Gusdurian Malang Memperkuat Deradikalisasi Kampus

0
221

KampusDesa, Malang — Ancaman radikalisme masuk dalam kalangan generasi menengah Indonesia. Mereka lahir dari kampus-kampus besar. Tidak bisa dipungkiri termasuk kampus Universitas Brawijaya Malang. Penelitian Yusli Effendi dari Pusat Studi Pesantren menyibak jejak bagaimana mahasiswa UB rentan dengan ancaman generasi radikal keagamaan. Disinyalir 30 persen mahasiswa UB ditemukan tanda-tanda sejalan dengan pandangan, sikap dan ideologi kaum radikalis. Saya sendiri sempat ditelpon dari kalangan alumni UB, pelaku pengeboman pada zaman gaduh Borobudur dan beberapa kasus waktu itu, tidak lain adalah jebolan Jurusan Kimia UB.

Gusdurian Malang nampaknya gerah dengan kabar tersebut. Kelompok ini tidak tinggal diam. Mereka langsung turun gunung untuk melakukan sosialisasi dan diskusi menyapa mahasiswa Indonesia. Mereka menyapa mahasiswa Universitas Brawijaya dan beberapa mahasiswa lintas agama di Malang untuk bergerak aktif melakukan kegiatan-kegiatan penyadaran untuk mahasiswa.

Guna menekan atau mencegah terjadinya proses radikalisasi, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam informasi yang tunggal, apalagi hari ini informasi keagamaan begitu liar. Mahasiswa perlu bergerak dari berpikir agama yang dogmatik menuju beragama kritis. Penegasan ini disampaikan oleh A. Dhofir Zuhri, salah satu pemateri yang sekaligus Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi Malang.

Untuk itu mahasiswa perlu sadar pikir bagaimana tidak terlokalisasi pada berpikir linier, lurus-lurus saja, apalagi hanya mengandalkan satu bacaan terjemahan al-Quran dalam mengambil sikap keagamaan. Sebagai mahasiswa tentu perlu melakukan pengayaan bacaan dan mengambil kesimpulan berpikir logis dalam bidang keagamaan.

Jika mahasiswa lebih suka ikut arus dan patuh pada dogmatisasi agama, mereka akan mudah tercaplok oleh kepentingan radikalisme. Apalagi mereka dengan begitu mudah dibaiat hanya menggunakan media sosial. Sangat disayangkan jika mahasiswa memiliki cara berpikir seperti katak dalam tempurung. Kebenaran mereka diamini dan kemudian latah menyuarakan kebenarannya menabraki wacana dan penalaran  ala mahasiswa yang seharusnya menerima informasi secara kritis, bahkan beragama-pun harus secara kritis. Mahasiswa sudah selayaknya membaca berbagai sumber pemikiran keagamaan dari banyak sumber, layaknya membuat skripsi. Mahasiswa dilatih untuk membangun sistesis diantara perbedaan pemikiran sehingga kaya dengan wawasan keagamaan. Ketika mereka memiliki cara belajar seperti itu, maka pencaplokan radikalisasi keagamaan dapat ditekan, atau bahkan dihindari.

Bagaimana melawan radikalisme? Tatok (Kristanto Budi Prabowo) menegaskan perlunya pendekatan apresiasi. Sebuah cara bukan dengan provokasi tetapi mengapresiasi potensi-potensi yang beragama untuk diakui dan dikembangkan semakin meluas.  Mengapresiasi potensi setiap anak bangsa justru menguatkan identitas lokal mereka untuk membentuk kematangan diri, baik secara keagamaan dan kebangsaan.  Pendekatan ini juga dapat diterapkan pada komunitas-komunitas mahasiswa. Ketika mereka diapresiasi, diberi panggung, mereka dihargai sebagai anak bangsa.

Tantangan ini niscaya karena dari berbagai riset sudah menunjukkan aneka virus radikalisme sudah menjarah tidak saja UB, tetapi berbagai kelompok independen atau sejumlah kegiatan keagamaan di bawah organisasi pemerintah di Indonesia juga ditemukan memiliki narasi yang sama dalam membenarkan radikalisme. Untuk itu, generasi milenial, sebagaimana dikaji oleh Muiz Lidinillah, founder gubuktulis.com dan toko buku oase mendorong agar generasi milenial perlu melek teknologi. Mereka tidak menjadi korban informasi hoax, atau mudah mengamini informasi sampah di gawai mereka.

