Home NEWS Indonesia Menatap Masa Depan

Indonesia Menatap Masa Depan

0
144

Ada banyak kata, ada banyak cerita, dan ada lebih dari jutaan harapan bagi negeri ini, Indonesia, yang kata Oppenheimer adalah mantan induk perdaban termaju, Atlantis namanya. Apakah benar Indonesia adalah atlantis? Ah, bukan tugas kita menjabarkannya. Tugas kita adalah berkarya, untuk ‘Izzah Muslimin yang menjejakkan kaki di atas kepulauan raksasa ini.

Kampusdesa- Bagi kawan yang belum benar-benar mengenal negeri kita sendiri, mari kita mengenalnya lebih dalam. Indonesia, negeri zamrud ini disebut warga dunia sebagai Negara kepulauan terbesar dan lautan terluas di dunia. Jumlah pulaunya tak tanggung-tanggung, ada 17.504 pulau, itu sudah termasuk 9.634  pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau tak berpenghuni.

Ada lebih dari 740 suku bangsa yang menganyam harapan hidup di negeri besar yang pertama kali merdeka setelah perang dunia II ini. Sekali lagi, terbanyak di dunia. Wajar saja para negarawan dunia begeleng kepala menyaksikan rakyat negeri ini begitu tumpah ruah berbeda, tetapi nuraninya bicara persatuan.

Sudah cukup? Agar kita dapat menerka lebih dalam lagi, mari kita eksplorasi kekayaanya. Hari ini, negeri ini adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Jenis terumbu karang di Indonesia  adalah 18% dari total seluruh tumbuh karang yang ada di dunia. Jika Arab Saudi punya minyak saja dan mereka meraja: jika Turki punya wisata yang banyak dan mereka kaya Indonesia punya lebih dari itu. Indonesia punya semua elemen-elemen  kekayaan, dan sebenarnya negeri ini beserta rakyatnya adalah yang paling kaya.

“Apakah kelemahan kita?” begitu Bung Karno berorasi saat Hari Ulang Tahun RI tahun 1966, “Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri. Kita kurang memercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong.”

Ada tanda Tanya besar yang belum dipecahkan hingga kini. Ketika India bangkit dan hari ini membuat kapal selam juga mengorbitkan pesawat ruang angksanya. Indonesia masih  berjibaku dengan serangkaian kasus korupsi dan krisis moril, padahal keduanya memulai dari waktu yang sama. Bahkan, ketika dulu India sedang sakit, Indonesialah yang mengekspor berton-ton beras untuknya.

Ada tanda Tanya besar. Ketika hari ini Malaysia bangkit dan menyuarakan pembaharuan, juga memulai modernisasi pendidikan yang futuristIK, Indonesia masih disibukkan dengan serumpun onak berduri untuk menuju pendidikan layak bagi setiap warga Negara. Indonesia masih dihadapkan dengan kasus buku pelajaran yang menerbitkan artikel-artikel tidak sopan. Padahal ketika dulu Malaysia sedang memulai langkah, mereka gencar mendatangkan tenaga pendidik dari negeri ini.

Ada tanda Tanya besar. Hari ini Korea Selatan begitu gencar meriset teknologi perang dan terus memperbarui kualitas angkatan bersenjatanya. Di saat yang sama, Indonesia makin kehilangan giginya di kancah militer kawasan pasifik dan Oseania. Lagi-lagi kita memakai kata “padahal”. Ya, padahal dulu negeri ini begitu disegani dengan gelar macan Asia yang sukses melempar mundur pemenang perang Dunia II dari Medan Surabaya. Asia bergetar!

Indonesia menatap masa depan. Di uatar, Tiongkok sedang mempersiapkan agenda besar mengalahkan Amerika sebagai raja ekonomi dunia, tinggal beberapa langkah menuju gelar raksasa ekonomi 2020. Di dekat Aceh, Singapura terus menambah luas daratannya, membeli pasir dari Batam dan menyulap lautan menjadi tempat berpijak. Kesiagaan mereka berbuah aneka penghargaan. Changi Airport begitu melegenda, Singapura City begitu padat dengan gedung-gedung futuristiknya.

Di sebelah selatan, Australia terus menghimpit dan bermain-main di perairan Indonesia. Dengan semaunya melakukan penyadapan, meremehkan kekuatan militer Indonesia.

