Ingatlah Allah; Jangan Menuhankan Virus Corona!

0
1863

0Shares
0

Belakangan ini dunia digemparkan oleh wabah virus yang mengakibatkan infeksi pernapasan serupa SARS dan MERS atau organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutnya dengan nama Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Menurut situs resmi WHO virus yang sebelumnya bernama novel coronavirus (2019-nCoV) ini pertama kali dideteksi di pusat Kota Wuhan, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019.

Kampusdesa.or.id–Tercatat jumlah penderita yang terbaru dari web https://www.worldometers.info/coronavirus/ (per tanggal 07 Maret 2020 pukul 22.00 WIB) dengan total 104.144 kasus, kematian 3.526 orang, dan pulih atau sembuh sebanyak 58.559 orang. Sampai sekarang pandemi virus ini tercatat telah menyebar di 98 negara dan teritori di seluruh dunia serta satu alat angkut internasional berupa kapal pesiar Diamond Princess di Yokohama, Jepang.

Dalam kasus ini, kita secara tidak langsung menyadari bahwa sungguh betapa lemahnya manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan Yang Maha Perkasa. Tidaklah sangat jelas jika manusia itu dilarang sombong. Karena Allah SWT juga sudah berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” [QS. An-Nisa: 2]

Pertanyaannya sekarang, belajar dari setiap musibah baik bencana maupun penyakit itu apakah di sini umat manusia sedang diuji atau Allah sedang menurunkan adzab-Nya kepada manusia yang dzalim? Tentu kita sebagai hamba harus bersikap sabar dan selalu interopeksi disertai khusnudzon terhadap setiap ketentuan dari Allah SWT.

Kasus Virus Corona di Indonesia

Kembali kepada kasus corona ini. Saya memiliki beberapa kawan yang sedang studi di Wuhan, terutama tiga di antaranya berasal dari tempat asal saya, yakni Lamongan. Melalui media sosial dan berita daring saya beberapa kali komunikasi dengan mereka dan cukup mengikuti perkembangan pemerintah Indonesia dalam menanggapi peristiwa ini. Terutama saat berhasil mengevakuasi 238 WNI dari Wuhan kembali ke Tanah Air sampai masa observasi selama 14 hari di Natuna.

Meskipun kebijakan tersebut banyak kalangan yang menentang karena tidak sesuai dengan metode isolasi dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang telah diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf RA. Rasulullah bersabda, “Bila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri.” [HR. Bukhari].

Bahkan sejumlah warga Natuna melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, seperti yang dilansir Berita Antara pada Sabtu (1/2/2020).

Mengutip dari Tirto.id (4/2/2020), polemik dan kekhawatiran ini sudah ditanggapi oleh pemerintah melalui Menko Polhukam, Mahfud MD. Beliau mengatakan bahwa pemerintah menjamin bahwa penyelesaian pemulangan warga negara Indonesia di sana, itu dilakukan dengan akurat dan tidak membahayakan masyarakat Natuna.

Selain itu Mahfud juga berjanji pemerintah akan menangani dengan secermat-cermatnya masalah yang sedang berlangsung dan menjamin komunikasi akan terus dilakukan dengan masyarakat Natuna. Semua WNI yang baru saja dievakuasi dari Tiongkok dalam keadaan sehat dan telah melaksanakan standar internasional usai berada di daerah yang terjangkit virus corona. Akan tetapi perlu menjalani karantina selama 14 hari sebelum boleh pulang ke kampung masing-masing.

Saat data WHO menunjukkan Indonesia termasuk negara yang tidak terdampak (zero cases) virus corona, Indonesia menjadi bahan sorotan dunia dan muncul banyak pertanyaan serta berbagai spekulasi mulai dari dianggap memang sengaja ditutupi, lemahnya proses skrining, atau tidak memiliki alat yang cukup memadahi sehingga hasilnya false negative, dan lain sebagainya.

Namun ketika pemerintah Indonesia kali pertama –tanggal 02 Maret 2020 mengumumkan 2 orang yang positif terdeteksi virus corona. Hal ini memicu ketegangan publik saat banyak media rame-rame mengonfirmasi dan ternyata benar bahwa Indonesia positif terdeteksi virus corona. Sehingga mulai saat itu resmilah Indonesia masuk ke dalam peta sebaran virus corona global. Dan pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Penanganan Corona, Achmad Yurianto baru-baru ini mengumumkan pasien positif COVID-19 di Indonesia bertambah 2 orang lagi pada Jumat (6/3/2020). Itu artinya total orang positif kena virus corona di Indonesia sebanyak 4 orang.

