Dilema Memilih Content dan Kemasan (2)

0
63
Seorang anak PAUD Islam, sedang belajar mengenal alam

Konten dalam bentuk gambar, seorang keluarga muslim yang berfoto lalu diunggah ke media online, sangat jarang memainkan permainan alam atau tradisional. Kebanyakan ditemukan menggambarkan praktik-praktik beragama. Lalu kemana konten seorang berpakaian muslim tetapi bermain di alam dan permainan tradisional ? Sudah saatnya keluarga muslim mengupload aneka praktik-praktik umum dan mengambil gambar untuk menguploadnya di media maya. Kita bisa mendapatkan beridentitas muslim tapi memainkan permainan tradisional.

KampusDesa.or.id–Selain memiliki kekayaan budaya, Nusantara juga memiliki kekayaan khazanah permainan tradisional yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Hampir 60 jenis jumlahnya, bisa lebih bahkan. Negeri dan budaya mana yang bisa menandingi?

Lalu kenapa di dunia internet atau medsos kita lebih mudah menemukan para orang tua yang selfie dengan anak-anaknya dengan gaya begitu-begitu saja? Kalau ada sedikit bergaya, ya ulah orang tua yang nampang di Tik-tok dengan menjewer-jewer atau mengobok-obok muka anaknya. Pokoknya lucu saja. Walau tidak etis alias kurang mendidik. Jauh dari inspiratif.

Sedangkan kalau ada gambar yang menunjukkan orang tua sedang mendampingi anaknya belajar, ya terbatas di dalam ruangan dengan buku-buku saja.  Bisakah pemirsa menebak visi dan tingkat kreatifitas mereka? Bukankah yang sering dilakukan spontan atau tercetus begitu saja dari alam bawah sadar seseorang justru mencerminkan kepekatan nilai yang tersemat dibalik itu? Seolah ada kesepakatan bersama di antara para orang tua kita bahwa dunia pembelajaran memang berseberangan dengan dunia bermain.

Kalau belajar itu ya harus duduk anteng dan tenang di dalam ruangan dengan alat tulis dan buku-buku. Kalau banyak bergerak, bermain dan berpeluh-peluh di alam walau itu untuk menggali atau mempelajari sesuatu tetap saja hal seperti itu dianggap bermain belaka. Itu mah cuma bikin kotor, riskan kena kuman dan nambahin tumpukan cucian kotor saja!

Kembali ke khazanah permainan tradisional. Apalagi ini yang labelnya jelas-jelas ‘permainan.’ Tradisional lagi. Sudah lekang. Tak laik. Ketinggalan. Kata siapa? Hayo kata siapa? Dasarnya apa berpendapat seperti itu. Kalau anak-anak yang bilang, ya karena mereka tidak diperkenalkan dan dikondisikan dengan baik pada khazanah permainan tradisional.

Walau bukan pihak orangtua yang awalnya berpendapat seperti itu, sungguh merekalah yang mengondikasikan anaknya dengan baik supaya lengket pada hape. Sebelum orang tua berhasil mentradisikan untuk mengeksplorasi alam bersama anak-anaknya demi pembelajaran yang realistis dan menyenangkan. Sebelum orangtua berhasil mengajak anak-anaknya memainkan permainan-permainan tradisional yang seru dan mengasyikkan hingga ketagihan dan jasmani mereka menuai manfaatnya!

Ribet katanya. Nanti jadi sering di luaran, terpapar pergaulan kurang baik, kecapekan dan kulitnya hitam. Anehnya, justru orangtua tenang-tenang saja membiarkan anaknya tenggelam bermain hape tanpa kontrol dan pengawasan. Tanpa bimbingan dan pembekalan. Tanpa contoh pemakaian yang bijak dan produktif juga. Padahal justru isinya adalah belantara informasi yang penuh perangkap berbahaya. Laten dan bisa permanen.

Jadi, masih suka berkutat pada dilema kemasan saja? Menganggap adegan atau gambar orangtua dan anak yang tengah asyik mengeksplorasi alam untuk belajar dan bermain itu kurang layak untuk ditampilkan jika tidak dikemas dengan busana muslim? Hati-hati lho… bisa mandeg sebatas kulit!

Ada begitu banyak mutiara ilmu berserakan di tengah alam. Ada banyak manfaat dan hikmah dalam permainan tradisional. Sayang jika pemahaman anak dikunci sebatas teori dan wacana, orangtualah yang harus pertama kali memantikkan daya kritis, rasa keingintahuan hingga suka melakukan praktek dan penelitian pada anak-anaknya.

 

Kalau memang menginginkan gambaran ideal, jangan malah busana muslimnya jadi penghalang untuk mengajak anak-anak menadabburi ayat-ayat Qouniyah Allah di tengah alam. Ada begitu banyak mutiara ilmu berserakan di tengah alam. Ada banyak manfaat dan hikmah dalam permainan tradisional. Sayang jika pemahaman anak dikunci sebatas teori dan wacana, orangtualah yang harus pertama kali memantikkan daya kritis, rasa keingintahuan hingga suka melakukan praktek dan penelitian pada anak-anaknya.

Lalu… dokumentasikan momen-momen indah dan berharga itu. Tak mengapa dibagikan di internet atau media sosial jika niatnya untuk menginspirasi dan memotivasi keluarga lainnya. Hingga jagat maya kita penuh dengan gambar-gambar keluarga muslim dengan kegiatan yang berkualitas lagi layak ditiru. Hingga gambar-gambar seronok penuh unsur pamer dan konsumtif tenggelam dengan sendirinya. Dan saya tidak perlu berlama-lama kalau ingin mencari gambar-gambar indah yang merepresentasikan nilai-nilai yang senada dengan pikiran saya. Nah, sudah ngehkan solusinya ada di tangan siapa?

Salam damai ceria untuk seluruh keluarga Indonesia! (Tamat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here