Di sebelah selatan, Australia terus menghimpit dan bermain-main di perairan Indonesia. Dengan semaunya melakukan penyadapan, meremehkan kekuatan militer Indonesia. Di baratnya, negeri-negeri Timur Tengah hanya dengan satu sumber daya minyak, berhasil menggeser dominasi ekonomi Uni Eropa. Mereka memeebeli klub-klub liga primier, membangun Burj Dubai yang berates meter tingginya, dan menyulap air laut menjadi minuman pelepas dahaga.

Pada saat yang sama, ketika pemuda-pemudi Tiongkok sibuk merakit handphone dan laptop sebagi industry rumahan: ketika remaja Zionis Israel berkopetisi menjadi doctor di usia yang semuda mungkin: dan ketika anak-anak jepang membuat robot-robot untuk melengkapi tugas sekolah mereka sebelum libur dengan sinetron khayal yang bercerita tentang pendekar menaiki naga yang menyemburkan api. Lalu dilanjutkan dengan berbagi kontes dari jam tujuh sampai larut malam.

Ada apa dengan Indonesia.

Belum lama ini, sebuah riset menggambarkan secara gambling keadaan rohani Indonesia kita.  Dari sekian ratus juta warga Muslimin yang hidup di Negara tertua ke-70 sedunia ini, yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik hanya ada 35 persen dari total keseluruahan. Angka yang pilu, hanya segelintir di antara ratusan juta Muslimin yang hidup di bumi Indonesia.

Kesadaran membaca anak-anak juga masyarakat masih lebih lemah di banding negeri tetangga. Jumlah penghafal Al-Qur’an di Indonesia ada sekitar 40.000, masih jauh disbanding dengan 185 juta rakyat Muslim lainnya.

Angka kesimpulan yang satu ini juga sudah merebak. Indonesia yang besar ini hanya memiliki sumber daya entrepreneur sebesar 1,65 persen, kalah berkali lipat dengan Amerika Serikat yang sampai 13 persen. Kesadaran membaca anak-anak juga masyarakat masih lebih lemah di banding negeri tetangga. Jumlah penghafal Al-Qur’an di Indonesia ada sekitar 40.000, masih jauh disbanding dengan 185 juta rakyat Muslim lainnya.

Ada apa dengan Indonesia?

Negeri ini sedang sakit. Sakitnya amat parah. Namun, ia masih menyakini ada harapan di hari-harinya yang akan dating. Harapan itu masih ada, dan ia  benar-benar merindukannya. Apa daya, di dalamnya ada sejumlah rakyat yang mencoba menjualnya ke musuh-musuh yang tamak lagi loba. Di atas tubuhnya, berjalan manusia-manusia angkih yang membuat perih punggungnya.

Primary self destruction. Ada tangan-tangan zalim yang ingin merusak kekayaan negeri mereka sendiri. Terbukti dengan mengepulnya asap hitam menggelembung dari Kalimantan. Hutan-hutan ditebang. Disusul kabut pekat yang menyelimuti gedung pemerintahan. Jarang ada kebeningan. Tangan-tangan zalim sedang menggerogoti tubuh negeri mereka sendiri.

Trade off model. Anak pribumi sendiri menjual negerinya demi kepentingan pribadi. Saham-saham perusahaan Negara dijual ke negeri asing yang tak bertanggung jawab, sekedar mengenyangkan perut sesaat. Menjual masa depan generasi muda dengan menyiarkan film-film porno, menebar majalah-majalah asusila, membumikan gaya hidup hedonis, hanya demi kepentingan pasar yang sesaat. Dampaknya kemudian, moral negeri ini tergilas.

Dan yang paling riskan, jauhnya rakyat dari agama. Berkali-kali sejarawan dari sosiolog menyimpulkan, masyarakat yang maju dan berbudaya tinggi selalu dimulai dari keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah.

Maka, apa yang kini dilakukan Indonesia?

Indonesia menatap masa depan, dan kita perlu sebuah gebrakan besar untuk merevisi ulang sugesti rakyat yang hidup didalamnya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri  beriman dan bertakwa, pastilah kami  akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)

Saatnya agen-agen perubahan yang bekerja, seperti power Rangers yang dating ketika masalah menerjang kota, ketika monster-monster dating mengancam semua. Para pelopor perubahan melihat Indonesia sebagai mutiara raksasa yang harus diselamatkan dan dikembangkan menuju tempatnya yang sebenarnya: tinggi, bijaksana, berwibawa, dan kaya-raya.

