Disabilitas dalam Novel Bumi Manusia

0
40
Gambar diambil dari CNN Indonesia

Pramoedya Ananta Toer dikenal luas sebagai sastrawan yang mampu mendedah realitas sosial di era kolonial dengan apik melalui karya-karyanya. Tak hanya itu, dalam setiap karyanya, Pram juga menyisipkan pesan-pesan kehidupan yang sarat makna. Dalam novel Bumi Manusia misalnya, ia mengisahkan bagaimana kisah perjuangan Jean Marais, seorang difabel veteran perang Aceh berdarah Perancis yang harus mengalami banyak hal pahit atas kondisinya ini, salah satunya diskriminasi. Namun demikian, ia tetap kokoh pada dirinya.

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.”
— Jean Marais, halaman 274

Kampusdesa.or.id–NOVEL Bumi Manusia adalah novel luar biasa karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini telah meraih berbagai penghargaan, diantaranya Freedom to Write Award (1988), UNESCO Madanjeet Singh Prize (1996), Fukuoka Cultural Grand Prize (2000), dan berbagai penghargaan internasional lainnya.

“Belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”

Tokoh utama novel, Minke, diceritakan memiliki sahabat baik, Jean Marais. Jika Minke dalam kebingungan atau kesulitan, Jean Marais adalah orang pertama tempat curahan hatinya. Banyak petuah-petuah Jean Marais mempengaruhi pemikiran Minke. Lewat karakter Jean Marais pula PAT menelurkan kata-kata: “Belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Petuah itu selalu diingat Minke.

Jean Marais adalah seorang pelukis dari Prancis. Pernah sekolah di Sorbonne. Ia meninggalkan bangku sekolah mengikuti suara hatinya, mencurahkan kekuatan sepenuhnya pada seni lukis. Ia tinggal di Quartier Latin di Paris, menjajakan lukisan-lukisannya di pinggir jalan. Karya-karyanya selalu laku, tapi tak pernah menarik perhatian masyarakat dan dunia kritik Paris. Sambil menjajakan lukisan ia juga mengukir.

Lima tahun telah berlalu. Jean Marais bosan pada lingkungannya, pada Eropa. Ia berpetualang ke Maroko, Libya, Aljazair, dan Mesir namun tak juga menemukan sesuatu yang dicarinya dan tetap tak bisa menciptakan lukisan sebagaimana ia impikan. Sampai di Hindia uangnya habis. Jalan satu-satunya adalah masuk Kompeni. Ia masuk, mendapat latihan beberapa bulan, dan berangkat ke medan-perang di Aceh. Jean Marais dikirim ke Aceh sebagai Spandri (serdadu kelas satu). Komandan regunya, Kopral Bastian Telinga, seorang Indo-Eropa. Sekiranya Marais bukan orang eropa totok, ia hanya akan menjadi serdadu kelas dua. Mulailah ia hidup diantara serdadu-serdadu Eropa totok seperti dirinya sendiri, yang juga tak tahu Belanda: orang Swiss, Jerman, Swedia, Belgia, Rusia, Hongaria, Romania, Portugis, Spanyol, Italia—hampir semua bangsa Eropa.

“Pengalaman perang di Aceh mengubah pandangan Jean Marais tentang pribumi. Ternyata kemampuan mereka tinggi, hanya peralatannya rendah; kemampuan berorganisasinya juga tinggi”

Pengalaman perang di Aceh mengubah pandangan Jean Marais tentang pribumi. Ternyata kemampuan mereka tinggi, hanya peralatannya rendah; kemampuan berorganisasinya juga tinggi. Sebaliknya, ia juga mengakui kehebatan Belanda dalam memilih tenaga perang. Jean Marais mulai mencintai dan mengagumi bangsa pribumi yang gagah perwira, berwatak dan berpendirian kuat. Hingga ia mendapatkan seorang wanita yang dulu menjadi musuhnya menjadi wanita yang dicintainya dan juga seorang anak perempuan, May.

Dari perang Aceh itu pula Marais kehilangan satu kakinya. Ia hidup bersama May di Surabaya bergantung pada uang pensiun tentara dan keahliannya melukis dan mengukir. Namun meski ia hidup sebagai warga eropa yang pada masa itu termasuk warga kelas satu, monsieur Marais tetap mengalami diskriminasi. Ini tercermin dari kalimat yang dipilih PAT dalam novel.
Dunia sekelilingku ramai. Meriam pun berdentuman. Di hati aku tetap nelangsa. Jadi pergilah aku seperti biasa ke tetangga sebelah, Jean Marais, orang Prancis berkaki satu itu. [BM hal. 4]

Betapa mengibakan nasib gadis kecil ini, juga ibunya, lebih-lebih sahabatku Jean Marais sendiri –di negeri asing tanpa hari depan, kehilangan sebelah kaki pula. Ia sering bercerita sangat mencintai istrinya. Dan anak ini adalah anak tunggal – kini tanpa ibu untuk selamalamanya, hanya punya seorang ayah berkaki satu. [BM Hal. 7]

Minke tokoh utama novel mencari tambahan uang saku dengan mengumpulkan orderan mengukir dan melukis bagi Jean Marais. Seperti minke yang tergantung pada petuah dan pendapat sahabatnya, Marais juga sering tergantung pada Minke untuk membantu mengasuh May jika anak itu pulang-pergi sekolah atau ingin berjalan-jalan. Stigma sosial yang kuat bahwa menjadi orang cacat itu menimbulkan omongan dan pandangan negatif membuat Marais nyaris tidak ingin keluar rumah. Minke berusaha membuat Marais lebih percaya diri untuk bersosialisasi.

“Baiklah. Kau mau mengajak jalan-jalan May sore ini, kan? Kau tak pernah membawanya!” tuduhku menyesali. “Dia ingin berjalan-jalan denganmu.”
“Belum bisa, minke. Kasihan dia. Orang akan menonton kami berdua. Pada suatu kali dia akan dengar mereka bilang: Lihat Belanda buntung pincang dengan anaknya itu! Jangan, Minke. Jiwa semuda itu jangan dilukai dengan penderitaan tak perlu, sekalipun cacad ayahnya sendiri. Dia hendaknya tetap mencintai aku dan memandang aku sebagai ayahnya yang mencintainya, tanpa melalui suara dan pandang orang lain.”
“Kau tak pernah setuju dengan perasaan kasihan, Jean,” aku menegur.

“Kau benar, Minke. Pernah kuceritai kau, kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya. Aku tak punya kemampuan, Minke.”

“Dulu, kaum difabel sebelum masa kolonial sangat dihormati, dimanusiakan. Mereka menjadi dihargai karena dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa, harmonisasi itu penting”

Novel Bumi Manusia memang sarat dengan nilai-nilai sosial. Disini tidak hanya menceritakan pertentangan kelas pribumi lawan eropa, priyayi versus rakyat jelata, relasi cinta dan kuasa namun juga nilai-nilai persamaan derajat. Pembacanya diajak kembali kepada pandangan masyarakat jawa zaman dulu sebelum era kolonialisme. Dulu, kaum difabel sebelum masa kolonial sangat dihormati, dimanusiakan. Mereka menjadi dihargai karena dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa, harmonisasi itu penting. Salah satu caranya dengan penghormatan kepada semua kaum, termasuk difabel. Masyarakat jawa memiliki kisah punokawan yang semuanya bertubuh aneh namun bijak, pintar, pemberani dan baik hati.

Masyarakat Indonesia memiliki gambaran ideal tentang bagaimana memperlakukan difabel di sekitarnya. Namun gambaran ini menjadi berubah ketika masa kolonial terjadi di Indonesia. Masyarakat eropa yang sangat mementingkan aspek fisik membuat kaum difabel terpinggirkan dan mengalami stigma. Hingga saat ini.

Agaknya PAT ingin memberikan ajaran tentang cara menghargai kaum difabel yakni dengan menunjukkan prestasi dan kemampuannya bukan kondisi fisiknya.
“Tahukah para hadirin siapa yang melukis potret hebat di atas itu ? Seorang pelukis berbakat! Bukan pelukis sembarang pelukis. … Kan demikian, Tuan Jean Marais? Ya, para hadirin, pelukisnya seorang Prancis, negeri yang punya tradisi besar di bidang seni. Tuan Marais, silakan berdiri…” Nampak olehku Tuan Telinga menolong Jean Marais berdiri, dan hadirin bersorak gegap-gempita.