Guru Berprestasi, Seberapa Penting dalam Kehidupan Sekolah dan Masyarakat

Astatik, Ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) BESTARI Jombang.

0
247

Bukan tentang bagaimana sebuah penghargaan menjadi kebanggan dalam diri kita seorang diri. Satu hal yang lebih penting adalah sudahkah diri ini mempunyai kontribusi yang cukup dalam kehidupan sekolah dan masyarakat? Apalah arti sebuah penghargaan jika hanya akan mengikis perilaku mulia yang sebelumnya telah tertanam dengan baik.

KampusDesa–Baru saja beberapa hari lalu saya menulis status tentang guru berprestasi. Pagi kemarin saat rehat bimtek program, sekitar jam 10-an di depan aula dinas pendidikan saya bertemu dengan seorang ibu cantik berusia kira-kira 5 tahun di atas usia saya.  Ia mengendarai Scoopy, menambah anggun penampilannya. Ia seperti kebingungan, berhenti di depan kami berjarak kurang lebih 5 meter. Bertanya kepada kami begini;

“Tempat seleksi guru berprestasi apakah di aula ini? “

Kebetulan ada bapak kepala seksi di antara kami,  beliau bertanya balik.

“Apakah Ibu seorang guru?” Ibu tersebut rupanya tidak dengar karena mungkin mesin motornya tidak dimatikan dan helm tidak dilepas. Bapak kasi bertanya lagi dengan pertanyaan serupa,  baru kemudian ibu cantik tersebut menjawab;

“Saya kepala sekolah.” Setelah itu si ibu cantik ini berlalu dari hadapan kami setelah salah satu dari kami memberi info bahwa aula yang ia tanyakan tidak ada kegiatan  seleksi guru berprestasi. Berlalu, tanpa pamit, tanpa salam, tanpa ucapan terima kasih. Pak kepala seksi berkata begini;

“Lha iyo,  kepala sekolah e koyok ngunu,  lha yok opo guru-gurune.” (lha iya,  kepala sekolahnya seperti itu,  bagaimana dengan guru-gurunya).

Saya paham ujaran bapak kasi tersebut. Ibu cantik juga kepala sekolah itu memang aneh, ya aneh. Berhenti di hadapan kami, dan bertanya di atas motornya kalau kami berkomunikasi perlu menaikkan volume suara karena jarak kami dengannya kurang lebih 5 meter dan bla bla bla seperti yang saya deskripsikan di atas.

Sisi lain saya memaklumi,  mungkin ibu tadi terburu-buru karena terlambat atau karena baru pertama kali ke dinas pendidikan atau karena hatinya sedang dag dig der mau menghadapi penilaian guru berprestasi. Entahlah,  saya cuma ingin berprasangka baik disamping rasa gemes dengan sikapnya yang seperti itu.

Ikut seleksi dan kemudian menjadi guru berprestasi itu tidak mudah, dan mungkin tidak semua guru mendapatkan kesempatan mengikutinya.

Saya paham, ikut seleksi dan kemudian menjadi guru berprestasi itu tidak mudah, dan mungkin tidak semua guru mendapatkan kesempatan mengikutinya. Hanya guru yang mampu secara profesional dan keilmuan mumpuni serta berkepribadian yang baik sepertinya yang bisa terlibat dalam kompetisi bergengsi di dunia pendidikan ini.

Saya juga pernah terlibat dalam event seleksi ini. Tahun 2003 kala itu, kepala sekolah tempat saya mengajar menunjuk saya mewakili madrasah mengikuti seleksi guru berprestasi. Saya baru 2 tahun mengajar, sulung saya usia 1 tahun. Untuk menghadapi seleksi ini, seperti kompetisi di dunia pendidikan lainnya, saya membuat karya tulis. Saya masih ingat untuk mengetik di komputer sekolah saya dibantu siswa saya. Kami kerjakan pada malam hari, sambil saya menggedong si sulung saya mendikte kalimat yang tampil di layar monitor. Tugas membuat karya tulis selesai, lalu dikirim madrasah ke panitia seleksi.

Tibalah saat penjurian, dan saya satu-satunya guru madrasah aliyah yang berlomba dengan sekian guru SMA Negeri, 1 guru RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan beberapa SMA swasta. Tak gentar, modal percaya diri dengan persiapan semaksimal yang saya bisa lakukan, saya presentasikan karya saya. Tentu saja karya yang berkategori PTK (Penelitian Tindakan Kelas).  Presentasi selesai, saya tidak gentar dengan peserta lain yang hampir semuanya boleh dikatakan teman-teman guru saya SMA dulu, ya mereka  guru senior semua. Saya juga tidak habis pikir, kok bisa kepala madrasah menunjuk saya ikut seleksi ini di usia mengajar saya yang terbilang junior. Baiklah itu semua sudah berlalu. Saya sedikit ceritakan, seingat saya (maaf saya menyajikan data info dengan “seingat saya”, karena tidak ada yang mengesankan dari kompetisi itu, jadi tidak heran kalo saya tidak mengingatnya dengan baik) setelah presentasi ada pula penilaian lanjutan.

