Homeostasis Keseimbangan Holistik

0
104
Sumber: www.pexels.com/

0Shares
0

Homeostasis dalam dunia medis menempati posisi penting. Ia merupakan faktor penentu keseimbangan diri. Kesehatan kita sangat ditentukan oleh kualitas keseimbangan diri ini. Stres, sedih, dan goncangan psikologis lainnya kerap menjadi pemicu munculnya penyakit-penyakit fisik. Sebab itu, menemukan titik homeostasis ini penting bagi upaya penyembuhan.

Kampusdesa.or.id-Konsep kesehatan Eropa dan Asia pada ujungnya bertemu pada ending yang sama yaitu konsep Homeostasis, artinya kesehatan tubuh kita sangat tergantung kepada keseimbangan pada diri.

Kita akan keheranan lagi manakala mengetahui, bahwa keseimbangan itu tidak pernah berhenti pada sistem organik an sich, akan tetapi ada korelasi yang sangat erat sekali dengan sistem psikis kita.

Ada beberapa hal yang sangat tidak mungkin bisa dimengerti secara sistem organik. Antara lain penyakit psikosomatik, yaitu penyakit yang diakibatkan stress, depresi, kekecewaan, kekuatiran, dan ketakutan yang berlebihan.

Ada seorang mahasiswa dari Wringin Arak-arak menelpon penulis,

“Assalamualaikum ust, saya dan ibu saat ini ada diruang ICU di RSUD Bondowoso untuk menjalani operasi penyakit batu empedu yang diderita oleh ibu kandung saya, oleh dokter disarankan pulang terlebih dahulu untuk puasa pra operasi. Namun sebelumnya, saya bertanya kepada salah seorang ibu Nyai di pesantren, beliau menyarankan tidak operasi karena itu terkena sihir atau guna-guna. Rencana ibu dibawa ke Prajekan mau diruqyah ust?”katanya dengan nada kebingungan. “Monggo” jawab penulis.

Baca Juga: Rahasia Menghadapi Sesuatu Di luar Dugaan

Akhirnya, beberapa jam kemudian mereka sekeluarga datang, ibunya langsung diruqyah namun hanya ada sedikit reaksi panas dalam tubuhnya, penulis mengambil keputusan bahwa ibu itu murni penyakit medis justru mantunya yang reaksi hebat sampai muntah, pingsan, dan menjerit histeris.

Dalam kondisi demikian, penulis menyarankan kepada ibu tersebut agar kontak langsung dengan Allah SWT untuk mohon kesembuhan, melalui shalat tahajud, selalu ingat kepada-Nya (dzikrullah). Karena memang itu menjadi solusi dan alternatif terakhir setelah menjalani ikhtiyar maksimal.

Di samping itu, penulis menyarankan juga agar menjalani pengobatan air hujan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits riwayat Umar Ibnu al-Khattab dalam kitab Khazinatu al-Asrari karya Syaikh Haqqi al-Naziliy,

“Barang siapa yang minum air hujan yang langsung dari langit, dan dibacakan al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falak, al-Nas, dan sholawat Nariyah masing-masing dibaca 70 kali lalu kemudian ditiupkan pada air hujan tersebut selama tujuh hari berturut-turut. Rasulullah Saw bersumpah, “Demi jiwaku yang ada dalam genggamannya, sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan memberitahukanku bahwa barang siapa yang minum air hujan yang sudah dibacakan surat-surat di atas, maka ia akan disembuhkan dari segala macam penyakit baik penyakit medis ataupun non medis.”

Ibu itu, benar-benar melakukan dengan sepenuh hati agar diijinkan-Nya untuk sembuh dari penyakit batu empedunya. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya bahwa doanya akan diijabah oleh-Nya.

Baca Juga: Rahasia Air Hujan, Bisa Diminum untuk Kesehatan

“Ketulusan dan kepasrahan dalam menyongsong detik-detik operasi penyakitnya membuahkan hasil. Semakin dekat dengan garis kematian justru kondisi fisiknya menjadi semakin membaik.”

Maka, sungguh luar biasa sekali, ketulusan dan kepasrahan dalam menyongsong detik-detik operasi penyakitnya membuahkan hasil. Semakin dekat dengan garis kematian justru kondisi fisiknya menjadi semakin membaik.

Yang tadinya kejang-kejang karena menahan sakit perut dengan frekuensi sering, kini frekuensinya menjadi semakin jarang. Dan semakin hari, semakin jarang.

Hingga pada waktu hendak berlangsungnya operasi dan sudah mau masuk ke ruangan, tiba-tiba puterinya itu menelpon penulis,

“Assalamualaikum ust, Alhamdulillah ibu tidak jadi dioperasi” katanya dengan nada bahagia. “Loh, kenapa?” Jawab saya penuh tanda tanya.”Penyakit batu empedu yang diderita ibu oleh dokter dinyatakan negatif ust.” Lanjutnya.

Dalam kasus ini, penulis hanya ingin mengatakan betapa prediksi dokter yang ingin melakukan kalkulasi melalui pendekatan sistem organik tidak akurat. Secara medis, sangat jelas tubuhnya mengalami penurunan kondisi yang cukup signifikan. Namun, ternyata kekuatan (power) psikologisnya yang kuat mampu mendorong terbentuknya homeostasis dan mendongkrak kembali kondisi yang semakin parah itu, berbalik arah menjadi membaik.[]