Kader Generasi Z, Pembawa Warna dan Corak Baru Dalam Muhammadiyah

0
292

Generasi muda Indonesia saat ini diisi oleh generasi Y (generasi millenial) dan generasi Z. Generasi Z didefinikasikan oleh badan statistik kanada (2011) dan McCrindle Research Center (2013) sebagai generasi yang hadir di era internet, sehingga sejak lahir sudah menikmati keajaiban teknologi sebagai dampak dari kehadiran internet. Internet sendiri hadir di Indonesia secara komersional sejak 1994, sehingga generasi Z dianggap sebagai generasi yang hadir tahun 1995 -2010, dengan kata lain saat ini berusia 8-20 tahun.

Kampusdesa.or.id- Keberadaan generasi Z di Indonesia tentunya juga mempengaruhi keorganisasian di dalam tubuh Muhammadiyah. Generasi Z seiring berjalanannya waktu menjadi pengisi dan dituntut menjadi penggerak pada Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah. Hal ini telah terjadi di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) karena memiliki berat usia 12-24 tahun.

Generasi Z dengan adanya pengaruh teknologi serta internet memiliki tipiikal yang khas dan berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Kebiasaan, pola komunikasi, hingga potensi dan tantangan dengan diisinya persyarikatan oleh generasi Z tentu akan berbeda dengan keadaan di mana  persyarikatan degerakkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Keadaan tersebut dapat dipastikan akan menciptakan banyak warna dan corak baru di dalam tubuh Muhammadiyah.

Secara sederhana, contoh yang dapat diambil adalah kebiasaan pertemuan Ortom (terutama IPM) yang sangat dinamis, tidak seperti ayahanda Muhammadiyah dan ibunda ‘Aisyiyah yang memiliki jadwal pertemuan tetap. Kader-kader generasi Z cenderung menyesuaikan jadwal perpekan sesuai luangnya  waktu, tanpa menentukan jadwal tetap karena dinamisnya agenda hingga pekerjaan yang lazim oleawai h kader-kader generasi Z. Selain itu, penggunaan (gadget) di kalangan kader-kader generasi Z sangat masif, sehingga undangan rapat dan dan undangan pertemuan-pertemuan lain banyak mengandalkan ponsel dan internet untuk penyebarannya.

Perlu dicermati pula, 90% akses internet oleh generasi Z dilakukan dengan menggunakan gawai terutama ponsel, sehingga  kehidupan generasi Z bergantung pada ponsel.

Penggunaan Teknologi: Generasi Z  memiliki frekuensi akses internet yang sangat tinggi, yaitu 3-5 jam per hari. Perlu dicermati pula, 90% akses internet oleh generasi Z dilakukan dengan menggunakan gawai terutama ponsel, sehingga  kehidupan generasi Z bergantung pada ponsel. Kader-kader generasi Z menjadi sangat mengandalkan ponsel untuk segala aktivitasnya mulai dari dari kebutuhan secara umum hingga segala aktivitas organisasi.

Media resmi menjadi penting seiring dengan meningkatnya frekuensi generasi Z mengakses internet setiap harinya. Pengunaan media menjadi sarana dakwah terbaik bagi generasi Z. Hal ini merupakan peluang yang perlu dikembangkan. Akun-akun media sosial dapat menjadi penyebar informasi resmi secara cepat dan murah, sehingga kemudian menembus batas-batas geografis dan struktur organisasi yang sering kali membuat penyebaran informasi menjadi lambat dan mahal.

Pengunaan media menjadi potensi yang perlu dikembangkan secara maksimal, karena penggunaan akun-akun resmi media sosial belum menjadi kesadaran di tubuh Muhammadiyah. Muhammadiyah secara organisasi memiliki aktivitas medsos yang lebih rendah dibanding Nadlatul Ulama dan Organisasi-organisasi Islam konservatif yang begitu aktif menguanakan media sosial sebagai alat dakwah.

