Iqra’: Fondasi Peradaban yang Terlupakan

0
109

Ada hal mendasar yang dilupakan umat Islam hari ini, yaitu iqra’ atau perintah membaca. Perintah ini mengandung hikmah besar yang sangat berguna bagi perkembangan perdaban manusia. Sayangnya, hanya segelintir umat Islam yang menyadarinya. Apa dan bagaimana hikmah dari iqra’? Bagaimana sikap kita seharusnya?

KampusDesa-Satu di antara keistimewaan bulan Ramadan adalah merupakan waktu diturunkannya al-Qur’an kepada manusia di muka bumi ini. Tepatnya pada malam ke-17.

Kehadiran al-Qur’an di tengah kehidupan manusia tidak lain adalah untuk membantu manusia menemukan jalan menuju Tuhannya, Dzat yang hanya kepada-Nya kelak manusia berpulang.

al-Qur’an memuat prinsip-prinsip dan pesan-pesan fundamental-universal yang jika diterapkan, dapat mengantarkan manusia ke kebahagiaan hakiki

Sebagai kitab pedoman hidup, al-Qur’an memuat prinsip-prinsip dan pesan-pesan fundamental-universal yang jika diterapkan, dapat mengantarkan manusia ke kebahagiaan hakiki. Tentu jika manusia mau menggali prinsip-prinsip dan pesan-pesan mulia tersebut.

Satu di antara prinsip-prinsip dan pesan-pesan mulia yang diajarkan al-Qur’an kepada kita adalah iqra’. Sebagaimana diketahui, kata ini merupakan pembuka proses turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril di Gua Hira. Kata iqra’ diwahyukan bersama rangkaian ayat lain yang kemudian dikenal dengan nama Surah al-‘Alaq.

Jika direnungkan sejenak, kita akan bertanya-tanya, mengapa perintah Allah yang pertama kali diturunkan kepada manusia adalah iqra’ yang tak lain merupakan perintah membaca? Mengapa bukan perintah beriman? Bukan pula perintah syahadat, salat, puasa, dan sebagainya? Mengapa membaca?

Di sinilah keunikan al-Qur’an. Hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya amat luas dan dalam. Diturunkannya ayat pertama ini di samping berkaitan dengan kondisi dan situasi yang saat itu dihadapi Nabi, juga tentu mengandung hikmah yang dalam dan luas.

Terkait kondisi dan situasi yang dihadapi Nabi, waktu itu beliau tengah dalam keadaan yang bingung dan prihatin atas perilaku kaumnya yang berada dalam belenggu ke-jahiliyah-an. Beliau membutuhkan petunjuk agar dapat menyadarkan kaumnya dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus.

Allah kemudian memerintahkan Nabi untuk membaca. M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan, ayat pertama ini tidak menyebutkan objek bacaan, maka dari itu, kata iqra’digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya. Dan karena objeknya yang bersifat umum, maka objek tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik yang merupakan bacaan suci yang bersumber dari tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun tidak tertulis.

Dari sini dapat dipahami bahwa, sebagai jawaban atas keresahan, kegundahan, dan keprihatinan Nabi atas kaumnya adalah Nabi harus membaca. Yaitu membaca ayat-ayat Allah, tidak hanya yang tertulis, namun juga yang terserak di segenap ciptaan-Nya di alam raya ini. Perintah membaca ini kembali ditegaskan Allah dalam ayat ketiga.

melalui membaca manusia mengenal Tuhannya dan mengetahui jalan untuk “sampai” kepada-Nya

Melalui kegiatan membaca, baik itu ayat-ayat Allah yang tertulis maupun yang tersirat di alam raya ini, manusia telah memperoleh pemahaman dan penemuan yang berkembang dari masa ke masa. Pemahan dan penemuan tersebutlah yang menjadi material pembangun peradaban. Dan yang terpenting, melalui membaca manusia mengenal Tuhannya dan mengetahui jalan untuk “sampai” kepada-Nya.

Kemajuan peradaban Islam abad pertengahan mustahil tercapai, jika umat Islam kala itu tidak mau membaca

Kemajuan peradaban Islam abad pertengahan mustahil tercapai, jika umat Islam kala itu tidak mau membaca. Sebagaimana diketahui, genarasi Islam kala itu merupakan generasi yang haus ilmu. Mereka berlomba-lomba belajar, mencecap ilmu sebanyak-banyaknya. Berusaha sekuat tenaga memahami ayat-ayat Allah yang terserak di alam raya. Tak heran jika peradaban Islam waktu itu mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mampu memberikan sumbangsih besar pada peradaban dunia.

Umat Islam harus menjadikan iqra’ sebagai falsafah hidup. Iqra’ harus kembali menjadi fondasi peradaban

Maka, jika kita menghendaki peradaban Islam kembali mencapai masa kejayaannya, tidak ada jalan lain selain membudayakan kembali iqra’. Umat Islam harus menjadikan iqra’ sebagai falsafah hidup. Iqra’ harus kembali menjadi fondasi peradaban. Sehingga kebekuan akademik dan kemunduran peradaban yang mendera saat ini bisa segera teratasi.

Al-Qur’an dipahami secara kaku dan formal-tekstual. Yang penting dalam berislam bagi mereka adalah tampilan.

Celakanya, sebagian umat Islam justru mengambil jalan yang keliru. Demi membangkitkan kejayaan Islam, mereka menabuh genderang perang. Jihad dimaknai secara dangkal. Al-Qur’an dipahami secara kaku dan formal-tekstual. Yang penting dalam berislam bagi mereka adalah tampilan.

Bukankah sikap demikian justru merubuhkan peradaban Islam?

Lamongan, 21 Mei 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here