Humor, Cara Tetap Bahagia di Tengah Virus Corona

0
287

0Shares
0

Joke (humor) adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Dengan joke, orang ingin mempertahankan situasi ketenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Joke menjaga agar kebahagiaan itu tidak pergi darinya. Ketika kebahagiaan menjadi mimpi semua orang, baik kaum ateis maupun teis, joke sesungguhnya adalah ungkapan tak langsung dari mimpi kebahagiaan yang terlelap di bawah sadar semua orang. Dengan joke, kita berharap tetap bisa bahagia di tengah kepedihan hidup dan kecemasan akan virus corona. 

Kampusdesa.or.id–Jika kita mengikuti berita persebaran virus Corona atau Covid-19 terutama di media sosial, kita akan menemukan informasi yang sangat beragam. Mulai dari informasi yang berisi manual perlindungan diri dari infeksi virus hingga beragam hoaks dan fakes news yang disebar untuk menciptakan kepanikan publik. Di antara deretan informasi ini, kita juga menemukan berbagai joke (gurauan), baik berupa meme maupun teks non-gambar. Misalnya, joke tentang peliburan WA group selama empat belas hari karena virus Corona, atau meme yang menggambarkan dua orang tua yang sedang ngobrol di mana salah satunya mengatakan bahwa Covid-19 adalah grup band pecahan Dewa 19. Rasanya, kreator humor tengah berlomba menciptakan materi stand up comedy.

Atau, mereka sesungguhnya menyadari, tapi tidak peduli. Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam.

Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam.

Fenomena joke pandemi Corona ini bisa dipahami dari beberapa sudut pandang. Mungkin saja ada sebagian kelompok masyarakat yang sungguh-sungguh tidak menyadari situasi berbahaya dari wabah ini. Atau, mereka sesungguhnya menyadari, tapi tidak peduli. Kepedulian biasanya baru akan muncul saat dirinya betul-betul merasa terancam. Misalnya, dia atau orang dekatnya menjadi korban keganasan virus yang muncul pertama kali di China tersebut.

Ada juga orang yang mengerti ancaman pandemi ini, tapi karena cara berpikirnya yang fatalistik membuatnya tidak peduli dengan bahaya kematian akibat virus ini. Cara pandang ini banyak ditemukan di kalangan orang beragama yang meyakini bahwa semua kejadian di dunia ini telah digariskan oleh Tuhan. Karena itu, hanya Tuhanlah yang bisa menghentikan pagebluk ini. Sekeras apapun kita berusaha, jika Tuhan menakdirkan kita terkena virus dan mati, maka kita akan tetap sakit dan mati. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah beribadah dengan giat dan berpasrah kepada Tuhan.

Ketiga jenis orang di atas cenderung menjadikan isu Corona sebagai bahan lelucon, baik lelucon berkarakter sekuler maupun religius. Lelucon sekuler seperti yang saya contohkan di awal tulisan ini. Sedang lelucon religius bisanya muncul dalam omongan seperti ini: “Takut kok sama Corona, takut itu ya sama pembuat Corona dong. Takut saja kok salah alamat.”

Lelucon itu bisa jadi muncul dari rasa sumpek terhadap situasi, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Joke bisa menjadi kanalisasi dari perasaan tertekan.

Tapi, lelucon-lelucon tentang wabah Corona itu tidak selalu lahir dari ketidaktahuan atau kecuekan atau sikap fatalistik dalam beragama. Lelucon itu bisa jadi muncul dari rasa sumpek terhadap situasi, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Joke bisa menjadi kanalisasi dari perasaan tertekan.

Seorang psikoanalis dari Amerika, Roberta Satow, menyatakan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menangani kecemasan dan rasa sakit. Joke adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari perasaan cemas dan sakit itu. Joke dapat melindungi seseorang dari kecemasan menghadapi kegagalan dan perasaan tak berdaya. Orang yang bersembunyi di balik humor bisa jadi adalah sedang berjuang untuk menjaga perasaan gelisahnya.