Penggunaan teknologi tidak terbatas pada internet untuk berbagi informasi, melainkan juga digitalisasi secara umum. Dalam hal ini, Muhammadiyah telah memulai pelaksanaannya, seperti e-voting yang dilakukan pada muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah,  muktamar Nasyiatul Aisyiyah, juga Muktamar IPM. Beberapa permusyawaratan di tingkat wilayah dan dibawahnya juga telah mulai dilakukan baik Muhammadiyah maupun Ortom. Penggunaan e-voting akan makin dibutuhkan terutama pada kalangan ortom dengan keberadaan generasi Z yang sadar media sebagai penggerak organisasi.

Generasi Z lebih akrab dan tertarik dengan agenda-agenda yang interaktif dan partisipatif sehingga penyampaian tidak bersifat satu arah.

Pola Perkaderan dan Keorganisasian: Kader-kader generasi Z sebagai generasi paling muda di dalam pergerakan Muhammadiyah akrab dengan kebudayaan non-formal, tidak terlalu  menuntut protokol organisasi yang kaku dan mengikat. Generasi Z lebih akrab dan tertarik dengan agenda-agenda yang interaktif dan partisipatif sehingga penyampaian tidak bersifat satu arah. Dalam dinamika organisasi, pembahasan tertentu juga melulu dibahas lewat rapat, melainkan dapat dilakukan dengan kordinasi ringan melalui grup pada aplikasi perpesanan seperti Whats’App dan LINE.

Tidak hanya model keorganisasian, keberadaan kader-kader Z. Pun akan berpengaruh pada perkaderan dalam Muhammadiyah dan Ortom. Generasi Z yang akrab dengan teknologi akan membuka kemungkinan penggunaan teknologi dalam rupa digitalisasi guna mengurangi biaya, mengurangi waktu hingga menghemat penggunaan kertas. Digitalisasi memungkinkan untuk dilakukan pada perkaderann formal baik pra, saat pelaksanaan, hingga pasca-perkaderan formal.

Dalam pra acara, pendaftaran  dapat dilakukan dengan mengguanakan formulir online ketimbang Offline. Saat pelaksanaan, penilaian, pembagian materi, hingga evaluasi sangat memungkinkan untuk dilakukan secara Online. Hingga pada pasca-perkaderan, rencana tindak lanjut yang dipilih dapat berupa rencana-rencana yang terkait dengan aktivitas media hingga digitalisasi dalam tubuh organisasi.

Penggunaan internet dan media sosial bagai dua sisi mata uang, potensi dan tantangan tersedia seiring dengan menjamurnya penggunaan media dan teknologi.

Tantangan Dakwah Masa Depan: Penggunaan internet dan media sosial bagai dua sisi mata uang, potensi dan tantangan tersedia seiring dengan menjamurnya penggunaan media dan teknologi. Kesulitan-kesulitan seperti beratnya publikasi dan penyampaian informasi  secara umum tidak akan lagi menjadi masalah karena berkembangnya teknologi. Penggunaan surel hingga media sosial membuat informasi dapat tersebar secara lebih cepat sehingga membuat batas-batas geografis tak begitu berarti.

Sebaliknya, tantangan cukup berat juga menghampiri. Kemudahan akan akses informasi membuat berita bohong (hoax) dan kabar-kabar yang belum teruji kebenarannya  dapat dengan mudahnya tersebar. Tak berhenti di situ. Pornografi, kekerasan, hingga radikalisme dan terorisme juga begitu aktif menggunakan internet dan media sosial.

Hal-hal buruk teresebut menjadi faktor yang dapat merusak moral generasi muda terutama generasi Z di Indonesia. Oleh sebab itu, keadaan ini menjadi ladang dakwah kader generasi Z, yaitu mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat agar tidak dengan mudahnya terjebak apalagi menyebarkan dan mereproduksi hoax dan konten-konten buruk lainnya.

Kader-kader generasi Z dengan budaya yang melekat pada diri mereka saat ini  telah mengisi Ortom Muhammadiyah. Di masa depan, kader-kader generasi Z  akan menjadi pengisi dan penggerak Muhammadiyah secara langsung keadaan, kebiasaan, dan budaya kader-kader generasi Z akan memberi warna baru bagi Muhammadiyah. Warna baru tersebut kelak yang berpengaruh pada corak pergerakan dan nafas Muhammadiyah di masa mendatang. Sehinga, perhatian pada segala hal terkait generasi Z perlu dipahami, diperhatikan, dan diakomodasi oleh Muhammdiyah.