Grafoterapi ; Melatih Motorik Halus Anak-anak yang Memerdekakan Imajinasi

0
169

Dari diskusi hangat pada raker guru kemarin siang, pengalaman memulai pelajaran menjadi salah satu informasi pembelajaran. Diskusi demikian sangat bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas guru. Apalagi berdiskusi seputar pengembangan Grafoterapi untuk pembelajaran anak-anak PAUD.

Buku modul pembelajaran membaca dan menulis untuk anak-anak didik kami sudah lama siap. Sekarang saatnya mengupgrade para ibu guru nya yang akan memandunya. Merekalah yang akan berjuang di lapangan untuk mengajari anak-anak usia dini mengenal aksara dan mengembangkan kemampuan berbahasa.

Formula pembelajaran di dalam buku panduan jelas mengisyaratkan pelibatan secara sistematis aspek-aspek pembelajaran bahasa secara lengkap. Yaitu aspek pengamatan, aspek pendengaran atau menyimak, kemampuan berkomunikasi, pengembangan kosa kata serta motorik halus. Karena bahasa mencerminkan perilaku sekaligus tata krama, maka unsur pembiasaan akhlak mulia pun kami sertakan di dalamnya .

Dengan pencerahan berdasarkan teori ilmu grafologi saat ini, saya serasa memegang “Tongkat Nirmala.” Itu lho, bidadari baik hati yang suka membantu orang dengan tongkat saktinya dalam Kisah dari Negeri Dongeng di majalah Bobo. Untuk poin pembahasan penting dalam pertemuan saya dengan para guru saat itu, saya garis bawahi tentang keajaiban latihan motorik halus bagi pembentukan karakter anak usia dini. Jadi semacam melatih motorik halus anak sambil mengkode atau mengarahkan mereka pada perilaku yang baik dan ideal?

Bisa ya? Tanya mereka. Kenapa tidak? Grafoterapi tongkat saktinya. Jawab saya meningkatkan kadar kepo mereka.

Yah biar tidak kepo-kepo amat, sekalian saya pandu arah diskusi itu ke ujung dermaga tujuan pembelajaran kami 2 tahun mendatang. Saat itu perkembangan motorik halus/ kasar serta kemampuan kognitif mereka sudah semakin matang. Beberapa hal yang perlu kita ajukan:

Inginnya melihat anak-anak cekatan dalam berpikir dan bertindak atau slow respon?

Maunya anak-anak mudah bersosialisasi dan berbagi, atau malah tertutup dan egois?

Inginnya melihat mereka punya motivasi intrinsik tinggi, atau justru harus selalu didorong-dorong kayak mobil mogok kalau hendak maju?

Ingin anak-anak pandai mengelola uang jajannya atau boros tak terkendali?

Nah, biasanya diperlukan jurus-jurus pelajaran etika dan akhlak untuk mengarahkan anak pada nilai-nilai ideal tersebut. Ternyata, ada peluang besar untuk menuju perilaku yang positif itu dari moment melatih motorik halus ketika mereka belajar menulis di kelas? Dengan cara apa? Ya grafoterapi itu.

Grafoterapi bertujuan untuk mendapatkan perubahan yang spesifik untuk memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter maupun sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya.

Tulisan tangan adalah pesan pikiran bawah sadar seseorang yang tertuang di atas kertas melalui otot-otot dan saraf-saraf tubuhnya. Pun sebaliknya, seseorang dapat mengirimkan pesan pada pikiran bawah sadar melalui tulisan tangan. Grafoterapi bertujuan untuk mendapatkan perubahan yang spesifik untuk memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter maupun sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya. Ikhtiar yang dilakukan melalui grafoterapi tersebut selanjutnya akan menjadi respon otomatis dalam diri seseorang.

Grafologi. Teknik membebaskan anak dari pola. Berkarakter dan berdaya cipta

Dalam dunia pendidikan anak usia dini, guru adalah pelatih yang akan mengarahkan atau membantu secara sistematis anak didiknya sesuai dengan konsep dan tujuan yang telah ditetapkan. Bekal ilmu grafologi akan sangat berguna sebagai bekal mereka sehingga mereka tidak asal saja dan ngawur dalam memilih materi latihan untuk pembelajaran anak. Dengan pertolongan Allah, siang ini mereka akan paham, yakin dan penuh rasa percaya diri saat memutuskan untuk para anak didik mereka yang pintar, lucu dan polos itu:

  1. Memilih tulisan baku dengan huruf cetak atau bersambung?
  2. Menjaga keseimbangan 3 zona penulisan atau membiarkan anak-anak mengabaikannya?
  3. Melatih ketelitian dalam penggunaan huruf kapital atau tidak?
  4. Membiarkan anak membuat coretan di awal dan akhir kata atau mencegahnya?
  5. Sebagai guru menggunakan komunikasi dengan tulisan yang dibubuhi emoticon atau tidak?

Dalam grafologi semua ada konsekuensi dan implikasinya. Sebagai guru tentu saja kita harus memilih yang terbaik untuk anak didik kita. Jadikan alat tulis mereka tongkat sakti yang akan mengantar mereka pada tumbuh kembang kepribadian yang lebih positif dan optimal!

Cemorokandang, 22 Juli 2018

Iin Takim Wahyuni. Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini dan Certified Business Handwriting Analyst

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here