Joke bisa menjadi mekanisme sublimasi diri untuk menyalurkan dorongan agresif tersebut menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh norma-norma sosial.

Bahkan, joke atau humor secara umum, juga bisa menjadi mekanisme untuk sublimasi diri. Sublimasi berarti mengarahkan dorongan naluriah yang tidak dapat diterima ke saluran yang dapat diterima secara personal dan sosial. Menghadapi persoalan yang tidak tertanggungkan dan kecemasan yang mendera, orang mungkin akan mengumpat atau bertindak agresif. Joke bisa menjadi mekanisme sublimasi diri untuk menyalurkan dorongan agresif tersebut menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh norma-norma sosial. Ini seperti pengalihan dorongan amarah yang intens dalam bentuk olahraga tinju, gulat, karate atau olahraga-olahraga lain yang berkarater “peperangan”.

Mungkin ada beberapa orang yang merasa terganggu dengan berbagai joke di seputar wabah Corona. Bagi orang ini, joke Corona terkesan mengentengkan atau bahkan menertawankan wabah yang telah banyak memakan korban. Tapi, sejujurnya, siapa sih yang saat ini tidak gelisah. Kegelisahan terhadap pagebluk Corona saat ini, di mana tidak ada lagi kastil atau istana yang tidak bersentuhan dengan dunia luar, adalah kegelisahan yang melanda nyaris semua orang.

Semua orang merasa kebahagiaan dan ketenangan hidupnya tiba-tiba terrenggut dari dirinya. Tidak ada orang yang bisa lolos, bahkan para pejabat tinggi negara. Ketika semua berita menyajikan ganasnya wabah ini, apalagi tidak jarang dibumbui dengan informasi-informasi yang berlebihan, kepanikan menyapu nyaris semua kalangan.

Bagi orang bawah yang hidupnya pas-pasan, kondisi sehat itu sendiri adalah ketenangan dan kebahagiaan yang tak terperikan. Lalu, kemewahan satu-satunya itu kini harus direnggut dari hidupannya. Mereka dihadapkan pada situasi di mana setiap saat mungkin mereka akan ditetapkan terinfeksi corona dan harus diisolasi. Jika itu terjadi, hidup berarti tangisan demi tangisan. Bagi orang yang hidupnya dan kehidupan keluarganya ditentukan dari penghasilan kerja harian, infeksi Corona berarti tidak bekerja, dan itu adalah kematian. Kecemasan apalagi yang bisa menandingi kecemasan akan kematian.

Ketika kebahagiaan menjadi mimpi semua orang, baik kaum ateis maupun teis, joke sesungguhnya adalah ungakapan tak langsung dari mimpi kebahagiaan yang terlelap di bawah sadar semua orang.

Dalam situasi seperti ini, joke adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Dengan joke, orang ingin mempertahankan situasi ketenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Joke menjaga agar kebahagiaan itu tidak pergi darinya. Ketika kebahagiaan menjadi mimpi semua orang, baik kaum ateis maupun teis, joke sesungguhnya adalah ungkapan tak langsung dari mimpi kebahagiaan yang terlelap di bawah sadar semua orang. Inilah yang dikatakan Bapak Psikoanalisis, Sigmud Freud, di awal abad ke-20, bahwa kegemaran kita terhadap joke sesungguhnya bertalian dengan apa yang terpendam dalam alam ketidaksadaran kita.

Joke, doa maupun hand sanitizer memiliki posisi yang sama, yaitu upaya untuk mempertahankan bahagia. Semua orang ingin selamat dan bahagia.

Dengan joke, kita berharap tetap bisa bahagia di tengah kepedihan hidup dan kecemasan akan virus corona. Dalam pengertian ini, baik joke, doa maupun hand sanitizer memiliki posisi yang sama, yaitu upaya untuk mempertahankan bahagia. Semua orang ingin selamat dan bahagia. Yang membedakan adalah cara meraihnya, dan tentu saja juga hasilnya.

Dimuat ulang dari situs alif.id atas seijin penulis.