Gerakan Menanam: Menjadi Warga Desa Sesungguhnya

0
90

KampusDesa News_ Bangsa ini sangatlh kaya akan keaneragaman pangan, namun kekayaan alam tersebut seakan-akan tercerabut dari akar bangsa ini. Mayarakat lebih memilih untuk mendapatkan pangan secara instan, dengan membeli tanpa kemudian mau melestarikan dan membudidayakan pangan tersebut. Hal inilah yang menjadi kegelisahan Abdullah Sam, penggagas dan penggerak Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Kabupaten Malang.

“Kalau mau sekarang ayok! Kita bisa manen terong atau bayam di belakang sana” Cak Dul menunjuk area belakang gedung PAUD pesantren rakyat. “kita bahkan bisa manen sampai satu kilo.” Ajaknya kepada peserta Tutut Desa (08/09).

Tim tutur desa yang sebagian besar mahasiswa, duduk melingkar bersama Cak Dul mendengarkan ceritanya: sayur-sayur di kebun boleh diambil semua warga yang membutuhkan. Gratis, agar warga tidak perlu risau hanya untuk makan harian.

“warga itu sebenarnya bisa mandiri, makanan nggak usah import! Meski tida memiliki lahan luas, kita bisa menggunakan polybag yang bisa kita letakkan di teras-teras rumah atau tempat sempit lainnya.” Suara Cak Dul terdengar jelas dan tegas. Menurutnya, menanam sayuran secara mandiri dapat membantu mengurangi jumlah uang belanja harian yang dikeluarkan oleh warga. Mereka bisa memasak terong, setelah mengambilnya dari polybag depan rumah yang sudah mereka rawat.

Cerita Cak Dul membawa saya mengingat beberapa bulan yang lalu, saat harga cabe dan sayuran melonjak naik. Saya yang kala itu masih mahasiswa, harus berpikir dua kali untuk mengonsumsi cabe, dengan uang lima ribu rupiah saya hanya bisa mendapatkan sekitar 15 butir cabe. Saya juga harus menghitung dengan cermat sayur apa saja yang harus saya beli, agar tidak menguras uang bulanan. Sarapan anak kos di kota begitu penuh perhitungan. Barangkali saya hidup di sini, di desa yang dikelola oleh orang-orang yang sadar bahwa kita bisa memproduksi makanan sendiri, mungkin sarapan saya akan menjadi mudah. Lebih mudah hidup di desa, dibanding di kota.

Beberapa teman saya mungkin lebih suka makanan instan seperti mi setan dibanding nasi campur. Lebih suka makan pitza dan kfc dibanding sayur. Tapi itu bukan karena mereka butuh, melainkan pengaruh kata “hits” dan gengsi yang membelit. Pada akhirnya, tiap akhir bulan, di mana dompet menjadi semakin tipis, anak-anak kos yang sebagian besar mahasiswa itu kembali ke warung. Menyapa ibu warung dengan ramah dan memesan tempe mendol atau sayur tewel.

Kami, para anak kos yang hidup di perkotaan sana benar-benar harus kembali menjadi orang desa. Hidup sederhana dengan kemampuan sendiri, bukan sok mewah mengikuti iklan-iklan tapi di waktu yang sama harus sakit kepala untuk sarapan saja. Menanam sendiri apa yang hendak kita makan, bukan membelinya di gerai-gerai modern milik perusahaan. (uus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here