Kata kuncinya: kembali ke jalan yang telah dilalui pejuang-pejuang kita, sebagaiman ungkapan Mohammad Natsir, “peradaban Islamlah yang lebih dulu membuka jalan medan politik  kemerdekaan di tanh ini, yang mula-mula menanam bibit persatuan Indonesia yang menyingkirkan sifat-sifat kepulauan dan keprovinsian.”

Kepada mereka, Indonesia merindu. “Buka mata! Buka mata! Buka Otak! Buka telingga! Perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari hal ini semuanya agar saudara-saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan tanah air!” terang Soekarno

Agen-agen perubahan tempo dulu melalui jalan yang berbeda-beda, tetapi menuju satu tujuan: kedaulatan Indonesia. Yang akan dilalui agen perubahan zaman ini sebenarnya sama saja, hanya targetnya digeser lebih luas lagi: mengantar Indonesia menuju gelar Guru Dunia!

Syaikh Nawawi al-Bantani adalah agen perubahan yang memotori internasionalisme Indonesia. Menjadi Imam Besar Masjidil Haram di Mekkah al-Mukarramah di tempo dulu dan dan membuat buku taktik perang gerilya yang bahkan hari ini dijadikan salah satu kurikulum oleh tentara Indonesia. Agen perubahan yang satu ini adalah ulama polymath, ahli dalam banyak bidang. Semangatnya mengepul dan menginspirasi rakyat Indonesia.

Agen-agen perubahan bekerja di dimensi apa pun, dan di sector mana pun, lalu mengantar Indonesia menuju kemerdekaan dari semua segi kehidupan. Mari menyambut pendahulu kita merancang perubahan: HOS Tjokroaminoto. Mujahid ekonomi, mijahid politik, dan mujahid orator yang digelari “Raja jawa tanpa mahkota”. Singa podium ini menggerakkan kaum Muslimin dalam satu suara, lalu menjadi ancaman riskan bagi keberadaan penjajah yang haus dunia.

Ia pernah menjadi juru tulis, menjadi pekerja di pabrik gula, menjadi wartawan, kolumnis, dan entrepreneur pengendali urat nadi ekonomi jawa. “Orang tersebut adalah Tjokro, yang punya mata elang, kumis melintang, bicara lantang, dan punya visi serta misi dalam perjuangan hidupnya,” tulis Herry Mohaammad.

Banyak lagi pendahulu agen perubahan yang menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menaklukkan dunia. Orang-orang yang tadi kita bahas sekelumit, mereka bekerja tanpa mengimpilkan gaji. Jangankan gaji, mereka bekerja sekuat tenaga, kadang-kadang dibalas cerca dan remehan canda tawa. Namun selalu begitu tabiat agen-agen perubahan. Pada awalnya dirutuki dan dimusuhi tetapi di akhir kisah, mereka akan dikagumi dan diikuti.

“If your actions inspire to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.”

 

 

WordPress 5.2.1 is available! Please notify the site administrator.

Edit Post

Add New


Word count: 1374 Draft saved at 3:03:06 am. Last edited by Faatihatul Ghaybiyyah on June 15, 2019 at 5:45 pm
Status: Published Edit status
Visibility: Public Edit visibility
Published on: Jun 15, 2019 @ 17:38 Edit date and time
Publicize: Not Connected Edit

Separate tags with commas

  •  Belajar
  •  Filosofi Hidup
  •  Indonesia
  •  kampus desa indonesia
  •  masa depan

Paste a video link from Youtube, Vimeo, Dailymotion, Facebook or Twitter it will be embedded in the post and the thumb used as the featured image of this post.
You need to choose Video Format from above to use Featured Video.

Notice: Use only with those post templates:

  • Post style default
  • Post style 1
  • Post style 2
  • Post style 9
  • Post style 10
  • Post style 11

Click the image to edit or update

Remove featured image

Post template: ?

Primary category: ?

If the posts has multiple categories, the one selected here will be used for settings and it appears in the category labels.

Sidebar position: ?

Custom sidebar: ?

Default Sidebar
Subtitle: This text will appear under the title
Quote on blocks: Show a quote (only when this article shows up in blocks that support quote and only on blocks that are on one column)
Source name: This name will appear at the end of the article in the “source” spot on single posts
Source url: Full url to the source
Via name: Via (your source) name, this will appear at the end of the article in the “via” spot
Via url: Full url for via
  • Choose Slide Template
    selected=’selected’

Add comment

No comments yet.

Add Media

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here