Karantina Hewan, Biogas dan Kemaslahatan Umat

0
52
Agus Mulyono, Dosen peneliti sekaligus penemu beberapa produk berbahan dasar lokal, meninjau kaleng biogas dari tempat karantina hewan

Masalah menjadi peluang. Masalah menumpuknya kotoran sapi di Karantina Hewan di pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur, berbuah manis setelah kotoran tersebut diambil energinya melalui optimalisasi reaktor biogas. Al-hasil, reaktor biogas dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Jadilah biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor.

Setiap hari kamis sore, puluhan sapi, kerbau, kambing datang dari pulau Sepudi lewat pelabuhan Kalbut, Situbondo, Jawa Timur. Sapi-sapi tersebut transit di karantina hewan yang letaknya persis sebelahan rumah kami. Hanya dibatasi dengan pagar pendek.

Sapi sapi tersebut kemudian didistribusikan ke beberapa tempat dalam beberapa hari. Tentunya selama penampungan di sini, sapi-sapi itu keluar masuk untuk di kirim ke berbagai lokasi.

Hari Kamis sore, datang lagi puluhan sapi, kerbau dan kambing. Begitu seterusnya. Karena saking banyaknya distribusi tersebut, tempat ini seperti penampungan sapi yang menyisakan berbagai sampah yang tentunya menggangu. Termasuk kotoran sapi.

Kotoran sapi begitu menumpuk. Dibiarkan mengering. Selanjutnya dibakar oleh petugas karantina. Begitulah rutinitas yang dilakukan oleh petugas. Kotoran dianggap mengganggu dan pada akhirnya ditempatkan kedalam persepsi sebagai obyek persampahan. Yah, di lokalisir, ditimbun lalu di bakar.

Namun, ketika hal-hal yang dianggap sampah dan mengganggu, ternyata seluruh kotoran sapi tersebut bisa lo diambil manfaat. Wah, keren kan kalau kita bisa memanfaatkan kembali sesuatu yang kita sampahkan menjadi tidak lagi dianggap sampah. So pasti. Apalagi pengubahan manfaat itu bisa untuk orang banyak, bahkan mampu membantu menekan biaya pengeluaran. Ini akan hebat sekali.


Baca juga : Terapi Gratis dengan Air Laut untuk Berbagai Kesehatan Tubuh


Nah, kotoran sapi yang awalnya hanya dibakar dan menambah polusi, lalu dicoba dimanfaatkan dengan baik. Potensi menarik dari kotoran sapi tersebut yakni dimanfaatkan untuk biogas atau juga untuk pupuk organik.

Disinilah kemudian kami membuat sendiri reaktor biogas skala rumah tangga guna memanfaatkan kotoran sapi yang sangat melimpah. Perlahan, kotoran sapi mulai jadi barang yang berguna, dari semula hanya sebatas sampah belaka menjadi barang yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi siapapun.

Setelah berbagai pendukung berhasil dirakit, instalasi reaktor biogas berhasil terwujud di area sekitar karantina hewan di Kalbut, Situbondo. Sebuah keajaiban yang luar biasa. Dengan adanya reaktor biogas ini, beberapa orang pada akhirnya bisa menggunakannya untuk bahan bakar kompor-gas. Dengan demikian, beberapa orang yang mengambil manfaat dari situ mereka sudah tidak perlu lagi membeli gas untuk menyalakan kompor.

Dan yang lebih penting lagi, reaktor biogas yang kami buat bisa dilihat dan kemudian dicontoh oleh para peternak sapi di sekitar tempat kami. Hampir setiap rumah rata rata memelihara dua sapi ssehingga berikutnya tidak tergantung lagi pada tabung tabung gas melon yang kadang kadang langka dipasaran.

Memberi contoh lebih dahulu untuk hal-hal perubahan masyarakat jauh lebih penting daripada mengajak masyarakat. Apalagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan perilaku yang menetap atau sama sekali baru. Sangat sulit dan butuh banyak waktu untuk menumbuhkan kesadaran baru, seperti pembuatan olahan biogas dari kotoran sapi ini.

Maka salah satu metode yang terbaik untuk mengawali perubahan perilaku positif dan produktif di masyarakat tidak lain adalah langsung memberi contoh. Proses ini di sebut sebagai modeling. Seseorang langsung ditunjukkan bukti riil dan manfaat riilnya.

Kita tidak perlu berceramah di sana sini. Ketika bukti itu dianggap menarik dan menjadi barang baru, maka orang-orang akan penasaran dan akhirnya mulai bertanya atau meniru.

Kita tidak perlu berceramah di sana sini. Ketika bukti itu dianggap menarik dan menjadi barang baru, maka orang-orang akan penasaran dan akhirnya mulai bertanya atau meniru. Nah, ketika peristiwa ini terjadi, maka momentum perubahan masyarakat akan bergerak dan menular. Di sini kita bisa langsung terlibat dalam proses-proses kreatif tersebut bersama masyarakat lain. Seperti inilah perubahan itu bisa dilakukan lebih mudah, tanpa riak-riak konflik pemahaman, apalagi konflik kepentingan. Kalau sudah tahu manfaatnya, jelas setiap orang akan berkepentingan atas manfaat biogas tersebut.

Itulah yang disebut sebagai inspirasi.

Dan kedepan, kampung kami bisa menjadi kampung mandiri energi karena banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk energi alternatif.

Situbondo, 7 Oktober 2018

Tulisan diedit-ulang dan disempurnakan oleh Mohammad Mahpur dari akun instagram Agus Mulyono GM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here