Panitia seleksi akan datang ke rumah para calon guru berprestasi ini. Saya tidak didatangi entahlah mungkin waktu itu hanya para beberapa nominator saja yang didatangi rumahnya untuk dilakukan penilaian. Jika ingat waktu itu pada masa sekarang ini, rasanya saya lega tidak katut (ikut) dikunjungi oleh dewan juri. Saya masih numpang di rumah kakak ipar dan mertua, dan penilaiannya saya bayangkan cukup melelahkan. Saya lupa poin apa saja yang dinilai ketika kunjungan rumah itu. Rasanya derita akan lama berakhir.  Ini bukan apologi saya karena saya gagal, tapi pikiran malas saya berkata;

“Lha kapan saya mengajar dengan tenang kalau saya sibuk memenuhi tugas seleksi guru ini,  belum lagi si sulung masih baby,  belum lagi saya masih numpang tempat tinggal…” Bla bla dalam pikiran saya membuat saya tidak kecewa dengan kegagalan saya itu.

Jika diurut dari semenjak kecil hingga setua ini, urusan seleksi akdemik saya pernah melaluinya, notok pol pada tingkat propinsi tahun 2015 dalam seleksi PKBM berprestasi dan mendapatkan juara harapan 2. Apresiasi bidang pendidikan nonformal tingkat propinsi juara 3 dalam seleksi tutor Paket B berprestasi tahun 2008. Saat SD juara 3 tingkat kabupaten lomba cerdas cermat P4, di SMP juga dengan 2 teman saya lainnya mewakili lomba yang sama tingkat kabupaten, hanya sebagai peserta.

Apakah teman-teman saya terinspirasi dengan gelar guru berprestasi ini?

Jika diruntut semua seleksi yang pernah saya lalui itu, saat ini,  saya berpikir;

“Apa dampaknya bagi saya dan orang lain?”  Dapat piala, dapat piagam, dapat pujian, dapat kekaguman, dapat reputasi baik; memang iya. Lalu apakah juga berdampak pada lainnya?  Apakah sudah mengubah perilaku dan pribadi saya lebih baik? Tidak hanya dibuktikan dengan secarik surat keterangan penyandang gelar kehormatan guru atau insan terbaik di lingkungan kerja atau sekolahnya? Apakah saya sudah mampu menjadi dan bekerja lebih baik setelah ikut seleksi itu? Apakah teman-teman saya terinspirasi dengan gelar guru berprestasi ini?  Apakah tempat kerja saya semakin dipercaya masyarakat, apakah peserta didik yang saya menjadi gurunya di kelas merasakan dampaknya sehingga mereka sukses mendirikan panggung kesuksesan yang mengundang decak kagum orang lain?  Apakah peserta didik yang sukses tersebut juga mampu memotivasi dan menginspirasi temannya agar sukses seperti dirinya? Begitulah yang ada dalam pikiran saya kini.

Tentang guru berprestasi, saya tergerak menulis catatan ini karena berseliweran di beranda saya postingan sahabat-sahabat hebat saya dalam mengikuti seleksi guru berprestasi ini.

Tentang guru berprestasi, saya tergerak menulis catatan ini karena berseliweran di beranda saya postingan sahabat-sahabat hebat saya dalam mengikuti seleksi guru berprestasi ini. Dari postingannya saya lihat, ia sukses dalam menulis buku, pemenang lomba apresiasi GTK PAUD Dikmas, jadi saya simpulkan sepertinya event bergengsi apapun ia ikut. Melihat hal itu, pikiran nakal saya bertanya begini;

“Kalau ikut lomba terus dan terus kapan muridnya ditunggui di kelas? Kapan kegiatan PKBM-nya di-monitoring dengan ajeg?”

Bukannya untuk mengikuti seleksi guru berprestasi ini juga ada Bimtek, dan bimbingan lainnya yang tidak sekali dua kali diikuti. Belum lagi urusan rumah tangga. Kalau ikut bimtek lalu di karantina, kapan bisa senda gurau sore hari dengan anak dan suami atau istri, kapan bisa malam Jum’atan dengan suami atau istri (by accident karena tadi malam, malam Jum’at).

Ini adalah paparan jail saya tentang Gupres (Guru berprestasi)  dari status sosmed saya tanggal 27 Maret 2019 yang lalu.

“Menurut Anda, guru berprestasi itu seperti apa?  Sibuk mengukir sukses di luar sekolah atau sibuk dengan muridnya untuk membuatkan panggung kesuksesan muridnya?

Kalau keduanya dipilih,  apa mungkin team juri all day menilai aktivitas mengajar guru”.

 

Editor: Haniffa Aulia  

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here