Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini

1
215
minat baca pemuda hari ini
Donasi Buku Bacaan untuk meningkatkan minat baca pemuda

0Shares
0

Melalui tulisan ini dihimbau kepada masyarakat khususnya para pemuda hari ini termasuk saya pribadi harus mulai sadar betapa pentingnya membaca buku dan berjanji kepada diri sendiri untuk membaca buku miminal satu jam (kurang lebih 100 halaman). Syukur-syukur diinisiasi adanya gerakan “one day one book” pasti keren plus mantab sekali.

Kampusdesa.or.id–Ada pepatah mengatakan bahawa “buku adalah jendela dunia”. Oleh karena itu buku merupakan suatu alat yang penting sebagai sumber ilmu yang tak pernah kering sepanjang masa. Dengan membaca buku kita akan menambah pengetahuan tentang apa yang ada dan sedang terjadi di dunia ini, sehingga banyak informasi yang akan kita dapatkan dari membaca buku. Dengan demikian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) ingin mengkampanyekan pentingnya membaca buku melalui Hari Buku Sedunia yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 23 April yang jatuh tepat pada hari ini.

Mengutip keterangan dalam Okezone.com, Hari Buku Sedunia atau kadang juga disebut sebagai Hari Hak Cipta ini dipilih tanggal 23 April oleh UNESCO untuk memberi penghormatan kepada tiga penulis (tokoh sastra) besar William Shakespeare, Miguel Cervantes dan Inca Garcilaso de la Vega yang meninggal pada hari ini. Tanggal ini ditetapkan untuk pertama kalinya pada tahun 1995 di UNESCO General Conference, yang diadakan di Paris, untuk menghormati penulis buku dan meningkatkan minat membaca serta kecintaan terhadap buku di seluruh dunia.

Meski telah ditetapkan UNESCO sejak tahun 1955, seperti yang dilansir oleh beritabaik.id peringatan Hari Buku Sedunia ini baru dimulai di Indonesia pada tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca. Peringatan Hari Buku Sedunia ini dibuat dengan harapan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Tidak lama ini, Jumat (03/04/2020) lalu saya dihubungi wartawan Radar Lamongan -Jawa Pos Group untuk bercerita mengenai pengalaman di dunia tulis menulis (jurnalistik) dan sedikit pandangan terkait minat menulis dan membaca anak muda jaman sekarang. Khususnya pemuda-pemudi di Kabupaten Lamongan.

Dalam topik serupa sesungguhnya pernah saya ulas dalam sebuah tulisan panjang di website Gerakan Perpustakan Anak Nusantara (GPAN), sebuah komunitas peduli pendidikan dan literasi yang didirikan oleh kawan saya Imam Arifa’illah Saiful Huda. Di sana saya berbagi kisah terkait tingkat minat baca penduduk negara di ASEAN, peran perpustakaan, dan beberapa tawaran solusi alternatif menghadapi masalah kurangnya minat baca di Indonesia.

Berdasarkan data Most Littered Nation In the World yang dikutip oleh blog Ruang Guru, studi untuk mencari tahu seberapa tinggi minat baca negara-negara di dunia pernah dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 lalu, memang negara Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Data ini bertolak belakang dengan peringkat negara yang memiliki jumlah perpustakan terbanyak di dunia. Indonesia ternyata menduduki urutan ke-2 setelah India disusul Rusia dan Tiongkok.

Terdengar miris sih memang. Kalau mau curhat, beberapa kawan saya baik di Malang, Jogja, dan Lamongan punya gerakan literasi atau rumah baca, baik yang di jalan maupun di perpustakaan mandiri pun mengeluhkan hal yang sama. Rupanya tidak banyak dan seramai lapak lain. Pun kalau ada pengunjung, buku yang diminati rata-rata yang bergambar. Itu juga hanya dilihat gambar-gambarnya saja. Ketika saya ke Perpustakaan kota, barangkali hanya bisa dihitung jari orang yang datang membaca di sana. Kecuali pas ada acara pasti terlihat lebih ramai dan rata-rata juga usia anak sekolah SD-SMA.

Tentu ini menjadi PR kita bersama. Apalagi hadirnya teknologi informasi cukup berpengaruh. Melek literasi telah terhambat oleh internet dan media sosial. Aktifitas membaca buku secara tidak langsung juga berkurang karena munculnya literasi digital sekarang ini. Dan dengan beralihnya literasi digital beranggapan menjadikan orang lebih memilih praktis dan mudah dibanding buku asli. Kemampuan menulis gagasan sendiri juga menurun. Karena kebanyakan orang sudah malas, lebih suka yang instan, googling, copy-paste, trus share. Itulah salah satu alasan saya menulis buku di wattpad berjudul “Literasi Digital: Kesadaran dan Analisa Literasi Masa Kini” berisi 38 Bab (tapi belum tuntas).

Mau tidak mau harus diakui, pelajar atau mahasiswa saat ini lebih mengandalkan gadget mereka dan memanfaatkan internet sebagai sumber dari tugas mereka daripada mencari berbagai sumber buku yang tersedia di perpustakaan. Uang jajan yang disisihkan lebih sayang jika dibelikan buku daripada untuk beli kuota agar bisa main game online.

Munculnya hiburan berupa permainan yang menyita waktu ini juga menyebabkan turunnya minat baca seseorang dan menjauhkannya dari buku. Sehingga saya tidak menganjurkan orang tua membelikan gadget kepada anak sejak usia dini. Mending dikenalkan dengan buku-buku yang bermanfaat dan dibacakan dongeng. Maka secara tidak langsung akan mulai familiar dengan dunia baca buku. Sehingga nanti ketika tumbuh dewasa harapannya memiliki minat baca yang tinggi.

Munculnya hiburan berupa permainan yang menyita waktu ini juga menyebabkan turunnya minat baca seseorang dan menjauhkannya dari buku. Sehingga saya tidak menganjurkan orang tua membelikan gadget kepada anak sejak usia dini. Mending dikenalkan dengan buku-buku yang bermanfaat dan dibacakan dongeng. Maka secara tidak langsung akan mulai familiar dengan dunia baca buku. Sehingga nanti ketika tumbuh dewasa harapannya memiliki minat baca yang tinggi.

Upaya ini sangat penting sekali, dikarenakan tinggi-rendahnya minat baca dalam sebuah negara akan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan di negara tersebut. Semakin tinggi minat baca masyarakat di sebuah negara maka akan semakin tinggi pula kualitas pendidikan yang dimiliki negara tersebut, begitu pula sebaliknya.

Adanya Hari Buku Sedunia (World Book Day) harus dijadikan sebagai interopeksi bersama dan mengubah habit. Tidak hanya diperingati dengan mengadakan kegiatan membaca buku serentak pada tanggal 23 April itu saja atau cuma melaksanakan Bazar Buku dengan menawarkan beragam diskon. Kegiatan tersebut bagus, namun seperti hanya seremonial belaka. Melalui tulisan ini dihimbau kepada masyarakat khususnya para pemuda hari ini termasuk saya pribadi harus mulai sadar betapa pentingnya membaca buku dan berjanji kepada diri sendiri untuk membaca buku miminal satu jam (kurang lebih 100 halaman). Syukur-syukur diinisiasi adanya gerakan “one day one book” pasti keren plus mantab sekali.

1 KOMENTAR

Comments are closed.