Keluarga Digital di Era Industri 4.0 (Bagian 1)

0
530

Keluarga merupakan sebuah bangunan kecil masyarakat dan pilar bagi keberlangsungan sebuah komunitas bernegara. Keberhasilan sebuah keluarga kecil dalam membangun kebahagiaan, keamanan, dan kesejahteraan menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah negara membangun masyarakatnya. Semakin baik keluarga yang tercipta maka semakin kondunsif dan stabil keadaan suatu negara.

Kampusdesa.or.id- Tidak salah jika kemudian semua kepercayaan (agama samawi) sangat menekankan pentingnya sebuah keluarga ini hingga harus diatur dan dipersiapkan sebaik-mungkin menjadi bangunan masyarakat yang aman, damai dan sentosa. Hal ini juga berlaku bagi keberlangsungan sebuah suku atau kabilah, yang sangat menjaga martabat dan eksistensi keluarganya dengan membangun struktur yang kuat yang terdiri dari unsur-unsurnya.

Tantangan Keluarga di era Industri 4.0: Di era industri 4.0 ini tantangan terberat adalah menjadikan sistem berkeluarga terintegrasi dengan sistem yang berjalan pada era digitalisasi. Digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak dan menyatu bersama dengan kehidupan itu sendiri. Artinya, dengan semakin masif dan terstrukturnya digitalisasi ditengah-tengah kehidupan masyarakat maka tuntutan untuk digitalisasi dalam hubungan berkeluarga menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Kegagalan suatu keluarga dalam merespon zaman yang terus berjalan, yang menyebabkan ketidakmampuan beradaptasi dengan kemajuan yang terus dijalankan oleh waktu akan berakibat fatal dengan kerusakan sistem berkeluarga itu sendiri. Hubungan koneksi yang terintegrasi akan hancur, rusak dan berantakan yang mengakibatkan hilangnya tatanan masyarakat dan bangunan sistem bernegara.

Dewasa ini banyak diketahui berbagai bentuk kehancuran bangunan sebuah ikatan keluarga akibat dari kegagalan dalam merespon kemajuan zaman di era industri 4.0 ini. Misalnya, suami atau istri yang berselingkuh, kenakalan remaja, ketidakmampuan orang tua memberikan pendidikan, hilangnya waktu luang bermain untuk anak-anak, penyelesaian permasalahan domestik keluarga yang tidak tuntas, dan keadaan keluarga yang selalu dirundung masalah dan ketidaknyamanan. Semua ini bisa terjadi akibat dari kegagalan sebuah keluarga merespon, membentengi dan beradaptasi dengan kemajuan industri 4.0, dengan kata lain keluarga tersebut gagal melakukan digitalisasi dalam merawat sistem keluarga.

Digitalisasi Keluarga: Oleh sebab itu, untuk menguatkan bangunan sistem berkeluarga agar ikatan itu tetap kuat, yang berdampak pada pembangunan masyarakat serta kehidupan bernegara maka perlu dilakukan upaya-upaya cerdas, langkah-langkah strategis, metode yang efektif dan gerakan yang efisien yang bisa mewujudkan hal itu. Salah satunya cara yang tidak bisa dihindari adalah dengan melakukan digitalisasi keluarga.

Digitalisasi keluarga merupakan upaya untuk menjadikan bangunan sistem berkeluarga bisa lebih canggih, cepat merespon perkembangan di masyarakat, selalu up to date dengan keilmuan, dan tidak ketinggalan dalam menyiasati kemajuan zaman yang terus bergerak, terutama menghadapi derasnya arus informasi keterbukaan IR 4.0. Dengan melakukan digitalisasi keluarga maka tidak akan lagi ditemui ketidakharmonisan hubungan anak dengan orang tua, atau orang tua dengan orang tua. Apa yang sering dijumpai dalam keluarga yang tidak harmonis di era IR 4.0 ini bisa diselesaikan dengan melakukan digitalisasi keluarga sejak dini agar segala penyebab kerusakan sebuah keluarga bisa dihindari dan benih-benihnya bisa dicegah untuk tumbuh.

Beberapa langkah strategis, efektif, efisien dan juga smart yang harus dilakukan oleh keluarga untuk melakukan digitalisasi keluarga di era Industri 4.0 antara lain :

Oleh sebab itu seorang perempuan atau sosok ibu harus kuat, harus cerdas, dan yang lebih utama harus lebih dari satu.

Pertama, Jaringan Ibu yang Terkoneksi: Kekuatan sistem berkeluarga terletak pada kekuatan perempuan atau sosok ibu. Dialah yang paling berpengaruh dalam menjaga, mempertahankan, dan melestarikan eksistensi ikatan hubungan berkeluarga. Kegagalan seorang ibu akan berdampak pada kehancuran keluarga tersebut.

Oleh sebab itu seorang perempuan atau sosok ibu harus kuat, harus cerdas, dan yang lebih utama harus lebih dari satu. Ibarat kaki atau roda, jika terdiri lebih satu maka sangat aman dan stabil serta bisa leluasa digerakkan menuju ke arah mana saja.

