Festival Permainan Tradisional dan Gerakan Kendari Mengajar

0
182

Usaha melestarikan permainan tradisional selalu banyak cara. Meski perubahan teknologi dan informasi semakin mengubah perilaku bermain dari fisik ke virtual, para pegiat Gerakan Kendari Mengajar (GKM) merasa terpanggil untuk memecah aktifitas online non-fisik menggunakan gelar permainan tradisional di Taman Kota Kendari. Waktu mereka dicuri untuk ditukar dengan kegembiraan fisik di tengah zaman virtual.

KampusDesa, Kendari — Kita pasti pernah melihat gedung megah nan menjulang tinggi entah secara langsung maupun tidak. Apa yang terlintas dibenak kita ketika melihat gedung tersebut? Pemodal besar? Arsitektur hebat? Desain yang luar biasa? Dan sederet pemikiran lainnya.

Ya, memang benar mereka semua turut andil. Tapi jarang yang berpikir tentang pekerja kasar yang bekerja siang dan malam hingga fisik bangunan yang dulunya hanya sebuah khayalan kini terlihat nyata di depan mata. Bangunan semegah itu tentu dapat berdiri tidak terlepas dari kontribusi-kontribusi kecil yang seringkali terlupakan oleh banyak orang.

Di sana ada penambang pasir, sopir yang mengangkut bahan baku, perusahaan penyedia bahan baku yang didalamnya terdapat karyawan-karyawan kecil dan masih banyak lagi pihak lainnya yang terlibat.

Berbicara mengenai kontribusi, setiap orang mungkin saja memiliki versi masing-masing. Namun, satu hal yang pasti bahwa setiap kontribusi sekecil apapun itu akan selalu memberikan pengaruh, disadari ataupun tidak. Begitupula yang dilakukan oleh Gerakan Kendari Mengajar (GKM), sebuah organisasi relawan yang memfokuskan kegiatannya pada bidang pendidikan.

Organisasi ini terletak di provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di kota Kendari. Mungkin tak banyak yang tahu keberadaannya, tapi para kontributor yang terlibat didalamnya akan tetap berkarya demi memberikan sebuah arti dari berbagi. Kini usia GKM telah memasuki tahun ke-5. Tidak sedikit kontribusi yang telah diberikan dan bukan hal yang mudah untuk menjaga agar organisasi ini tetap ada. Semua itu tidak terlepas dari andil para pemercaya tulus didalamnya sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh koordinator GKM, kak Asni.

Tarik Tambang

Tepat pada tanggal 15 Juli 2018, dalam rangka apresiasi 5 tahun GKM berkarya, organisasi ini kembali memberikan berbagai kontribusi positif salah satunya adalah dengan menggelar festival permainan tradisional.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Kemajuan teknologi walaupun memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, namun tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Kehadiran gadget seringkali menyita sebagian besar porsi waktu kita untuk dihabiskan dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.

Game online dan media sosial telah melahirkan individu-individu yang aktif di dunia maya namun pasif didunia nyata. Jadi tidak mengherankan jika kita sering menjumpai orang-orang yang individual dan cenderung anti sosial. Akses media sosial yang semakin mudah menjadikan penggunanya bebas berekspresi, namun sangat disayangkan ketika kebebasan berkespresi ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dikagetkan dengan kabar anak SD yang sudah menjalin hubungan asmara, padahal di usia seperti itu adalah saat dimana seharusnya mereka belajar dan bermain. Maraknya kasus bullying antar sesama pelajar dan yang sangat memprihatinkan ketika mereka tanpa segan merekam dan membagikannya seolah-olah itu bukanlah aib bagi pelakunya.

Aksi saling menghujat sesama netizen yang kerap ditemui di kolom komentar di berbagai postingan. Dan masih banyak lagi kasus penggunaan media sosial yang salah kaprah. Belum lagi kehadiran berbagai aplikasi yang sangat tidak mendidik. Padahal, dulu masa kanak-kanak lebih banyak dihabiskan dengan bermain, berbeda dengan generasi saat ini.

Oleh karena itu, GKM berinisiatif menyuguhkan permainan tradisional yang telah tergerus arus teknologi. Festival permainan tradisional ini dimaksudkan untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional yang kaya akan budaya. Permainan tradisional juga merupakan identitas dan kekayaan bangsa yang harus dijaga.

Nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan

Ada banyak nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan. Selain itu, permainan tradisional juga dapat melatih emosi, seperti toleransi, sportifitas, dan empati.

Bakiak Kelompok

Kegiatan ini digelar beberapa waktu lalu di Taman Kota Kendari dan menarik perhatian hampir setiap orang yang melihatnya. Ada berbagai kalangan yang tertarik ikut serta, tua dan muda, pria maupun wanita. Adapun jenis permainan yang disuguhkan antara lain egrang, sodokoro, tarik tambang, bakiak, gasing, masuke, ketapel tangan, lompat tali, kalego, balap karung, dan panahan.

Semua jenis permainan ini dulu sangat popular diprovinsi Sulawesi Tenggara dan mungkin juga didaerah lain yang ada di Indonesia. Selama kegiatan berlangsung, terlihat keceriaan di wajah para peserta. Ini menandakan bahwa permainan seperti ini sebenarnya disukai oleh setiap kalangan. Kini adalah tugas kita untuk mempopulerkannya kembali.

Kegiatan tersebut mungkin tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh generasi kita saat ini, namun harapannya adalah hal tersebut mampu membawa perubahan positif sekecil apapun itu. Sebagaimana GKM telah memberikan kontribusinya, Anda juga bisa memberikan kontribusi terbaik sesuai versi masing-masing. Selama itu positif, maka selalu ada yang akan menanti karya-karya tersebut. Salam hangat GKM, mengajar, mendidik, dan menginspirasi.

Kendari, Juli 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here