proses pembaharuan energi itu juga akan memberikan kekuatan pada bangunan rumah tangga.

Ciri utama keluarga yang memiliki kecerdasan yang terawat dengan baik adalah kemampuannya untuk senantiasa meningkatkan kecerdasan yang dimilikinya, baik kecerdasan intelektual, sosial, maupun spritual.

Enam, Lingkaran Kecerdasan (Circle of Intelgence) yang Terawat: Ciri utama keluarga yang memiliki kecerdasan yang terawat dengan baik adalah kemampuannya untuk senantiasa meningkatkan kecerdasan yang dimilikinya, baik kecerdasan intelektual, sosial, maupun spritual. Kecerdasan yang terawat tidak hanya mampu dan rajin membaca buku saja, namun juga merespon perkembangan zaman dan peningkatan ruang waktu, sekaligus membentengi diri secara emosional dari kondisi yang kurang menentramkan. Namun di era 4.0 ini, yang juga mewarisi tradisi masa lalunya kondisi pasangan keluarga kesulitan untuk menghadapi hal itu.tidak sedikit yang merasa sudah “tertutup belajar” bagi ibu-ibu yang sudah mempunyai kesibukan merawat anak atau memiliki pekerjaan tetap di kantor.

Lingkaran kecerdasan tiga dimensi, yakni bayani (tekstualitas), burhani (kontekstualitas) dan irfani (supranatural) dimiliki oleh setiap manusia yang mendirikan bangunan sebuah rumah tangga Jika tidak menimpah hari ini akan menimpah ketika menjelang ajal tiba. Baik melalui suaminya atau istrinya, yang paling berpeluang besar sebagai penerima bencana adalah suami.

Lingkaran kecerdasan (Circle of Intelgence) ini perlu dimiliki, lalu dirawat dan perlu pula dipelihara agar tidak hilang. Cara terbaik merawat dan menjaga lingkaran kecerdasan tiga dimensi ini adalah dengan selalu memutar tasbih (memutar pusat kecerdasan—hati) dalam 24 jam beraktivitas sehari-hari. Baik pada kondisi terjaga maupun dalam kondisi tertidur.

Cara satu-satunya agar tubuh terkondisi 24 jam memutar tasbih adalah dengan cara rajin, berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin. Dengan membiasakan hal ini maka proses memutar lingkaran kecerdasan tiga dimensi secara otomatis akan bisa dijalankan dan memberikan dampak yang meng-upgreat kecerdasan tiga dimensi itu sendiri.

Puncak kemampuan bayani, yakni kemampuan secara cepat memahami teks sebuah tulisan, baik yang bernafaskan agama maupun yang bersifat sekuler akan mudah diperoleh dan mudah dipahaminya, jika rutin menjalankan proses berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin. Dan kemampuan tersebut akan datang dengan sendirinya dan meningkat dengan jalan yang tanpa disangka-sangka.

Puncak kemampuan burhani, yakni kemampuan secara cepat merespon kejadian di sekitarnya, melihat fenomena alam dan mengamati fenomena masyarakat, mendalami numena yang tak terlihat dibalik kenyataan yang tersembunyi (alam ghaib) dan membuat analisis yang tepat tentang hasil pengamatannya. Hal itu juga bisa dengan mudah diperoleh jika berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin bisa dijalankan dengan baik, seolah memutar sebuah roda elektronik. Tidak ada fenomena yang tak terbaca dan tidak ada numena yang tak nampak, semua akan terbongkar dengan bantuan kekuatan kecerdasan tiga dimensi yang terus diputar dengan tasbih.

Dan puncak kecerdasan irfani, mengkondisikan dirinya selalu bersama (1) Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Suci, atau (2) terkondisi melihat Allah, atau juga (3) merasa dalam pengawasan Allah. Hal-hal seperti ini tidak akan bisa terjadi jika berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin tidak diputar secara rutin. Keharusan melakukan keempat hal itu tidak bisa dihindari dan tidak bisa ditolak oleh sebuah keluarga, terutama suami, karena hal itulah yang akan memberikan dampak yang mampu memutar kecerdasan tersebut.

Seorang suami yang bisa mendapatkan ketiga puncak kecerdasan tiga dimensi ini dengan pasti akan memberikan dampak yang sangat positif bagi bangunan keluarga yang dibangunnya. Pondasi peradaban umat manusia akan kuat dan mampu menciptakan sejarah yang lebih dinamis bagi masa depan generasi selanjutnya. Apalagi jika para istrinya bersama-sama juga ikut serta dalam menjalankan proses memutar tasbih ini, akan semakin menambah energi untuk memutar lingkaran kecerdasan tersebut.

Alangkah hebatnya seorang suami yang mampu memutar lingkaran kecerdasan tiga dimensi itu dan alangkah beruntungnya para istri yang juga mampu kompak bersama istri suaminya yang lain, bersama-sama bergerak untuk memutar lingkaran kecerdasan tiga dimensi ini

Tujuh, Relasi Partnership istri, anak dan Suami: Relasi hubungan keluarga harusnya adalah memiliki prinsip partnership. Tidak ada yang dianggap rendah derajadnya, dan tidak ada yang dianggap paling tinggi. Antara suami, istri dan anak-anaknya tidak ada perbedaan, semuanya adalah tim yang satu dan bangunan yang satu. Tapi di era IR 4.0 prinsip ini tidak bisa berjalan dengan baik. Terkadang suami merasa lebih unggul, anak merasa lebih hak disayangi dan istri menuntut lebih banyak.

Menerapkan prinsip partnership dalam hubungan keluarga atau bangunan rumah tangga merupakan kunci bagi keberhasilan suatu peradaban manusia. Disinilah masing-masing komponen dan simbol (suami, istri, anak) harus saling berinteraksi dan menjalankan tugasnya sesuai dengan porsi yang ditekuninya, (1) anak fokus belajar dan mengembangkan potensinya, (2) para istri fokus mengembangkan bidang dalam divisi keluarga, dan (3) suami menjadi top leader yang mengendalikan seluruh relasi komponen tersebut.

Materi tentang prinsip partnership ini harus terus dibangun dan diperbarui. Sehingga jalinan relasi tersebut akan terus terpelihara hingga keluarga itu berkembang menjadi sebuah suku (di masa depan).

Prinsip partnership ini harus ditanamkan dan menjadi komitmen bersama, saling menguatkan dan saling memberikan masukkan. Materi tentang prinsip partnership ini harus terus dibangun dan diperbarui. Sehingga jalinan relasi tersebut akan terus terpelihara hingga keluarga itu berkembang menjadi sebuah suku (di masa depan).

Inilah tujuh langkah efektif yang perlu dilakukan oleh para keluarga untuk menghadapi era 4.0 yang semakin besar peluang dekradasinya, besar pengaruh negatifnya dan berpotensi mengubah ikatan-ikatan tradisional dalam keluarga. Dengan tujuh langkah ini yang dilakukan secara komitmen maka tidak menutup kemungkinan pembentukan digitalisasi keluarga bisa diwujudkan untuk membangun kota cerdas yang terintegrasi.