Ibu-ibu ini harus saling menguatkan dan terkumpul, terikat oleh jejaring keluarga yang saling membantu. Ia harus menjadi ikatan persaudaraan yang saling menguatkan dan terhubung.

Inilah awal dari terwujudnya digitalisasi keluarga. Dengan bermodalkan istri maka jejaring individu sosial bisa terbentuk seperti jaringan internet yang tanpa batas.

Istri mempunyai posisi yang sama-sama mendukung, menguatkan dan memberikan motivasi bagi perjuangan, pekerjaan, dan proses pembangunan peradaban umat manusia suaminya yang tidak akan berhenti selama usia itu masih berjalan. istri harus mampu memposisikan diri, atau diposisikan oleh suaminya pada divisi-divisi yang bisa mendukung jalan yang ditempuh oleh suaminya.

Disinilah peran istri diharapkan mampu bekerja sama untuk saling mengisi dan saling menguatkan posisinya agar apa yang direncanakan, dibangun, dan dijalankan oleh suaminya bisa optimal difungsikan.

Oleh sebab itulah, istri harus menempati masing-masing “divisi” yang ideal sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Misalnya, istri  sebagai seorang guru (sarjana Pendidikan) maka dia bisa membangun operasional suami di bidang pendidikan, pengabdian masyarakat dan pengajaran di sebuah TPQ (Pesantren, Musholla, dan atau Madrasah).

Istri sosok sarjana yang ahli dibidang pengabdian masyarakat dan analisis sosial sarjana kepemimpinan atau ilmu-ilmu sosial maka bisa digerakkan untuk membangun jejaring keluarga pada lembaga (pendidikan) yang dibangunnya. Bisa juga melakukan networking pada institusi lain, atau memberikan wawasan yang sangat penting yang diperoleh dari proses perjalanannya secara pribadi.

Dan istri, (jika merupakan) sosok sarjana yang ahli di bidang sastra, atau keahlian lainnya, tehnik, ekonomi, dan sebagainya bisa dibentuk “divisi” yang mendukung eksistensi keluarga dengan bidang tersebut. Bisa mengembangkan karya sastra keluarga, memberikan aliran baru dalam berkarya di pentas nasional, mengangkat kearifan sastra lokal, dan bisa juga membangun sebuah komunitas yang terhubung dengan lembaga.

Begitu seterusnya, hingga istri merupakan pimpinan atau manajer dari divisi yang telah dibangun oleh suaminya dan secara bersama-sama dijalankan sebagai milik bersama. Dalam konteks ini juga berlaku untuk bergantian melakukan program hamil.

Dengan divisi yang telah dibangun oleh si suami maka istri memiliki keahlian dan profesionalisme yang berbeda-beda, bahkan (memiliki profesionalisme yang) sama juga tidak bermasalah.

Ketiga, Job Dis (Keahlian) yang Terintegrasi: Dengan divisi yang telah dibangun oleh si suami maka istri memiliki keahlian dan profesionalisme yang berbeda-beda, bahkan (memiliki profesionalisme yang) sama juga tidak bermasalah. Asalkan semuanya memiliki tanggungjawab posisi yang harus diselesaikan dan bisa dijalankan secara kompak. Dimana semua keahlian ini saling terintegrasi membentuk sebuah jaringan kuat yang saling memberikan keuntungan bagi organisasi keluarga.

Misalnya saja, seorang suami yang mempunyai  istri, diharuskan membentuk profesionalisme pada istrinya. Dan seterusnya, disesuaikan dengan profesionalisme istri dan kebutuhan suaminya dalam berjuang dan membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Pada konteks pekerjaan  istri bisa berbagi pekerjaan dan atau mengerjakannya secara bersama-sama. Job Dis para istri ini harus terintegrasi, saling terhubung, dan bisa menguatkan (memperbarui) dorongan dan motivasi masing-masing istri dalam membangun rumah tangga. Pada konteks ini pun pekerjaan mencari nafkah tidak sepenuhnya 100% ada pada tangungjawab suami, namun para istri juga bisa diberdayakan secara bersama-sama untuk mencari nafkah sesuai dengan kegemaran dan hobinya pada istri.

Misalnya, sosok istri yang hobinya qori’, maka suami bisa memberikan ruang bagi istrinya untuk menerima “undangan” membaca qiro’ah di suatu kegiatan pesta. Jika istrinya seorang penyanyi maka diberikanlah ruang oleh suaminya untuk bernyanyi, dan jika istri ahli dalam membuat pakaian maka dibuatkanlah ruang kegiatan oleh suami untuk mengadakan Taylor. Begitu seterunya, jangan sampai hobi dan kegemaran istri dibiarkan tidak berkembang dan tidak memberikan manfaat.

Pada konteks memberikan ruang hobi pada istri ini maka prosedur atau aturan agama dan kepercayaannya masing-masing harus dipegang secara kuat. Aturan dalam beragama harus dipegangteguh dan menjadi dasar untuk taat dan patuh kepada suaminya.