Kapan Seharusnya Karir Itu Dirintis?

2
106

Ya, kapan seharusnya karir itu dapat dirintis. Sebagian kalangan terdidik, karir dapat dirintis setelah mendapat ijazah yang menurutnya bergengsi dan bisa mendapatkan pekerjaan dari lembaga penyedia kerja. Mereka yang lolos seleksi pada akhirnya yang menang memulai karir di sebuah perusahaan, atau lembaga lain yang menggajinya. Tetapi mereka mesti menunggu umur di usia lulus sarjana S-1. Sebagian ada yang lulus SMA dan SMK yang bisa diterima di sebuah perusahaan dan lain sebagainya?

Jika tidak semata tergantung pada ukuran formal sekolah, kapan sih sebenarnya karir generasi itu dapat dimulai? Apakah generasi yang tidak mengandalkan sekolah formal tetap bisa merintis karir? Atau pertanyaan lanjutannya, apakah karir melulu diukur dari kepemilikan ijazah dan setelah itu baru menentukan nasib karir dari ijazah tersebut? Coba kita cermati dulu, pemilik perusahaan facebook merintis aplikasi jaringan sosial yang merajai sistem jejaring global di dunia interner, mencetuskan sistem aplikasi sebelum dia lulus sarjana S1.

Mark Zuckerberg yang belajar di universitas Harvard, menemukan cikal-bakal facebook yang hari ini merajai halaman internet di komputer atau handphone ketika dia masih kuliah. Ada juga seorang yang ketika belum lulus SMA sudah memulai berbisnis tahu. Meski pada awalnya merasa terpaksa, tetapi saat memasuki kuliah, dia sudah memiliki pabrik tahu kecil-kecilan. Cerita ini saya peroleh di Pesantren Rakyat Sumberpucung Kabupaten Malang. Hal ini mengingatkan saya semasa hidup di usia sekolah menengah yang menyukai uji-coba membikin pesawat radio dan tape-recorder dan merakit sendiri. Saya tidak sendiri. Saya belajar dari kawan seusia yang juga belajar belajar otodidak perakitan elektronika sehingga menghasilkan perangkat radio FM dan perangkat tape recorder. Waktu itu, dia sudah mulai ada pesanan untuk reparasi radio, termasuk saya di usia sekolah menengah atas. Belajar otodidak ini sejalan juga dengan pelajaran elektronika. Saya berusaha mencari sumber pengetahuan dari buku sekolah untuk saya cocokkan dengan teknik merakit radio atau tape.

Teman saya kemudian menekuninya hingga mengambil sejumlah kursus elektronika sehingga dia jadikan tumpuhan hidupnya hingga sekarang. Dia sudah bisa mencari nafkah melalui pemberian jasa reparasi elektronika, sementara saya tetap hidup dalam kelas tanpa mendapat pemasukan. Dia tentu semakin mahir dengan otodidaknya dan saya tenggelam dengan ilmu pendidikan. Berdasarkan pengalaman ini, sejatinya ketrampilan diri sebagai miniatur karir dapat dimulai sejak usia sekolah menengah atas. Sejumlah penelitian juga membuktikan bahwa orientasi karir dan pengambilan keputusan karir menuju masa depan sudah terbentuk sejak SMA (Halida, 2014; Aisyah, 2015) dengan nilai kapasitas berkisar 50 sd 70 persen. Ini menggambarkan sebenarnya pemikiran dan keputusan merancang masa depan sudah mampu diambil sejak usia sekolah menengah atas. Berpijak dari trend karir yang sudah muncul sejak SMA, niscaya karir sebenarnya sudah bisa dibentuk sejak dini yang mampu meningkatkan kesempatan sukses lebih awal daripada menunggu legitimasi ijazah, tetapi hal itu seolah tidak mampu diwujudkan apalagi bagi yang berlanjut hingga mengambil studi strata-1

Ada catatan menarik yang saya baca di tempo.co (diunggah pada Rabu, 04 Mei 2016 | 18:49 Wib). Angka pengangguran di Indonesia pada tahun terakhir 2016 mencapai 7,02 juta orang. Pengangguran meningkat justru pada lulusan kejuruan (9,05 % ke 9,84 %) dan sarjana S-1 (5,34 % ke 6,22 %).[1] Semakin tinggi akses pendidikan warga negara seharusnya semakin lebar peluang serapan kerja untuk generasi Indonesia, tetapi mengapa hal itu berbanding terbalik ? Padahal kesiapan orientasi masa depan dan inisiasi karir sudah bisa dibangun sejak usia setera SMA, bahkan di SMA telah ada mata pelajaran bimbingan karir. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi sejak SMA antara lain;

