Efek Gelembung Bagi Ojek Online

Hanif Nanda Zakaria. Biasa disapa Hanif, saat ini baru saja menyelesaikan proses belajar di pasca sarjana UIN Malang. Aktifitas hariannya banyak dihabiskan di Mojokerto, sembari sesekali ikut program Reading Partner dari penerbit Bentang Pustaka. Bisa disapa lewat surel hanif_nanda@yahoo.com.

0
73

Bagi Anda pengguna telepon pintar, pasti tak asing dengan layanan daring (online). Layanan ini memungkinkan apa yang kita mau bisa secepat mungkin diperoleh. Mau makan, tinggal sentuh jari di layar. Pilih makanan yang diinginkan, lalu pesan. Tak lama, ada yang bersedia mengantar makanan itu tepat di depan pintu rumah kita. Asal, jangan lupa membayar makanan yang telah kita pesan tersebut.

Kampusdesa.or.id- Setelah makan, ingin beli baju? Sangat mudah. Pilih saja baju yang diinginkan. Konfirmasi alamat kita dan metode pembayarannya. Lantas, apa selanjutnya? Tinggal tunggu baju yang kita pesan sampai pada tujuan. Semudah itu. Yang sulit, mungkin mendapatkan kepastian dari pujaan hati. Hehehe.

Dari beragam kemudahan itu, rasanya mustahil bila tidak ada pihak pendukung. Siapa pihak pendukung itu? Tentu tidak lain adalah petugas pengantar. Ia bisa siapa saja, mulai berupa ojek online atau petugas dari BUMN. Mereka juga biasanya memakai metode pengantaran yang beragam. Ada yang memakai sepeda motor, ada yang memakai mobil. Bahkan, di negara maju, mereka memakai drone sebagai pengantar barang.

Ojek itu bisa berupa pengendara motor atau mobil. Mereka siap mengantar Anda kemana saja Anda ingin pergi.

Nah, salah satu layanan yang saat ini sedang digandrungi adalah ojek online. Ojek itu bisa berupa pengendara motor atau mobil. Mereka siap mengantar Anda kemana saja Anda ingin pergi. Dan, tetap jangan lupa membayar bila selesai menggunakan jasa mereka.

Mengapa layanan ini begitu marak? Banyak pendapat tentang hal itu. Bagi pengguna ojek motor, tentu mereka tak repot lagi untuk parkir kendaraan. Terkena macet? Motor bisa saja melalui sela-sela kecil kendaraan di sampingnya. Lalu, bagi ojek mobil, tentu mereka bebas panas dan hujan, selain tak ribet parkir kendaraan juga. Seperti yang ditawarkan penyedia jasa ojek online itu, bebas macet dan tak pusing parkir kendaraan.

Dibalik itu semua, minat pengguna jasa ojek online selaras dengan minat pendaftar ojek online. Dalam sehari, antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang. Apa pasal? Tak lain adalah harapan akan mudahnya mendapat uang. Tinggal pencet, antarkan orang atau barang, uang akan masuk ke dompet mereka. Apalagi didukung dengan mudahnya cara mendaftar sebagai ojek online. Cukup siapkan berkas yang dibutuhkan, dalam sehari saja, Anda sudah aktif menjadi ojek online.

Membludaknya pendaftar ojek itu ternyata mengingatkan kita akan sebuah gelembung. Gelembung itu awalnya kita tiup perlahan. Awalnya memang kecil, namun perlahan ia menjadi besar. Semakin kita tiup, ia akan semakin membesar berkali lipat dari sebelumnya. Lantas, saat sudah sangat besar, apa yang terjadi? Iya, meletus. Dan hilanglah gelembung yang sudah ditiup itu.

Fenomena itu tampaknya bisa saja terjadi pada layanan ojek online. Hari ke hari pendaftar ojek online seakan tidak ada habisnya. Bila dalam satu hari saja antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang.

Fenomena itu tampaknya bisa saja terjadi pada layanan ojek online. Hari ke hari pendaftar ojek online seakan tidak ada habisnya. Bila dalam satu hari saja antrian pendaftar ojek online bisa menyentuh ratusan orang, lantas ada berapa ojek online yang aktif dalam satu kota?

Mengapa bisa demikian? Penelusuran dari salah satu petugas ojek mungkin bisa jadi alasan. Bulan-bulan sebelumnya, dia bisa mendapat banyak orderan dalam beberapa jam saja. Namun belakangan, jumlah order yang dia dapat tak seperti dulu. Padahal dia sudah berusaha menjaga performa. Kebersihan kendaraan, sikapnya pada penumpang, sudah diupayakan semaksimal mungkin. Tapi tak jua banjir order seperti yang dialami sebelumnya.

Keluhan diatas mungkin saja ada benarnya. Dengan menerima pendaftaran setiap hari, tentu semakin banyak ojek online yang aktif. Dengan arti, semakin banyak membuat orang beker;ja. Namun bila tidak ada peningkatan dalam hal pengguna, tentu berimbas pada order yang diterima ojek online.

Memang hal ini masih terlalu dini. Toh, buktinya pendaftar ojek online masih banyak. Namun saat kita tak waspada akan adanya kemungkinan atau ancaman seperti diatas, kiranya konflik atau gesekan antara perusahaan dan ojek online bisa diatasi. Wallahu a’lam.

Editor: Fathan Faris Saputro