Ikhwal Memberi Di Daerah Pedesaan

0
178

Memberi memang tak seharusnya berharap balasan. Namun demikian, banyak orang yang salah dalam memahami arti dari memberi itu sendiri. Memberi, berbagi akan sebagian hal yang kita punya tanpa seharusnya mengharapkan imbalan dari apapun. Pemahaman ini yang kadang disalah artikan bagi sebagian orang hingga mengurangi arti dari ikhwal memberi itu sendiri.

Kampusdesa.or.id–Bagaimana caranya agar memberi itu memang merupakan suatu kegiatan yang menunjukkan tindakan ikhlas dan tampa pamrih? Setidaknya yang terpikir dalam otak saya ada dua. Pertama, kalau memberi sebaiknya ditujukan pada orang yang memang membutuhkan dan dikondisikan bahwa ia tak bisa membalas dengan pemberian yang justru merepotkannya.

Kadang ada orang yang kita beri dan kita bantu, dan mereka sibuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengupayakan bagaimana caranya mereka membalas kebaikan kita. Bahkan ketika mereka sebenarnya tak punya sesuatu untuk diberikan, mereka “mengada-ngadakan” sesuatu yang seharusnya tak “diadakan” untuk diberikan pada kita. Pada hal barang yang “diada-adakan” itu sendiri sangat mereka butuhkan.

Kedua, dan ini yang terbaik, memberi tanpa harus membuat bahwa yang diberi tahu siapa yang memberi. Kenapa, yaitu tadi, agar tidak perlu ada “kesibukan” dari si terberi untuk membalas kebaikan si pemberi. Di sini, tidak perlu menunjukkan identitas si pemberi adalah yang terbaik. Pada saat yang sama, si pemberi yang tak perlu dan tak butuh untuk dipandang berjasa oleh si penerima bantuan.

Rekomendasinya adalah: Bantulah orang tanpa harus membuat dirimu diketahui oleh si pemberi. Kenapa ia harus tahu? Agar ia mengucapkan terimakasih dan kamu kemudian merasa berjasa, sehingga jiwa sok pahlawanmu meningkat dan kamu sombong karena itu? Agar kalau ia tahu bahwa kamu yang memberi ia akan memujamu dan ia mudah menuruti permintaanmu?

Memberi, konon merupakan salah satu tindakan yang membuat manusia mendapatkan pahala.

Konsep memberi yang saya angkat dalam tulisan ini saya buat umum saja. Dengan memberi contoh pada konteks tertentu, mudah-mudahan bisa menjelaskan ikhwal memberi yang konon juga merupakan salah satu tindakan yang membuat manusia mendapatkan pahala.

Memberi memang tak seharusnya berharap balasan. Tapi memberi jelas menimbulkan konsekuensi: Yang kita beri merasa terbantu dan umumnya mengucapkan terimakasih. Orang yang dibantu kadang ingin membalas kebaikan kita. Bahkan ada orang yang jika diberi, maka akan balik memberi.

Orang yang memberi akan diberi.

Seperti bulan puasa ini: Kita memasak ayam kampung, dan tetangga sebelah rumah kita kasih 4 potong daging ayam yang kita masak. Besoknya, tetangga tersebut memberi kita setengah kilo ikan laut segar karena baru saja mendapat rejeki. Saudaranya yang menjadi nelayan pantai selatan datang dan membawa ikan berkilo-kilo dan ia membagikan ikan itu pada kita.

Orang yang memberi akan diberi. Yang diberi dan memberi sama-sama mampu. Hingga pemberian hanyalah pertukaran dari barang-barang yang berbeda saja. Esensinya, yang memberi dan diberi sama-sama akan memberi karena mampu memberi.

Ada orang yang jika diberi akan kembali memberi karena malu jika tidak membalas budi. Sampai di sini, yang ada kadang bukan budaya memberi, tapi budaya balas budi. Ini tradisi yang kemudian mendominasi. Di pedesaan sini, daerah pedesaan di Trenggalek, tradisi itu jelas-jelas terjadi. Dalam tradisi “becekan”, misalnya. Saat ada orang yang punya “gawe” (“nduwe gawe”) seperti acara hajatan pernikahan, misalnya. Orang desa akan mengingat apakah orang itu dulu “mbecek” ke kita.

