Kedaulatan Itu Ada di Desa

1
107
Kedaulatan itu ada di desa. Gambar ilustrasi (sumber: https://www.facebook.com/adikurniawan1812)

0Shares
0

Pemanfaatan pola pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan selama proses budidaya juga mampu menurunkan angka kerusakan lingkungan serta meningkatkan hasil hasil pertanian untuk ke depannya sehingga dapat memberikan peningkatan nilai ekonomi dalam dunia pertanian itu sendiri. Dengan tujuan akhir agar setiap titik terbangun semangat untuk Berdikari, dan Lestari. Kita Berdaulat, tanpa Tapi!

Kampusdesa.or.id–Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas, hampir 70% wilayahnya adalah perairan, sedangkan 30% sisanya adalah daratan. Sumber daya alam negeri yg ada di garis khatulistiwa ini cukup melimpah, karena dilewati garis matahari sepanjang tahun sehingga suhu dapat terjaga untuk keberlangsungan hidup flora dan fauna wilayah tropis. Hasil dari sumber daya alam di wilayah perairan meliputi perikanan, sektor pariwisata, juga budidaya rumput laut. Sedangkan di daratan, hampir seluruh wilayah indonesia dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, negeri ini disebut sebagai negeri agraris.

Pertanian di indonesia berfokus pada produksi tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai (PAJALE) untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat indonesia. Produksi padi di negeri ini pada tahun 2017 adalah sebesar 81,3 juta ton, atau setara dengan 47,29 juta ton beras. Sedangkan jagung sebanyak 26,03 juta ton pada tahun yang sama.Produktivitas pangan nasional meningkat setiap tahunnya sejak tahun 2007-2017, akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan jumlah petani yang terus menurun setiap tahunnya, serta luas lahan yang sudah beralih fungsi dari pertanian ke sektor industri.

Berdasarkan data sejak tahun 2010-2017, prosentase penurunan jumlah petani sebesar 1,1% per tahun. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, karena apabila terjadi penurunan terus menerus, di masa depan indonesia akan mengalami krisis petani. Pada saat ini, jumlah petani hanya berkisar pada angka 25 juta orang petani yang menanam tanaman pangan untuk memenuhi jumlah penduduk indonesia yang sebanyak 250 juta orang. Atau sama halnya, 1 petani menanggung pangan 10 orang yang bukan petani. Penurunan jumlah petani ini diakibatkan banyaknya pemuda yang lebih tertarik untuk bekerja di sektor industri dan buruh sejak lulus SMA karena melihat sektor tersebut lebih menjanjikan daripada dunia pertanian.

Adapun petani yang tetap bertani sampai sekarang ini mayoritas pada umur 45-54 tahun dan lulusan SD, hal inilah yang menyebabkan regenerasi petani sangat lamban. Selain itu, kerusakan lingkungan di dunia pertanian juga meningkat, akibat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan ekologis tanah pertanian dan meninggalkan banyak residu pada tanah yang nantinya dapat mempengaruhi produktivitas tanah pertanian itu sendiri. Selain faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh nilai tukar petani yang memproduksi tanaman pangan. Penggarapan lahan oleh petani hanya berkisar pada angka 0,5 ha per petani, sehingga apabila dihitung dalam angka pendapatan, nilai yang diperoleh petani khususnya padi hanya berkisar antara 2,5-4 juta per musim tanam, atau setidaknya 625.000 rupiah/bulan. Nilai tersebut cukup rendah bila dibandingkan dengan UMR pekerja diseluruh indonesia yang rata rata di atas 1,2 juta rupiah/bulan.

Kenapa Bertani itu Penting?

Dunia pertanian dewasa ini menjadi trend positif dibeberapa negara maju, seperti Amerika, australia New zealand, dan Jepang. Banyak pemuda di negara-negara tersebut yang mulai aktif untuk bertani dan membentuk komunitas budidaya tanaman pangan, baik dibidang hortikultura maupun buah-buahan. Pertanian di negara maju sudah mengarah ke agro industri, yang difokuskan untuk produksi tanaman pangan untuk memenuhi pangan di wilayahnya sendiri. Selain itu, mereka juga sudah menerapkan sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan untuk menjaga kualitas produk mereka serta hasil paska panen dari pertanian itu sendiri.

Baca juga: Menyongsong Kedaulatan Tani

Penerapan sistem pertanian berkelanjutan ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat pangan juga menjadi hal utama dari suatu siklus hidup. Di Jepang, untuk menarik perhatian kaum mudanya, mereka menganut faham FOSHU (Food for Specific Health Used) atau pangan fungsional yang fungsinya lebih dari sekedar pangan, melainkan juga untuk kesehatan. Oleh karenanya, regenerasi petani di jepang cukup berimbang karena mereka bertani berdasarkan hobi serta manfaat dari produk mereka sendiri.