Pertama, bimbingan karir merupakan pendidikan yang tidak sebatas bermuatan akademik dengan semata berpaku pada wawasan karir. Bimbingan karir berorientasi memaksimal bakat sekaligus memberikan keleluasan remaja untuk membangun kepercayaan diri terhadap bakat yang dimiliki. Para generasi didorong untuk mengungkapkan apa yang disukai dan diberi kesempatan untuk mengembangkan sesuai dengan target yang ditentukan sendiri. Pembelajaran karir dengan demikian menggunakan pendekatan praktis yang mengutamakan kreatifitas dan inovasi bakat.

Kedua, pembelajaran sebaiknya juga memberikan praktik bukan semata-mata mengambil cara hanya bekerja di sebuah lembaga yang pakemnya sudah ditentukan berdasarkan standar, tetapi para generasi difasilitasi untuk mencipta, apalagi jika mereka juga difasilitasi mengembangkan kreasinya untuk dipublikasikan ke khalayak. Cara seperti ini akan melahirkan kepercayaan diri karena ada ruang untuk menghargai atau mengapresiasi potensi pembelajar. Cara seperti ini terbukti dapat dilakukan oleh sejumlah remaja yang memiliki bakat dan minat yang kuat terhadap suatu karya. Kita banyak tahu, penelitian yang terkait dengan hasil karya kreatifitas remaja lahir dari pikiran-pikiran anak-anak setingkat SMP dan SMA. Dalam arti kata, mereka sudah mempunyai kemampuan daya cipta. Bahkan saya mendengar, ada lampu pijar otomatis yang dapat menjadi cadangan ketika listrik di rumah padam, lahir dari tangan-tangan remaja-remaja sekolah menengah kejuruan.

Ketiga, lingkungan karir adalah lingkungan yang harus dibangun oleh guru dan sekolah, bahkan dapat bekerjasama dengan organisasi, lembaga atau perusahaan yang mampu memfasilitasi unjuk karya, bukan menampung kerja mereka setelah mereka lulus. Pembelajaran karir dengan demikian tidak cukup hanya memberikan wawasan tentang karir tetapi menciptakan lingkungan yang berkesinambungan agar karya bisa diproduksi dan dipamerkan ke khalayak umum. Lingkungan karir memberikan peluang karya anak-anak bisa dikenal oleh pasar dan proses belajar adalah aktifitas inovasi atas minat-minat yang dikembangkan oleh mereka.

Berdasarkan pemikiran tersebut, pertanyaan di judul artikel ini dapat dijawab bahwa karir dapat dirintis semakin matang ketika remaja yakni menginjak tingkat sekolah menengah atas karena mereka sudah memiliki kesadaran tentang karir. Ada tantangan yang cukup berat adalah menyelaraskan kesadaran karir tersebut agar berkesinambungan dengan penguatan karya sebagai miniatur karir bagi setiap pembelajar sehingga pengetahuan yang dipelajarinya relevan dengan kesadaran karir. Melalui pemahaman baru ini, saya optimis, pengangguran terdidik dapat dicegah karena mereka tidak tergantung pada penerimaan kerja dari lembaga, organisasi atau perusahaan tertentu, tetapi didorong mereka berinisiatif membangun karir dengan daya kuasa yang berkemandirian.

Referensi hasil penelitian dan website

Aisyah, Siti (2015) Hubungan self esteem dengan orientasi masa depan pada siswa SMA kelas XI di SMA Negeri 3 Malang. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim ; Malang

Halida, Arfin Nurma (2014) Hubungan konsep diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XII SMKN 1 Jenangan Ponorogo tahun ajaran 2013-2014. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim : Malang

https://m.tempo.co/read/news/2016/05/04/173768481/bps-pengangguran-terbuka-di-indonesia-capai-7-02-juta-orang. Rabu, 04 Mei 2016 | 18:49 WIB

[1] https://m.tempo.co/read/news/2016/05/04/173768481/bps-pengangguran-terbuka-di-indonesia-capai-7-02-juta-orang. Rabu, 04 Mei 2016 | 18:49 WIB

2 COMMENTS

  1. Dear. .. pak Mahpur,

    Kalau saya mau nyumbang tulisan tentang pemberdayaan masyarakat bisa kah?

    Arif,
    Field Facilitator di PRISMA
    (Promoting Rural Integrated Farming, Small Enterprise Cluster, and Microfinance Access)
    Yayasan Sahabat Cipta, Jakarta
    Kalimantan Operasion (KLO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here