Kehidupan Anak Desa itu (Dulu) Seru!

0
566

Sebenarnya Solokuro bukanlah nama kota yang besar, melainkan kampung kecil penuh cerita. Namun karena aku tinggal di sini sejak  lahir sampai sekarang, otomatis solokuro menjadi salah satu kampung halaman yang setiap tahun aku membuat cerita dalam hidup dan mencapai misi visioner hidupku.

Kampusdesa- Sebenarnya banyak keistimewaan dikampung ini. Solokuro ini merupakan sebuah daerah pedesaan yang memiliki banyak budaya, meski sudah mulai berubah mengikuti perkembangan zaman. budaya di Solokuro ini cukup  banyak dan tetap eksis,  ada jaran jenggo, kentrung, dan lain sebagainya.

Aku enggak mau cerita tentang budaya disini, kurang menarik menurutku. Karena sudah banyak yang menceritakannya, aku cuma mau berbagi cerita tentang kehidupan anak desa pada umumnya kala itu.

Aku dulu sampai sekarang termasuk anak desa dengan kegiatan merumput di sore hari. Bukan untuk  peternakan sapi maupun kambing yang sangat banyak, tetapi hanyalah merumput untuk beberapa hewan saja . Hewan-hewan ini yang mengisi kegiatan sore di kampung halaman dulu. Karena meski sudah ada handphone, dulu tempatku enggak ada sinyal sama sekali dan handphone belum banyak yang dilengkapi dengan kamera. Jadi bisa dibilang handphone itu useless alias nggak kanggo.

Kegiatan selain merumput  atau ngarit adalah mancing belut. Ketika musim tanam tiba, anak-anak desa punya kegiatan baru di malam hari, yaitu mencari belut di sawah. Untuk menangkap belut kami memiliki alat sendiri. Sebuah pencapit dari bambu dilapisi dengan kaleng yang sudah di lubangi dengan paku pada bagian ujung sehingga bisa dengan mudah menangkap belut yang licin. Perlengkapan yang kami bawa ketika mencari belut antara lain pencapit/tang, sebuah timba atau krembu dan lampu petromak. Ada banyak tempat yang bisa digunakan untuk mancing belut. Salah satu tempat favorit adalah di kebon. Sebuah  tempat yang selalu ada ramai dengan belutnya. Kebiasaan ini lumayan nanti kalau dijual  dapat uang lumayan untuk beli jajan saat sekolah.

Tidak semua sawah kami datangi, kami cuma datangi sawah-sawah yang tidak terlalu dalam, karena kalau sawahnya terlalu dalam kami sulit untuk bergerak dan akan mudah capek. Biasanya kami berangkat setelah adzan isya’ dan kembali sebelum pukul 22.00. Ketika rembulan bersinar terang, aku memilih untuk tidak mencari belut, karena ketika itu seringkali menemui ular di pematang sawah.

Hampir setiap sore setelah belajar mengaji anak-anak hingga orang dewasa bermain layang-layang hingga menjelang manghrib.  Apalagi ketika jam sudah menunjukkan pukul 17.00, banyak anak-anak yang  masih enjoy bermain layang-layang.

Kami yang bermain layang-layang di persawahan  sampai tanah  lapang saling adu dengan layang yang lain, sampai mengejar layang yang putus sampai jauh sekali

Banyak ekspresi dari teman-teman ketika layangnya putus, ada yang malu-malu, ada yang marah, bahkan ada yang siap beradu mulut.

Selain bermain layang-layang, kadang kami juga sepak bola. Dulu desaku ada beberapa  tim berbagai blok yang cukup keren ada dari kelompok sangan dan mrican yang cukup besar. Pertandingan sepak bola di desaku selalu lebih menarik dan seru untuk dilihat jika dibandingkan pertandingan sepak bola yang cenderung tampak seperti adu fisik.

Ketika adzan maghrib berkumandang, kami segera membubarkan diri. Kami pulang ke rumah masing-masing. Pemandangan sunset yang indah menghiasi kepulangan kami dari lapangan sepak bola. Sebuah keindahan yang baru aku sadari ketika sudah lama meninggalkan desa ini.