Apabila dibandingkan dengan di Indonesia, pemanfaatan lahan pertanian masih terbatas pada peningkatan produksi saja, sehingga sangat mengesampingkan keamanan pangan (Food Security) itu sendiri karena penggunaan obat-obatan kimia yang bisa memberikan efek buruk bagi kesehatan penggunanya.

Kembali ke Desa, Adalah Solusi

Banyak solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan jumlah produksi pangan, salah satunya adalah gerakan kembali ke desa. Gerakan ini mengajak pemuda pemuda untuk kembali ke desa serta menguatkan perekonomian pedesaan bersama-sama dalam sektor pertanian dan peternakan. Solusi ini menjadi perhatian khusus bagi Kurniawan adi, salah satu aktivis desa yang bergerak dipemberdayaandesa beserta komunitasnya. Kurniawan adi merupakan pemuda desa yang berasal dari desa Solokuro, Lamongan yang aktif pemberdayaan desa bersama komunitasnya yang bernama “SRI Organik Nuswantara” dengan slogannya “berdesa mendesa”. Makna dari “Berdesa Mendesa” itu sendiri adalah peran pemuda untuk menjadi bagian dari desa itu sendiri dan menjadi penggerak untuk memberikan perubahan yang positif pada desa-desa.

Aktivitas mereka sudah dimulai sejak 5 tahun terakhir ini dan dilakukan secara mandiri bersama-sama. Beberapa desa yang telah didampingi oleh kurniawan adi beserta komunitasnya tersebut adalah desa panggungharjo (bantul), desa ngompro (ngawi), desa ngadirojo (salatiga), desa bae(kudus), desakutawaringin (kuningan), serta desa-desa yang sedang dalam proses pendampingan seperti banyumas (purwokerto), dan beberapa desa di Majalengka.

Hal pertama yang menjadi perhatian mereka adalah perbaikan di sektor pertanian dari hulu sampai hilir di desa desa. Banyak keluhan petani yang diterima oleh mereka untuk dicari solusi secara bersama sama untuk memperbaikinya, contohnya hama dan penyakit yang sering membuat gagal panen petani akibat penggunaan obat-obat kimia pertanian yang tidak ramah lingkungan. Solusi yang ditawarkan mereka adalah sistem pertanian berkelanjutan serta ramah lingkungan untuk memperbaiki rantai ekologi agar tetap terjaga.

Foto: Keceriaan anak anak SMP, SMA dan SMK di desa Kutawaringin, kec. Selajambe, Kab. Kuningan Jawa Barat dalam proses bertani ramah lingkungan bersama komunitas SRI Organik Nuswantara

Solusi itu Ada di Lahan Kita Sendiri

Selain menjadi penggerak pedesaan, kurniawan adi juga merupakan salah satu pengelola bank benih lokal nusantara yang berada di lamongan. Benih lokal sendiri merupakan benih benih warisan leluhur yang sudah dibudidayakan sejak zaman dahulu kala sebelum kita mengenal bermacam-macam varietas tanaman baru yang dikeluarkan pemerintah, maupun perusahaan. Penggunaan benih yang tepat dengan kondisi lahan dan letak geografis lahan dapat memberikan manfaat seperti penurunan biaya produksi karena benih lokal lebih adaptif dengan kondisi lahan dan tidak memerlukan perlakuan khusus selama dibudidayakan.

Selain itu juga pemanfaatan pola pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan selama proses budidaya juga mampu menurunkan angka kerusakan lingkungan serta meningkatkan hasil hasil pertanian untuk ke depannya sehingga dapat memberikan peningkatan nilai ekonomi dalam dunia pertanian itu sendiri. Dengan tujuan akhir agar setiap titik terbangun semangat untuk Berdikari, dan Lestari. Kita Berdaulat, tanpa Tapi!

 

Foto: Lahan budidaya petani yang menggunakan benih dari Bank Benih Lokal Lamongan yang berada di desa Banjarmadu, kec. Karanggeneng Kab. Lamongan

*Artikel kiriman dari Kurniawan Adi. Seorang sarjana Biologi bidang Botani di Universitas Islam negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini yang juga founder & CEO Sedesa Farm. Sekarang berkiprah di dalam kegiatan pemberdayaan sosial secara mandiri melalui Organisasi PETANI (Persaudaraan Mitra Tani dan Nelayan Indonesia) dan dalam pemberdayaan desa bersama komunitas SRI Organik Nuswantara sejak tahun 2016. Selain itu, ia juga merupakan pelestari dan pemulia benih lokal yang tergabung dalam komunitas Benih Lokal Berdaulat (BLB) sejak tahun 2014. Hingga saat ini, ia tengah mengembangkan lumbung pengelolaan Bank Benih (Seed bank) Lamongan serta melakukan pelestarian benih-benih lokal asli nusantara.