Etika “Diam Itu Emas” dalam Politik Praktis

0
90

Sebagai wakil rakyat, politisi tidak hanya menyuguhkan kebisuan ketika isu gonjang-ganjing yang membutuhkan reaksi dari mereka. Atau barangkali memang hubungan rakyat dan wakilnya tidak lagi penuh kepercayaan. Para politisi semestinya tidak diam tetapi mereka selalu menjadi juru bicara rakyatnya. Sebelum semua masyarakat menjadi lebih kurang percaya kepada para politisi.

Semua orang pasti mengerti dan paham tentang istilah diam itu emas. Secara umum istilah diam dimaknai sebagai proses berpikir, diam dalam mencari makna, diam bukan berarti bodoh, diam adalah ibadah, diam sedang menyerap ilmu, diam sedang menahan amarah dan istilah lain yang familiar sehingga diam itu adalah emas. Emas diibaratkan sebagai perhiasan paling berharga di dunia yang tidak semua orang bisa memiliki, namun saking istimewanya makna diam maka emas pun tak cukup untuk mewakilinya karena diamnya seseorang mengandung

nilai ibadah karena memiliki kekuatan luar biasa ketika harus menahan diri dari segala amarah, nafsu, kejahatan dan perbuatan buruk lainnya.

Diam itu emas merupakan lawan dari air beriak tanda tak dalam. Mengapa majas hiperbola “emas” menjadi kontras ketika harus disandingkan dengan peribahasa air beriak tanda tak dalam? Jawabannya sederhana yaitu perbahan makna secara drastis. Air beriak memiliki ciri atau sifat selalu bersuara atau mengeluarkan suara yang keras dan berisik sedangkan tanda tak dalam memiliki ciri batas dataran yang rendah, apabila dataran tersebut digali terus maka akan cepat habis volume atau isi di dalam daratan tersebut. Sama halnya jika seseorang terlalu vokal dalam mengeluarkan pendapat atau terlalu berlebihan dalam menyatakan pendapat maka sesuatu yang diucapkannya memiliki sedikit kebaikan dan lebih banyak keburukannya. Dalam arti yang lebih luas, pembicaraan yang kurang memberikan manfaat bagi orang lain akan diisi dengan ego, sikap riya dan provokatif.

Jika kita hidup dalam rezim teknologi yang konon katanya industri 4.0 maka media elektronik berperan besar dalam menciptakan ruang hibridisasi antara diam emas dengan air beriak. Namun ironis, ketika media elektronik sebut saja media sosial atau semacamnya, diisi penuh dengan sikap emosi dan menjelek terlebih lagi dengan berita hoax (palsu). Kita sebenarnya diam di mulut tapi keras bersuara dalam dunia maya. Perlu diketahui perasaan seseorang ketika membaca lebih emosional ketika sekedar mendengarkan pembicaraan, karena dalam membaca kita melakukan proses berpikir hingga proses menentukan tindakan setelah membaca. Saat-saat fitnah, rasa benci, saling menjatuhkan sesama makhluk bertebaran di media sosial kita mencermati dengan seksama bahwa kabar-kabar miring tersebut muncul saat kontestasi pemilu akan dan sedang berjalan.

Kontestasi tersebut dibentuk berdasarkan rasa benci terhadap kandidat lainnya. Dapat dilihat ketika salah satu tim sukses melakukan manuver dengan mencoba membongkar aib lawannya, maka secara otomatis pihak yang merasa diserang langsung membalas dengan aib kebencian juga. Lebih parah lagi jika masyarakat umum terlanjur mengkonsumsi kabar-kabar yang provokatif. Etika menjadi relevan saat ini dan akan selalu relevan karena kehidupan manusia terus menerus ditandai oleh pertarungan (konflik) antar kekuatan baik (good) dan kekuatan jahat (evil).

Etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara, terhadap hukum yang berlaku dan lain sebagainya.

Lalu bagaimakah etika yang seharusnya dibentuk dalam politik praktis? Etika politik termasuk dalam kelompok etika sosial yakni yang membahas norma-norma moral yang seharusnya menimbulkan sikap dan tindakan antar manusia, karena dia merupakan makhluk sosial.  Etika bersifat reflektif yakni memberikan sumbangan pemikiran tentang bagaimana masalah-masalah kehidupan dapat dihadapi, tetapi tidak menawarkan tentang bagaimana cara memecahkannya. Dengan demikian etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sebagai warga negara terhadap negara, terhadap hukum yang berlaku dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan mampu menyampaikan pesan moral sebagai dasar etika politik bagi individu dan masyarakat pada umumnya. Diam emas adalah kunci dalam etika politik karena tidak pantas kita menyebarluaskan berita-berita buruk yang kita tidak tahu akar permasalahannya (menjadi sok tahu). Hal ini sama saja jika kita meneruskan berita-berita tersebut, justru kita sendiri termasuk penyebab konflik. Jika kita tidak terima paslon jagoan kita dihina maka tahanlah emosi dan tidak menghina lawan politik maka diam itu emas!

Manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik.

Terdapat tiga golongan dalam political zoon yaitu kaum optimis dan liberalis naif (politik sebagai kemajuan), kaum pesimis dan kritikus ideologi (politik identik dengan korup) dan kaum realis sejati. Sebagai manusia modern kita hendaknya berpikir realis sejati bagi kita yang jauh dari lingkar kekuasaan, politik merupakan perpaduan antara baik dan buruk manusia. Jika pada dasarnya manusia adalah jahat, maka tak mungkin ada politik (pemerintahan). Kemudian, jika semua manusia adalah baik, maka tak perlu ada politik (pemerintahan). Jadi harus diakui bahwa manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik.

Kritik justru kita sampaikan pada mereka yang berada pada lingkar kekuasaan semestinya memahami, diam tak selalu emas. Diam bahkan bisa berubah menjadi dosa. Dosa karena tak berbuat apa-apa ketika tahu akar kebenaran dari suatu masalah (pengabaian janji kampanye). Tak selamanya diam itu emas karena bicaralah untuk sebuah pembelaan akan kebaikan (membela kepentingan masyarakat). Diam itu bukan emas, ketika negara dan bangsa kita sedang difitnah ataupun dihujat. Bicaralah untuk membawa perbaikan bangsa dan negara, jangan hanya berbicara dan berjanji tanpa aksi.