Hidupku adalah Membersamai Virus dan Kuman

0
121
Animasi virus dan kuman (sumber gambar: Popbela.com)

0Shares
0

Setiap orang bisa menjadikan virus sebagai teman hidup atau bahkan merasuki tubuh dan pikirannya. Tentu yang sedang aku bicarakan ini bukan Virus Covid-19 yang sekarang sedang membuat masyarakat panik, tapi sejarah singkat tentang pengalaman hidupku dalam berjuang melawan virus yang pernah singgah dalam tubuhku. Tidak mudah memang menghadapinya, namun aku selalu yakin Tuhan selalu mencintai lebih dari yang ku tahu. 

Kampusdesa.or.id–Hidup sebagai kalangan bawah seperti saya, tentu kuman dan virus adalah makhluk yang selalu membersamai. Masa kecil tinggal di rumah berlantai tanah. Bermain di lumpur dan air, di sungai dan sawah. Bahkan bermain di samping rumah dan belakang rumah, kadang juga kaki terperosok di peceren.

Situasi kamar kos yang akan selalu aku ingat, yang dari perspektif kesehatan amat tak layak.

Hingga masa kuliah, kostpun juga hanya bisa tinggal di kamar yang murah. Bahkan pernah satu tahun saat ekonomi sedang sulit dan sumbangan dari kakak-kakak sempat macet, tinggal di kamar kos super sempit. Kamar itu amat lembab, karena belakang tembok adalah sumur dan kamar mandi. Saat hujan, air merembes dan lantai basah. Situasi kamar kos yang akan selalu aku ingat, yang dari perspektif kesehatan amat tak layak.

Virus ganas juga menyerang di pertengahan kuliah. Hingga aku harus ‘ngamar’ di pusat kesehatan masyarakat selama sebelas hari. Habis 9 infus. Keluar dari opnamepun masih belum bisa berdiri. Kaki lumpuh, tubuh masih lemas. Rambut rontok. Tubuh kering. Tidak masuk kuliah selama hampir satu semester. Lalu belajar berdiri dan berjalan hingga bisa agak normal. Konsekuensinya nilai satu semester E semua untuk semua mata kuliah yang telah kususun di KRS.

Ya jelas saja aku mengalami isolasi. Ya karena hanya bisa terbaring dan lalu hanya latihan berjalan di sekitar rumah. Selama lima bulan tak bertemu teman-teman kuliah dan teman-teman organisasi. Toh mereka di Jember (tempat kuliahku), dan aku di Trenggalek. Waktu itu belum ada media sosial. Tidak bisa komunikasi lewat WA, belum ada. FB juga belum ada. Tahun 2000, yang bahkan HP “cekitet” pun masih satu dua mahasiswa yang punya.

Kepercayaan diri bahwa bisa sembuh adalah modal yang besar dan energi yang kuat.

Isolasi dan “social distancing” berlaku otomatis karena saat sakit itu aku tak bisa ke mana-mana. Hanya orang dalam rumah dan tetangga atau saudara yang berkunjung saja yang bisa dijumpai. Hiburan-hiburan adalah buku dan motivasi ibu dan saudara bahwa sakit itu pasti sembuh. Kepercayaan diri bahwa bisa sembuh adalah modal yang besar dan energi yang kuat.

Selama hampir satu semester, praktis hiburanku yang paling menarik adalah buku.

Selebihnya adalah adaptasi dengan keadaan. Pikiran dan keinginan mencari sandaran, yaitu BUKU. Pada fase inilah aku membersamai dan virus yang ada di tubuh dengan banyak membaca buku. Seorang teman yang baik hati dari Jember mengirimi buku-buku. Buku-buku tergolong berat yang aku bawa pulang juga membersamai. Di momen inilah aku terkena VIRUS yang ganas, virus yang menggerakkanku membaca buku. Selama hampir satu semester, praktis hiburanku yang paling menarik adalah buku.

Virus yang merasuki tubuh dan pikiranku inilah yang ternyata banyak membentuk diriku di masa berikutnya. Penyakit yang dibawanya inilah yang membuatku masih belum bisa sembuh hingga sekarang—mungkin sedang pada tahap penyembuhan.

Sejak kembali ke kampus, omonganku adalah omongan buku. Inilah yang membuat sebagian orang bahkan tidak suka pada penyakitku ini. Seorang mahasiswi yang ku-PDKT bahkan lari dariku karena saat aku mendekatinya, yang kuomongkan adalah bahasa-bahasa buku. Bukannya diajak nonton dan belanja, malah diajak diskusi bahasa-bahasa buku.

Bukannya diajak rekreasi sebagaimana mahasiswa-mahasiswi lainnya, malah diajak diskusi. Bahkan seorang memberitahuku bahwa pernah ada mahasiswi yang pernah bergosip tentang aku dengan berkata: “Hati-hati lho didekati sama Mas itu, nanti kamu dipropaganda teori yang berat-berat!”.

Mahasiswa-mahasiswi yang bersenang-senang dengan budaya hedon mulai ku serang.

Bahkan beberapa teman sekelas juga tampaknya jijik sama aku yang membawa virus. Aku dikenal mulai menyebarkan virus secara agresif. Mahasiswa-mahasiswi yang bersenang-senang dengan budaya hedon mulai ku serang. Mahasiswa dan mahasiswi yang tak mau ikut aksi ku serang bersama teman-teman yang membawa virus sejenisku. Bahkan pada suatu aksi menolak kenaikan BBM kami membubarkan perkuliahan. Aku orasi masuk kelas dan kuajak yang kuliah untuk ikut terjun ke lapangan kampus bikin pernyataan sikap.

Akhirnya pada puncaknya, aku dan teman-temanku yang ketularan virus itu mulai diawasi oleh pihak tertentu yang menganggap dirinya mengamankan situasi negara. Belasan dan puluhan mahasiswa mungkin juga sudah terkena virus yang kubawa. Sebagian yang tidak kena memang sudah waspada. Biasanya kami datang ke kosnya. Membawakan buku dan bacaan yang sering dianggap penyakit—atau “bacaan terlarang”.

Tentu saja aku dan teman-temanku mendiskusikan sudah memahami apakah virus ini negatif atau positif bagi pikiran dan tubuh kami. Kami berkesimpulan bahwa ini adalah virus yang positif tetap juga bisa membawa kami bisa berbuat negatif—termasuk ketika ada gejala kesurupan.

Yang penting kita harus tetap waspada dan sadar akan bahaya virus yang bisa menghancurkan peradaban. 

Setiap orang bisa menjadikan virus sebagai teman hidup atau bahkan merasuki tubuh dan pikirannya. Tentu yang sedang aku bicarakan ini bukan Virus Covid-19 yang sekarang sedang membuat masyarakat panik. Virus di dunia ini memang berlaksa jumlahnya. Tubuh kita tetap punya anti-bodi yang bisa menghadapi virus yang masuk. Yang penting kita harus tetap waspada dan sadar akan bahaya virus yang bisa menghancurkan peradaban. Selain virus Corona adalah Virus KEBODOHAN!***

Trenggalek, 24 Maret 2020

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah