Ini Lima Sikap Orangtua yang Menentukan Tumbuhkembang Anak Autisnya

0
277

Tumbuhkembang seorang anak amat dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan orangtuanya. Utamanya anak-anak dengan gangguan tumbuhkembang seperti autis. Progres tumbuhkembang mereka akan baik, manakala orangtuanya peduli dan terlibat. Sebaliknya, jika orangtuanya apatis, tumbuhkembang mereka akan stagnan. Autisi menjadi terdiskriminasi dan termarjinalkan oleh orangtuanya sendiri.

Kampusdesa.or.id-Setiap orang tua tentu mengharapkan anaknya akan lahir sempurna, sehat, dan cerdas. Aku yakin tidak ada orang tua yang berharap akan mempunyai anak autis, bahkan membayangkannya pun tidak. Bukankah kita selalu berdoa yang baik-baik saat anak kita masih dalam kandungan? Namun kadang kenyataan berkata lain, tuhan menitipkan anak autis kepada orang tua yang dikehendakinya. Sikap orang tua menghadapi kenyataan ini pun berbeda-beda.

“Mereka aktif  mencari informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan atau seminar, dan berusaha melanjutkan apa yang sudah terapis/guru ajarkan pada buah hatinya di rumah”

Setidaknya ada 5 sikap orang tua berkenaan dengan pendidikan atau terapi anak autisnya. Sikap pertama adalah peduli dan terlibat, yaitu orang tua yang begitu antusias dan bersemangat mengikuti alur dan perkembangan yang dialami sang anak serta berusaha menambah ilmu untuk membantu agar putra/putrinya terus progres. Para orang tua tipe ini umumnya sangat rasional dan pantang menyerah. Mereka aktif  mencari informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan atau seminar, dan berusaha melanjutkan apa yang sudah terapis/guru ajarkan pada buah hatinya di rumah.

Sikap kedua adalah peduli, dimana orang tua mendukung  perkembangan si buah hati dengan memberikan segala fasilitas yang dibutuhkan, namun menyerahkan semuanya kepada dokter, guru atau terapisnya. Baginya tidak masalah mengeluarkan biaya banyak yang penting anaknya suatu saat bisa tumbuh dan berkembang seperti anak umumnya. Keterlibatan mereka untuk membersamai proses perkembangan sang anak sangat rendah. Bagi  orang tua tipe ini,  toh anaknya sudah ditangani oleh ahlinya.

Sikap ketiga yaitu agak peduli, dimana orang tua mendukung dan memberikan fasilitas namun hanya setengah-setengah. Saran dan anjuran dokter dan terapis atau gurunya tidak dilakukan sepenuhnya. Misalkan dianjurkan untuk diet demi menormalkan sistem metabolisme tubuh putranya tapi tidak dilakukan secara konsisten. Maka, ketika sang putra tidak ada perkembangan sesuai dengan apa yang diharapkan, mereka menyalahkan dokter dan terapis/gurunya. “Anakku ditangani dokter A kok tidak ada perubahan ya?” atau “Anakku, aku terapikan di Y kok tidak ada perkembangan?”. Padahal perkembangan autis memerlukan kerjasama antara orang tua, dokter, dan guru/terapis.

“Autisi/anak autis yang mempunyai tipe orang tua seperti ini sudah tentu sulit progres”

Sikap selanjutnya adalah sedikit peduli. Mereka  memberikan fasilitas kepada buah hatinya tetapi tidak menjadikannya sebagai prioritas utama. Mereka akan lebih mendahulukan hal-hal yang dianggapnya lebih penting. Artinya, progres anak kurang mendapatkan perhatian, sehingga autisi/anak autis yang mempunyai tipe orang tua seperti ini sudah tentu sulit progres. Kalaupun ada perkembangan pasti sangat minimal.

Sikap terakhir adalah orang tua yang hopeless alias tidak mempunyai harapan terhadap anak autisnya. Baginya semua sudah tidak ada yang pelu dilakukan lagi, lebih baik fokus terhadap pendidkan  anak yang menurutnya “normal” karena harapannya lebih besar. Orang tua tipe ini sebenarnya egois, melakukan diskriminasi terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus. Padahal sudah tentu tidak ada anak yang mengharapkan dirinya terlahir autis.

“Diperlukan orang tua yang pembelajar dan penuh semangat menjalani proses tumbuh kembang anak autisnya”

Dari kelima sikap orang tua tersebut, hanya sikap pertama yang ideal dalam menyikapi pendidikan anak autis. Diperlukan orang tua yang pembelajar dan penuh semangat menjalani proses tumbuh kembang anak autisnya. Antara orang tua, dokter, dan terapis/guru harus bersinergi agar anak autis bisa progres semaksimal mungkin. Kalau anda, termasuk tipe yang manakah dalam menghadapi penanganan anak autis anda?