Jangan Ragu untuk Bermimpi, Ia adalah Persahabatan untuk Mewujudkan Cita-Cita

0
23

Di rentang waktu ada pengalaman yang mengajarkan, ada penerimaan yang menyamankan dan ada kesabaran yang menguatkan. Betapa ukuran sukses seseorang itu tidak semata ditentukan oleh materi.

Suatu hari menjelang puasa romadhon tiba, aku sibuk pekerjaan rumah, bersih bersih disambi cuci baju. Saking semangatnya sesi terakhir cuci seprei, tak menyadari HP putri sulungku ikut terbawa dan terendam air beberapa saat.

Baru menyadari ketika si empunya hp mencari. Aku spontan terkejut dan segera mengecek di bak cucian. Ya ampun..benar ada hp. “Ah yang benar bu” terdengar anakku menyahut dari kamar seakan tak percaya.

Aku panik dan menyesal gara gara tidak teliti. Anakku terpana ibunya membawa HP yang basah. “Maafkan ibu nak, ibu gak teliti. Trus gimana ini HPmu kan rusak kerendam air. dikeringkan pakai hairdryer bisa gak ya,” aku mencoba mencari solusi saking bingungnya.

Anak gadisku kulihat matanya agak berkaca kaca. “Gak apa apa bu, ibu gak usah sedih. Ambil hikmahnya saja mungkin supaya aku fokus pada sidang komprehensifku hari Senin depan. Biar aku gak terganggu HP, nanti pinjam hp jadulnya ibu aja yang cuman untuk telpun dan sms.” Dan seketika rasanya mak jleb.

Aku ingat di daftar mimpi anak gadisku, dia menulis. “Aku ingin membuat ibu menangis karena bangga.” Dia punya mimpi ingin foto di depan Menara Eiffel dan tahun kemarin mimpi itu terwujud bersamaan tugas Summer School di Denhag, Belanda. Selalu ada jalan Tuhan yang menyambungkan.

Waktu itu aku hanya bangga anakku bisa melihat Menara Eiffel dari dekat tapi tidak menangis. Dan sekarang aku tak perlu menunggu engkau sampai sarjana nak, spesial hari ini ibumu menangis karena bangga, melihat anaknya telah mampu bersikap tenang dan sabar.

Bagiku ini adalah kekayaan hati yang perlu dirawat dan disyukuri. Bukankah anak masih akan menempuh perjalanan panjang dan berliku?

Ada tantangan dan kesulitan menghadang, anak sebaiknya sudah memiliki kunci, yaitu kesabaran dan rasa menerima. Perlu pengalaman dan latihan.

Hal ini pernah dialami anakku 15 tahun yang lalu ketika TV dirumah rusak. Awalnya menjadi hal yang tidak mengenakkan karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesenangan.

Dengan pemahaman secara perlahan bahwa apa yang kita miliki adalah “hak pakai” sementara yang sewaktu waktu bisa hilang, rusak atau diambil paksa, maka rasa kehilangan itu bisa diterima seiring kita mampu mengelola emosi kita dan cara berpikir kita

Diposting kembali dari status facebook dengan seijin pemilik akun @sucilestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here