Diaspora Muda: Generasi Emas Untuk Indonesia Emas 2045 (1)

1
289

Apa itu diaspora ? Seorang keturunan warga negara Indonesia yang merantau di luar Indonesia untuk sementara waktu atau menetap. Cukup banyak jumlahnya, jutaan. Ini membuktikan jika keturunan Indonesia menyebar di seantero dunia. Mungkinkah mereka bisa berkonstribusi ? Apalagi jika mereka para profesional. Tentunya ketika di negeri orang mereka dipercaya, tidak membayangkan bagaimana ketika mereka berkonstribusi untuk Indonesia ? Apalagi kita sedang ditunggu sebagai masa Indonesia Emas 2045 ?

Berbicara tentang pemuda, ada sebuah kutipan yang sangat popular dari bapak pendiri bangsa Ir. Soekarno, yaitu “beri aku sepuluh orang pemuda maka akan ku guncang dunia!”. Berdasarkan pernyataan ini, maka pemuda dapat didefinisikan sebagai generasi emas yang akan membangun peradaban bangsa sebuah negara bahkan dunia melalui semangat juangnya dan melalui prestasi serta ide cemerlangnya.

Musthafa Al-ghulayyani dalam kitab Jazariyyah juga pernah mengatakan bahwa “Sesungguhnya di tangan pemuda hari ini adalah perkara-perkara umat dan masa depan umat ada pada pemuda hari ini.” Sebuah harapan yang memang tidak main-main ini telah disematkan. Nasib bangsa dan negara berada di tangan para pemudanya. Amanah bangsa Indonesia dititipkan kepada generasi muda.

Lalu bagaimana peran pemuda itu sesungguhnya, khususnya para diaspora muda di berbagai belahan dunia dalam menyambut Indonesia Emas 2045 nanti?

Mengacu pada Kongres Diaspora Indonesia ke-4 yang diselenggarakan di Kasablanka Hall – Jakarta pada tanggal 1-4 Juli 2017, Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global (IDNG) Dino Patti Djalal menyatakan bahwa Indonesia memiliki jumlah diaspora yang termasuk 10 besar di dunia. Mereka berjumlah 6-8 juta yang berstatus WNI dan sekitar 10-15 juta orang keturunan Indonesia.

Dari jutaan diaspora tersebut, hanya kurang lebih dua juta orang merupakan TKI yang memberikan kontribusi nyata ke Tanah Air sekitar 10 miliar dolar AS per tahun. Sementara sisanya merupakan profesional, seniman, dan pelajar yang kontribusinya untuk Indonesia belum bisa dihitung secara jelas. Padahal mereka memiliki bakat dan keahlian yang telah terbukti di kancah internasional (Kompas Online, 2017). Hal ini dikarenakan karakteristik diaspora muda Indonesia yang umumnya middle class dan pemalu.

Sebagian diaspora muda meski sebagai aset bangsa namun masih ada yang tidak peduli (acuh) terhadap nasib Indonesia. Padahal diharapkan apa yang didapatkan di luar negeri melalui pendidkan dan karirnya memberikan dampak positif terhadap kemajuan Indonesia.

Diaspora muda perlu didorong agar tidak cenderung low profile dan kurang percaya diri. Parahnya, sebagian diaspora muda meski sebagai aset bangsa namun masih ada yang tidak peduli (acuh) terhadap nasib Indonesia. Padahal diharapkan apa yang didapatkan di luar negeri melalui pendidkan dan karirnya memberikan dampak positif terhadap kemajuan Indonesia. Jika mereka semua bersinergi membangun negeri, alangkah mudahnya visi dan misi Indonesia Emas 2045 itu terwujud.

Jika kembali lagi menengok sejarah, telah tercatat kiprah pemuda-pemuda yang tidak kenal waktu dan selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka pun tidak terlepas dari peran pemuda. Berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti H. Oemar Said Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Bung Tomo, KH. Hasyim Ashari, Moh. Yamin, Prof. Soepomo, Ki Hajar Dewantara, KH. Wahid Hasyim, Kahar Mudzakar, H. Agus Salim dan lain-lain maka Indonesia mengalami kebangkitan penting dan melahirkan perubahan besar bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Mereka telah mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara. Mereka adalah tokoh-tokoh pemikir dan penggerak massa untuk menghadapi para penjajah yang mulai melakukan perlawanan dari segala penjuru Indonesia, serta yang telah mencanangkan sebuah dasar negara Indonesia (merumuskan Piagam Jakarta hingga Pancasila).

Lantas pertanyaannya sekarang adalah “apakah masih ada pemuda seperti mereka? Akankah Indonesia kembali berjaya?” Jawabannya adalah “tergantung peran para pemudanya”.

Akan tetapi mungkin sudah tidak relevan lagi jika pemuda masa kini harus turun lapangan, turut andil dalam berjuang dan ikut berperang melawan penjajah. Namun penjajahan dan peperangan zaman sekarang adalah menghadapi problematika-problematika yang tengah melanda bangsa ini, antara lain merosotnya moral dan identitas bangsa, kedaulatan dan ideologi negara mulai terancam, tergerusnya budaya dan warisan Indonesia, soal toleransi dan multikulturalisme, persaingan global, kekurangan tenaga kerja terampil dan lowongan pekerjaan, kualitas pendidikan dan inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), korupsi merajalela, isu radikalisme/ekstremisme/terorisme, penegakan demokrasi, konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan masih banyak lagi.

Diapora muda Indonesia memiliki kemampuan intelektual yang tidak kalah dengan negara-negara lain, diyakini memiliki international knowledge (pengetahuan internasional) luar biasa yang mampu melihat Indonesia dalam perspektif global, dan juga memiliki kompetensi untuk berdaya saing

Mengingat diaspora muda merupakan generasi penerus sebuah bangsa (kader bangsa), mereka diharapkan mampu sebagai agen perubahan (agent of change), berpotensi sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa, dan sumber insani bagi pembangunan bangsa. Diapora muda Indonesia memiliki kemampuan intelektual yang tidak kalah dengan negara-negara lain, diyakini memiliki international knowledge (pengetahuan internasional) luar biasa yang mampu melihat Indonesia dalam perspektif global, dan juga memiliki kompetensi untuk berdaya saing sehingga dapat mendorong kemajuan Indonesia di tingkat global.

Harapan dan potensi pemuda tersebut sejalan dengan pencanangan Indonesia emas 2045. Di dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian, dicanangkan bahwa pada 2025 Indonesia menjadi negara mandiri, maju, adil, dan makmur berpendapatan per kapita sekitar 15.000 dollar AS. Saat itu, Indonesia diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. Lebih jauh, pada 2045 Indonesia diproyeksikan menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi di dunia dengan pendapatan per kapita 47.000 dollar AS. Tahun 2045 akan menjadi momentum paling penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Karena tahun itu merupakan tonggak sejarah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada usia 100 tahun.

Selain itu, di dalam kurun 2015-2045 piramida penduduk Indonesia akan sangat ideal dengan penduduk mayoritas berusia 15-45 tahun (usia produktif). Indonesia saat itu akan menikmati apa yang disebut dengan bonus demografi. Namun, dampak negatif dari bonus demografi jika tidak disiapkan dan dikelola dengan baik maka akan terjadi bencana sosial seperti pengangguran, konflik sosial, kesehatan dan lainnya. Di sini lagi-lagi peran pemuda dipertaruhkan.

1 COMMENT

  1. Pengen sekali merasakan menjadi diaspora..hehe sukses untuk teman-teman di manapun berada. semoga segera bisa memberikan kontribusi bagi bangsa yang tambah memprihatinkan ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here