Dengan adanya informasi dari pemerintah tersebut, tentunya diharapkan masyarakat Indonesia bisa lebih mengantisipasi, saling waspada, dan dapat melakukan langkah-langkah preventif yang dianjurkan oleh Kemenkes ataupun World Health Organization (WHO) sehingga virus ini tidak menyebar ke mana-mana. Tentu tidak diobati ataupun memakai jamu bikinan sendiri, tanpa diketahui khasiatnya (belum terbukti secara klinis).

Sikap Media dan Kepanikan Masyarakat Indonesia

Sangat disayangkan beberapa media dan bahkan beberapa lembaga kesehatan sendiri malah merilis identitas mereka. Tindakan semacam ini justru kurang elok. Mari belajar dari masyarakat Tiongkok, mereka lebih memilih saling menyebarkan informasi positif ketimbang informasi provokatif yang menimbulkan parno berlebihan. Di samping itu, watak sebagian besar masyarakat Indonesia suka menjadikan hal-hal demikian sebagai bahan candaan bahkan bully-an.

Tidak kalah penting di sini, statement yang keluar dari beberapa pejabat publik maupun publik figur juga harus hati-hati dan dijaga. Agar tidak membuat masyarakat bingung dan gaduh. Begitu pula terhadap beberapa media baik cetak dan elektronik tidak seharusnya mem-blow up berita yang cenderung menakut-nakuti masyarakat. Karena efek panik sejatinya lebih berbahaya terhadap cirus atau penyakit itu sendiri.

Sebagaimana analogi yang dikisahkan novelis Anthony de Mello: Wabah sedang menuju ke Damaskus dan melewati suatu kafilah di padang gurun. “Mau ke mana, begitu tergesa-gesa?” tanya kepala Kafilah. “Ke Damaskus. Saya mau merenggut seribu nyawa,” jawab Wabah. Sekembalinya dari Damaskus. Wabah itu bertemu lagi dengan Kafilah itu. Kepala Kafilah berkata, “Engkau merenggut 50.000 nyawa, bukan hanya 1000.” Kata Wabah, “Tidak, saya hanya mengambil seribu. Yang lain disebabkan oleh ketakutan.

Dalam peristiwa serupa, orang bijak Arab pernah bertutur demikian:

‏خوفك من المرض .. هو مرض

خوفك من الفقر .. هو فقر

خوفك من المصائب ،، مصيبة أكبر منها

اترك الخوف وتحلى باليقين والرضا

الخوف طريق الوهم

واليقين طريقك إلى الله

Khawatirmu terhadap penyakit.. itulah penyakit.

Khawatirmu terhadap kefakiran.. itulah kefakiran.

Khawatirmu terhadap musibah.. itulah musibah yang lebih besar.

Tinggalkan kekhawatiran, dan hiasilah diri dengan keyakinan serta keridhoan.

Kekhawatiran adalah jalannya ilusi dan khayalan.

Sedangkan keyakinan adalah jalanmu menuju Allah Yang Maha Rahman.

 

Mengingat akan hal itu, sebagai umat Islam jangan sampai tergoda oleh setan dengan kepanikan dan ketakutan yang berlebihan. Momen seperti ini pasti dimanfaatkan oleh mereka agar kita salah langkah dan naudzubillah sampai-sampai menuhankan virus corona itu sendiri. Setiap hari yang diingat adalah virus corona disertai ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Jangan biarkan corona “masuk” ke dalam hati kita.

Penyakit hati sesungguhnya lebih berbahaya karena menyebabkan hati kita mati tidak kenal dan lupa kepada Allah. Kita akan celaka dunia akhirat. Ingat, virus corona bukan Tuhan dan tidak ada apa-apanya sama Allah SWT sang pemilik dan pencipta segala macam di dunia ini termasuk virus corona itu. Umat Islam tidak boleh takut dan ragu menghadapi penyakit. Semua perintah-Nya kita lakukan dan bermunajat meminta perlindungan kepada Allah setiap malam. Kita harus yakin bahwa yang mengangkat dan mengindarkan semua ini hanya Allah SWT. Maka, hanya takutlah terhadap Allah.