Kalau iya, maka orang yang pernah “dibeceki” ini akan “mbecek” juga. Bahkan ia akan menyiapkan uang ditaruh amplop yang akan disumbangkan sebanyak sumbangan uang yang dulu ia terima dari yang pernah “mbecek” ke rumahnya saat “nduwe gawe”. Uang yang disumbangkan setimpal dengan yang pernah diterima sebelumnya.

Maka di kalangan orangtua, hampir semuanya punya catatan pada buku yang menunjukkan siapa yang pernah “mbecek” saat orang tersebut dulu “nduwe gawe”. Maka buku ini akan dibuka saat musim hajatan. Ketika mengetahui bahwa ada orang satu kampung atau satu desa yang punya hajat, maka ia akan memastikan apakah orang tersebut dulunya pernah mbecek saat ia dulu punya hajat. Dilihat pula berapa sumbangannya.

Saya pernah mendengar dialog antara beberapa orang di musim becekan. Seseorang bertanya pada temannya, “Si Suto nduwe gawe. Sampean gak mbecek?”

Jawaban dari yang ditanya adalah: “Ora sudi mbecek. Wong biyen pas aku mantu ora dibeceki kok. Pada hal yo sik mambu dulur lho aku karo dekne ki!”—Tradisi ini sepertinya mengarah tradisi yang berbahan logika berpikir seperti ini: “Jika kamu memberi aku, aku akan memberimu!”

Memberi karena diktum tradisi.

Kalau kita rasakan, seperti ada semacam aspek ketidakikhlasan dalam memberi. Memberi ya karena harus memberi karena balas budi. Memberi karena diktum tradisi. Bukan karena kesadaran yang muncul secara spontan karena empati yang alamiah.

Di kalangan teman Jomblo, pernah juga saya mendengar omongan seperti ini: “Aku mbecek, ben sok dibeceki!”—Pada konteks ucapan itu secara jelas memuat logika bahwa orang akan menyumbang agar nanti ia juga akan disumbang orang yang diberi sumbangan itu.

Pada hal, orang memberi—jika tujuannya adalah pahala—seharusnya dilakukan secara ikhlas dan tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan. Kebaikan dilakukan demi kebaikan, bukan demi balasan. Dan hal ini tampaknya sulit. Kita melakukan sesuatu pada suatu objek dengan tujuan agar objek tersebut juga memberikan manfaat pada kita.

Lelaki yang berpunya secara material akan berusaha mendapatkan tubuh seorang perempuan dengan cara “menyogok” si perempuan dengan pemberian-pemberian, perhatian-perhatian, kebaikan-kebaikan, rayuan-rayuan dan janji-janji, iming-iming. Ia memberikan kebaikan dan memberikan barang-barang dengan tujuan untuk menakhlukkan hati dan pikiran perempuan dengan harapan akhir si perempuan akan bisa menuruti apa yang ia mau. Bukan cinta yang menjadi semangat, tapi aspek ingin menguasai dan ingin memanfaatkan. Tujuan akhirnya adalah nafsu si pemberi itu sendiri.

Lucunya, seat saya masih kecil, ada kisah di mana beberapa gadis desa yang terjebak dengan ilusi pemberian dan perhatian dari laki-laki yang menyamar sebagai laki-laki kaya dari kota. Ada laki-laki kota yang datang dengan memakai mobil ketika melamar perempuan desa pada hal itu adalah mobil sewaan. Orangtua si gadis terhipnotis dengan barang mewah yang dibawanya (kendaraan roda empat) dan si gadis juga langsung berkhayal bahwa ia akan dinikahi pria kaya raya dari kota. Waktu berjalan, dan ternyata lelaki itu hanyalah semacam manusia penipu.

Dalam kasus ini. Tindakan pemberian dan perhatian ada kalanya menipu dan meghipnotis. Sedangkan orang yang terlanjur diperhatikan juga akan membalasnya dengan perhatian dan ada kalanya perasaan mau ditaklukkan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah