Dinamika Pedesaan, Modal Pembangunan yang Masih Tersisa

0
151

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa pedesaan merupakan wilayah yang sedikit terpinggirkan dalam bingar-bingar pembangunan di era modern terutama arah kebijakan yang sifatnya pro terhadap pertumbuhan ekonomi. Pembangunan era serba modern sudah pasti mengutamakan tuntutan serba cepat sehingga mengakibatkan adanya kelemahan dalam mengakomodir pemerataan. Salah satu indikator pertumbuhan yang serba cepat ditandai oleh peningkatan Produk Domestik Bruto sektor industri. Data dari kementrian perindustrian menunjukkan sektor industri pengolahan non migas menyumbang 18 persen sedangkan sektor pertanian menyumbang 13,6 persen di tahun 2017.

Bagi daerah yang roda perekonomiannya didominasi oleh sektor industri sangatlah wajar apabila upah minimum lebih tinggi dari daerah bukan industri.  Kenaikan taraf hidup tersebut sudah pasti dibarengi dengan kemudahan pelayanan kebutuhan hidup yang menopang kehidupan masyarakat industri serta menarik minat pekerja dari berbagai daerah termasuk pekerja dari daerah pedesaan walaupun mereka datang ke daerah perantauan berbekal ketrampilan seadanya.

Padahal jika dicermati, kondisi pedesaan tidak kalah dengan perkotaan dalam menghasilkan pundi-pundi uang. Tengok saja berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah yaitu pertanian, peternakan, perikanan maupun potensi yang lainnya bisa dijadikan sumber penghasilan utama pagi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan. Namun kenyataan tak selalu demikian, kondisi pembangunan di pedesaan tidaklah secepat di perkotaan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pedesaan ibarat jiwa bagi Indonesia dengan slogan negara agraris loh jinawi yang semakin terpuruk akibatnya jika kebijakan pembangunan tak mengarah pada kesejahteraan masyarakat pedesaan maka Indonesia kehilangan jati diri sebagai negara agraris.

Jati diri ini sangatlah penting mengingat pembangunan yang memprioritaskan sektor pertanian merupakan langkah pembangunan yang sustainable development (pembangunan yang berkelanjutan) yang tidak dimiliki oleh sebagian besar sektor perindustrian. Meskipun sebenarnya industrialisasi di bidang pertanian juga bisa dimaksimalkan namun pembangunan pertanian lebih mengarah ke perlindungan ekosistem alam dengan memperhatikan daya dukung lahan, keberlanjutan sumberdaya alam, dan tidak kalah penting adalah mengurangi tingkat kemiskinan.

Lalu mengapa pedesaan sampai saat ini masih bisa eksis ditengah derasnya perubahan struktur perekonomian dari pertanian ke perindustrian. Selain keberadaan sumberdaya alam sebagai penunjang hidup mereka faktor lainnya adalah modal sosial yang tinggi. Modal sosial menunjuk pada perilaku sosial dan organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringan-jaringan sosial yang dapat memfasilitasi tindakan kolektif.

Modal sosial ditekankan pada kebersamaan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup bersama dan melakukan perubahan yang lebih baik serta penyesuaian secara terus menerus. Dalam hal itu, Burt (1992) mendefinsikan modal sosial sebagai kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain sehingga menjadi kekuatan yang sangat penting, bukan hanya terhadap aspek ekonomi, tetapi juga terhadap setiap aspek eksistensi sosial yang lain.

Dimensi modal sosial lainnya adalah tipologi modal sosial. Modal sosial dapat berbentuk bonding ataupun bridging. Modal sosial yang berbentuk bonding yaitu modal sosial dalam konteks ide, relasi, dan perhatian yang berorientasi ke dalam (inward looking). Bentuk modal sosial semacam ini umumnya muncul dan berada dalam masyarakat yang cenderung homogen. Putnam (1993) mengistilahkan masyarakat dengan bonding social capital sebagai ciri sacred society, yakni masyarakat yang terdominasi dan bertahan dengan struktur masyarakat yang totalitarian, hierarchical, dan tertutup oleh dogma tertentu.

Pola interaksi sosial sehari-hari masyarakat semacam itu selalu dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang hanya menguntungkan level hierarki tertentu. Terdapat sosok penting dalam modal sosial ini, seseorang yang dianggap sesepuh/ kamituo masih menjadi sosok yang berpengaruh karena dinilai telah mengetahui seluk beluk tradisi masyarakat setempat sehingga menempati posisi strategis di pedesaan.

Berbeda dengan bonding, modal sosial yang berbentuk bridging bersifat inklusif dan berorientasi ke luar (outward looking). Bridging social capital ini mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki individu dalam kelompok. Bridging social capital diasumsikan dapat menambah kontribusi bagi perkembangan pembangunan dengan melakukan kontak dan interaksi dengan kelompok di luarnya.

Coleman (1999) menganggap bahwa tipologi masyarakat yang cenderung menciptakan jaringan ke luar dalam gerakannya lebih mampu memberikan tekanan untuk melakukan upaya bersama dengan kelompok di luar mereka. dalam tipologi ini nampaknya masyarakat pedesaan masih belum bisa memberi tawaran yang memadai dengan dunia luar. hal ini dikarenakan kualitas sumberdaya manusia masih rendah. hal ini bisa dilihat dari minimnya inovasi produk pertanian lokal masyarakat pedesaan. berbading terbalik dengan inovasi yang terdapat di daerah perkotaan.

Modal sosial bonding dan bridging ini bisa dijadikan pijakan ketika kebijakan pembangunan memberikan porsi lebih pada masyarakat pedesaan. Artinya pemerintah memberikan stimulus penguatan ekonomi pedesaan dengan meningkatkan inovasi produk pertanian pada tingkat yang lebih lanjut sehingga produk pertanian bisa bersaing dengan produk lain dengan dibukanya jaringan pemasaran yang jelas. Selain itu industrialisasi sektor pertanian bisa dibentuk ketika produksi dan pengolahan ditempatkan pada daerah pedesaan yang strategis. Pelibatan tenaga kerja lokal juga ditekankan dalam menjalankan perekomian yang sifatnya lokal. Setidaknya, kegiatan yang lebih progresif di sektor pertanian membutuhkan komitmen politik dari pemangku kepentingan sehingga pertanian di Indonesia kembali bergairah.

Burhanudin Mukhamad Faturahman
Dosen Ilmu Pemerintahan UNISDA Lamongan, Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Daftar Rujukan

Burt. R.S. 1992. “Excerpt from The Sosial Structure of Competition”, dalam Structure Holes: The Social Structure of Competition. Cambridge, MA, and London: Harvard University.

Coleman, J. 1999. Social Capital In The Creation Of Human Capital. Cambridge Mass: Harvard University Press.

Putnam, RD. 1993. “The Prosperous Community: Social Capital and Public Life”. The American Prospect 3:35-42.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here