Untuk mengurangi kepanikan berlebihan, kita sebagai kaum muslim terpelajar juga harus bisa bersikap dewasa dan bijak dalam bermedia sosial. Lebih pandai lagi dalam memilah dan memilih mana konten negatif dan mana konten positif. Kita berikrar untuk tidak ikut menyebar informasi-informasi yang malah menimbulkan ketakutan apalagi berita-berita bohong (hoaks). Sebaiknya juga kita mengajak bersama-sama melawan virus corona dengan melakukan langkah-langkah baik dhohir maupun batin.

Tips Menghadapi Virus Corona

Sebagai umat Islam, kepanikan yang berlebihan tentu tidaklah perlu. Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan menganjurkan membaca ayat kursi sebanyak 313 kali. Dibaca setelah wirid shalat maghrib sebagai benteng (proteksi) diri terhadap segala bala penyakit diniati minta kepada Allah untuk menolak penyakit termasuk virus corona.

Habib Novel Alaydrus juga memberikan ijazah doa yaitu membaca Shalawat Tibbil Qulub. Dengan demikian, insyaallah kita dapat dilindungi oleh Allah dari segala macam penyakit. Saya yakin banyak umat Islam terutama kalangan Nahdliyin (NU) pasti familiar dengan shalawat ini.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا. وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا. وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Artinya: “Ya Allah curahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya.

Penulis juga mengutip ceramah dari Habib Syech Assegaf yang diunggah di kanal Youtube Mohammad iSyeikh (channel milik Mohammad Bagir bin Syekh Assegaf, putra Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf) pada tanggal 05 Maret 2020 –yang kemudian di-reupload di berbagai akun Syeikhermania dan Asbabul Mustofa. Habib Syech memberikan nasehat di situasi genting seperti ini kita tentu harus lebih meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan percaya dengan orang-orang yang menakut-nakuti. Perbanyak saja shalawat, istighfar, dan beliau mengamanahkan untuk membaca dzikir rotibul hadad atau rotibul athos.

Beda halnya dengan Majelis Ulama Indonesia dan PBNU menganjurkan umat Islam untuk menjaga wudlu dan melalui selebaran resmi mengajak untuk membaca doa qunut nazillah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasullullah tatkala menghadapi petaka dan tragedi pelik.

Senada dengan anjuran wudlu, Rasulullah SAW berabad-abad silam sudah “weruh sedurunge winarah (dalam bahasa Jawa artinya mengetahui kejadian sebelum terjadi). Nabi Muhammad SAW bersabda “Di akhir zaman nanti aka nada banyak wabah dan penyakit melanda manusia di dunia, hanya umatku yang terhindar karena memelihara wudlunya.” [Hadist Riwayat At-Thabrani]

Selain doa-doa di atas, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan satu doa untuk kesembuhan dari penyakit yang ada pada diri sendiri. Doa ini terdapat dalam hadits riwayat Imam Muslim atau juga bisa memakai doa yang dibacakan Nabi Ayub saat Nabiullah ini diuji Allah dengan mendapat penyakit. Seperti yang diabadikan dalam QS. Al-Anbiyaa ayat 83.

Di samping tawakal, tentu kita harus mengimbangi dengan upaya ikhtiar, salah satunya dengan bershadaqah diniatkan untuk menolak balak (assodaqotu lidaf’il bala’). Dikarenakan vaksin virus ini belum ditemukan, tentu kita juga harus belajar mengetahui bagaimana gejala klinis serta penanganannya yang tepat, dan mematuhi anjuran dari Kemenkes RI untuk mengikuti pedoman dari WHO tentang kesiapsiagaan menghadapi infeksi novel coronavirus.

Pada poin terakhir ini pemerintah seyogyanya harus hadir di sini menyediakan fasilitas medis seperti masker, hand sanitizer, dan melakukan kampanye pola hidup sehat secara gratis. Sehingga tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang egois dan tidak manusia dengan memborong sembako dan menjual masker dengan harga selangit.

Akhir kata, apapun wabah yang melanda, kita harus menghadapinya dengan selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur dan bersabar dalam ridha Allah dan selalu berdoa agar ditetapkan hati kita di atas agama Allah SWT. Sehingga tatkala ajal menjemput kita mati dalam keadaan beriman, dijamin meninggal khusnul khotimah. Setiap manusia pasti akan mati. Kita tidak bisa lari terhadap kematian baik ditakdirkan karena virus ataupun dalam kondisi apapun.

Mulai sekarang mari kita menghadapi virus dan penyakit dengan terus menggalakkan pola hidup sehat, berpikir positif, dan terus berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan, kemudahan, dan keselamatan di manapun kita berada. Allahumma aamiin.