Corona dan Dilema Bola Italia

0
153

0Shares
0

Akibat virus Corona pula, nun jauh di sana, negara Italia telah memberlakukan langkah ekstrem. Bila Arab Saudi menunda akses masuk jamaah umroh, Italia memberlakukan lockdown terhadap seluruh wilayahnya. Aturan ini berarti tidak adanya pertemuan yang terjadi di ruang publik hingga anjuran untuk menjaga jarak dengan orang sekitar, bahkan ketika beribadah.

Kampusdesa.or.id– Sejak presiden Jokowi mengumumkan bahwa 2 warga Indonesia positif terjangkit virus Corona, semakin hari jumlah pengidap virus tersebut di Indonesia kian bertambah. Dilansir dari laman kawalcovid19.id yang digawangi oleh Ainun Nadjib, inisiator situs kawalpemilu.org, jumlah pengidap virus Corona terkonfirmasi berjumlah 27 orang. Semakin bertambahnya pengidap virus Corona, mau tidak mau, membuat warga dunia makin waspada untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

Akibat virus Corona pula, nun jauh di sana, negara Italia telah memberlakukan langkah ekstrem. Bila Arab Saudi menunda akses masuk jamaah umroh, Italia memberlakukan lockdown terhadap seluruh wilayahnya. Aturan ini berarti tidak adanya pertemuan yang terjadi di ruang publik hingga anjuran untuk menjaga jarak dengan orang sekitar, bahkan ketika beribadah.

Dilansir dari Kompas, aturan ini diberlakukan oleh PM Italia Giuseppe Conte hingga 3 April mendatang. Keputusan ini terpaksa diambil setelah Italia mengalami lonjakan jumlah pengidap virus Corona, dimana 9.172 orang telah terinfeksi. Jumlah ini membuat Italia berada di urutan kedua terjangkit virus Corona setelah Tiongkok, disusul Korea Selatan, Iran, Perancis, Spanyol dan Jerman.

Akibat dari adanya lockdown tentu memberi efek yang tidak sepele. Banyak sendi kehidupan manusia akan terganggu. Salah satunya sepak bola. Maklum, Italia punya sejarah bagus dalam dunia sepak bola. Italia pernah jadi kiblat dunia sepak bola di era 1990-an. Klub-klub asal Italia begitu mendominasi gelaran sepak bola level Eropa macam piala UEFA serta Liga Champions. Sejak periode 1989 hingga 2007, tercatat klub Italia melenggang hinga fase final sebanyak 11 kali.

Kini, sepak bola Italia harus menghadapi dilema baru.

Kini, sepak bola Italia harus menghadapi dilema baru. Italia yang sedang berusaha memperbaiki wajah sepak bolanya akibat skandal pengaturan skor (Calciopoli), harus menghadapi kemungkinan tidak adanya juara liga pada tahun ini. Hal ini dikarenakan kompetisi Serie A resmi ditangguhkan hingga 3 April nanti.

Ditangguhkannya kompetisi Serie A menuntut para pengurus FIGC (federasi sepak bola Italia) segera mengambil sikap. Bila FIGC ingin mengakhiri kompetisi ini, langkah paling masuk akal adalah memberikan gelar juara pada Juventus, yang saat ini sedang memimpin klasemen sementara Serie A, terpaut 2 poin dari Lazio di urutan kedua. Hal ini menjadi opsi karena akan sangat sulit mengatur ulang jadwal pertandingan setelah jeda selama sebulan.

Selain itu, Italia juga termasuk negara penyelenggara piala Eropa 2020. Tidak seperti piala Eropa edisi sebelumnya, piala Eropa tahun ini diselenggarakan di beberapa negara, yaitu Belgia, Denmark, Republik Irlandia, Belanda, Rumania, Skotlandia dan Spanyol untuk babak 16 besar. Sedangkan negara Rusia, Italia, Jerman dan Azerbaijan kebagian menjadi tuan rumah fase grup dan perempat final. Sedangkan Inggris menjadi tuan rumah untuk partai puncak.

Tidak hanya Serie A, FIGC perlu segera mengambil sikap untuk level lainnya seperti Serie B dan Serie C. Sepertinya akan ada kemungkinan, peserta Serie A musim depan akan mendapat tambahan 3 tim teratas dari Serie B. Sebagai gantinya, 3 tim terbawah Serie A otomastis terdegradasi menuju Serie B, seperti tahun-tahun sebelumnya. Atau, tidak ada sistem degradasi pada tahun ini, penyematan gelar juara pada masing-masing Serie mengacu pada urutan klasemen yang sudah ada. Bila opsi kedua diambil untuk musim depan, maka masing-masing tim dari tiap Serie akan menjalani lebih banyak pertandingan daripada musim sebelumnya.

Dengan demikian, semua harus menerima segala kemungkinan. Termasuk dalam hal ini, sepak bola. Tentu tidak semua orang menginginkan adanya situasi runyam ini. Sepak bola (harus) ikut legawa dengan keputusan apapun yang menyertainya.