Desaku punya sebuah bukit yang dinamakan Gunung jati. Selain ada pemakaman, ada juga beberapa pohon buah-buahan yang menggiurkan seperti Jambu Mente dan Trengulun. Ketika musim, kami enggak takut untuk mengambil Mente yang berjatuhan yang kemudian menggorengnya dan berlagak seperti chef di restaurant-restaurant. Karena dari biji mente yang pecah muncul minyak yang bisa terbakar api. Sehingga muncul api diatas penggorangen. Terkadang minyak mente tersebut dioleskan ke bagian tubuh untuk membentuk tato yang cukup awet di tangan.

Ketika musim Trengulun, beberapa pemilik Trengulun mendirikan gubuk di bawah pohon untuk makan bersama  teman-teman. Bahkan secara kadangkala aku menemukan trengulun tergeletak dan langsung ku bawa ke rumah teman terdekat untuk dinikmati bersama.

Jalan sebelum naik ke bukit pun, berjejer banyak Pohon kesoyo. Apabila berbuah dan sedang ingin makan kesoyo, seringkali temanku langsung mengambilnya empat sampai lima biji dan bilang “ini kesoyo punya kakekmu, enggak apa apa langsung ambil aja.” Memang sih, pemilik kebun tersebut masih ada hubungan saudara dengan nenekku, tapi aku sendiri enggak tahu gimana silsilahnya.

Selain itu pemandangan di atas bukit ini pun cukup cantik, pegunungan dengan pemandangan desa solokuro cukup indah untuk diabadikan dengan lensa kamera.

Selain itu pemandangan di atas bukit ini pun cukup cantik, pegunungan dengan pemandangan desa solokuro cukup indah untuk diabadikan dengan lensa kamera. Meski pemandangan yang belum kelihatan semua merupakan salah satu tempat bermain asyik untukku dan teman-teman.

Ketika musim bunga randu bermekaran, ada juga kegiatan malam hari yang kulakukan. Yaitu berburu Kalong. Kalong ini merupakan hewan sejenis kelelawar yang ukurannya cukup besar. Bermodalkan senapan angin kami menjelajahi kebun-kebun warga yang memiliki pohon randhu yang mekar. Karena meski kepala kalong ini mirip anjing dengan gigi yang runcing, hewan ini hanya memakan buah dan madu dari pohon randhu

Berbeda dengan berburu belut yang membutuhkan penerangan, untuk berburu kalong ini harus berani gelap dan menggunakan senter kekita mencari kalong yang sudah tertembak dan jatuh. Tidak jarang kalong yang tertembak, jatuh diatas pohon kelapa. Oleh karena itu biasanya ada 1 orang ahli memanjat yang ikut dalam rombongan. Tugasku cuma membawa kalong ketika mendapatkannya. 1 Kalong itu benar-benar berat lho.

Sesampainya di rumah biasannya kalong akan langsung di olah dan di makan, paru-paru kalong ini diyakini bisa menyembuhkan penyakit sesak nafas, sehingga jatah jeroannya selalu di persembahkan kepada nenek temanku. Meski rasa dagingnya cukup enak, masih ada aroma apek pada dagingnya meski sudah dimasak. Biasanya daging kalong ini dijadikan sup oleh temanku yang jago masak.

Teman-temanku dalam perburuan ini biasanya adalah bapak-bapak. Jadi jangan heran kalau mereka pandai menembak, karena biasanya memang ke sawah sambil bawa senapan untuk menembak burung yang bisa dijadikan lauk. Ada juga yang pandai memanjat, karena hampir tiap hari memanen kelapa di pohon orang orang untuk dijual di pasar. Dan karena aku termasuk yang paling kecil, bagiannya jadi anak bawang yang tugasnya juga enggak jelas.

Setiap beberapa bulan sekali aku datang ke daerah tersebut dan udah enggak pernah nemuin keseruan anak di jamanku. Sekarang banyak anak lebih suka bermain gadget daripada mandi di sungai sambil nggodain mbak mbak seragam putih abu-abu yang lewat. Sekarang memang berbeda dengan dulu, memang perubahan enggak bisa dihindari. Ah, sudahlah, biarkan perubahan itu mengalir saja.

Salam rindu masa lalu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here