Acara ini ditutup dengan komitmen setiap orang yang hadir untuk membawa pesan damai dan menolak segala bentuk upaya yang merongrong Indonesia. Seluruh peserta kemudian dipandu untuk bersama-sama mendeklarasikan perdamaian bagi generasi milenial. Mereka juga melakukan gelar penandatanganan deklarasi damai.

Berikut deklarasi yang dibaca bersama peserta,

PERNYATAAN SIKAP ANTI RADIKALISME GENERASI MILLENIAL
GUSDURIAN MUDA KOTA MALANG DAN GENERASI MUDA BANGSA

Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar yang mana didalamnya memiliki keberagaman ras, suku, maupun agama. Bangsa yang lahir dengan mempersatukan semangat perbedaan didalamnya merupakan semangat yang selalu dijunjung tinggi oleh para leluhur bangsa. Keberagaman atas perbedaan tersebut merupakan sebuah identitas jati diri bangsa dan menjadikan bangsa indonesia adalah bangsa yang besar dan rumah bagi semua  perbedaan. Sehingga mempersatukan perbedaan tersebut merupakan bentuk nilai kearifan lokal yang secara turun temurun diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Kearifan lokal dalam merawat tradisi keberagaman adalah bentuk nilai-nilai yang diajarkan oleh para leluhur bangsa. Menghargai perbedaan dan menghormati satu sama lain adalah nilai-nilai budi luhur yang harus tetap dilestarikan dan menjadi identitas jati diri bangsa indonesia. Karena bangsa yang besar bisa bersatu karena bangsa tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai identitas jati diri bangsanya. Seperti halnya Gusdur telah Berkata bahwa “Kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan”. Perbedaan bukanlah sebuah permasalahan namun harus selalu senantiasa dirawat.

Semangat merawat tradisi keberagaman hari ini perlahan mulai pudar dikalangan generasi millenial. berbagai paham-paham pemecah persatuan bangsa pun telah menghinggapi pemikiran-pemikiran generasi saat ini. Penyebaran paham-paham tersebut telah memasuki berbagai ranah aspek kehidupan dalam lingkungan perguruan tinggi hingga sosial mayarakat. Selain itu, lebih parahnya lagi paham-paham tersebut telah menyasar kepada generasi millenial yang ada saat ini dimana sejatinya adalah generasi-generasi penerus bangsa yang nanti akan menjadi pemangku negara Indonesia ke depan.

Paham-paham pemecah belah persatuan atau paham radikalisme adalah sebuah bentuk nilai ketidakadilan yang diciptakan untuk merusak persatuan bangsa. Banyak terjadi kasus-kasus yang terjadi diakibatkan oleh paham-paham radikalisme yang berkembang seperti halnya bentuk diskriminatif, intimidasi, persekusi dan menjadi permasalahan hak asasi manusia. Ujaran-ujaran kebencian tersebut akhir-akhir ini mulai marak dan merasuk kedalam jiwa-jiwa generasi millenial.

Oleh karena itu kami Gusdurian Muda Malang (Garuda Malang) Bersama Para Generasi Muda Bangsa menyatakan sikap bahwa :

  1. Radikalisme pada era milenial ini sangat menggerus nilai-nilai kemanusiaan, sikap sentrisme menempatkan ruang gerak yang kurang maksimal dan meresahkan.
  2. Sebagai bangsa yang merdeka, kita telah mendeklarasikan untuk menolak segala bentuk tindakan yang meruntuhkan nilai pancasila, kearifan lokal dan keindonesiaan.
  3. Mempersiapkan dan membentuk generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, demokratis, jujur, berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, hak asasi manusia, kemajemukan, kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa yang berwawasan Nusantara.
  4. Kami Kawula muda menyatakan sikap bahwa Indonesia adalah rumah kita bersama. Merawat keberagaman bangsa adalah sebuah kewajiban yang harus dijunjung tinggi demi terciptakan bangsa yang damai dan hidup sejahtera

Malang, 17 Agustus 2018
Komunitas Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Kota Malang

ttd

Dyah Monika Sari
Koordinator Penggerak GARUDA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here