DESA YANG MANDEG DAN BATIN ORANG DESA YANG TERSIKSA

0
159

Apakah terlihat jika dana desa itu semata-mata bersifat kamuflase. Agar masyarakat tidak lagi menyodorkan proposal sumbangan untuk membangun desa atau lainnya. Manakah yang lebih penting, membuat perubahan berpikir kritis sehingga masyarakat lebih mampu bersiasat menghadapi perang kepentingan atau terus-menerus menjadi masyarakat desa yang dibelenggu oleh kepasrahan serius ?


Saya sering mendengar bahwa hidup di desa itu “ayem-tentrem” dan damai. Suasana damai dan “ayem” ini, celakanya, tidak dihubungkan dengan relasi produksi yang nyata dalam hubungan sosial-ekonomi yang ada. Tapi hanya merujuk situasi pemandangan yang indah dan alam yang masih hijau.

Cara pandang seperti ini adalah pandangan pelancong kota yang punya uang yang kagum dengan keindahan alam pedesaan. Cara pandang ini biasanya diwakili oleh para penulis yang rata-rata adalah orang yang lama di kota dan di antaranya sudah hidup dengan taraf ekonomi yang berbeda. Mereka melihat desa dan manusia-manusianya dari kacamata penikmat, bukan sebagai kaum yang merasakan pergulatan hidup keseharian di desa itu sendiri.

Ada anggapan bahwa di daerah pedesaan yang alamnya masih hijau, orang desa yang jarang yang punya banyak uang masih bisa bertahan hidup. Tapi benarkah demikian? Tidak adakah masalah dan perasaan tersiksa di hati dan pikiran orang-orang desa akibat kesulitan hidup maupun terbawa oleh rayuan-rayuan iklan dari kota yang justru menambah siksaan batin dalam bingkai penjajahan gaya hidup yang mereka lihat tiap hari di TV.

Anggapan yang melihat bahwa hidup di desa enak dan tak ada masalah biasanya akan melihat hal-hal yang sebenarnya hanya berdasarkan pengamatan sekilas saja. Misalnya mereka mengatakan bahwa orang-orang desa itu meski tak punya banyak duit (cash-money), tapi untuk makan sudah punya bahan untuk dimasak. Katanya, mau makan beras ada. Lauk dan sayur tak perlu beli, dan lain-lain.

Padahal, tidak semua orang desa itu memproduksi berasnya sendiri untuk dimakan sehari-hari. Banyak juga orang desa yang harus beli beras dan mengeluarkan uang untuk itu. Bagaimana dengan lauk? Bagaimana dengan kebutuhan-kebutuhan lain?

Ada seorang mahasiswa yang sebenarnya aktivis Jurnalistik mahasiswa, yang datang ke rumah temannya di desa kami. Karena ia menginap di rumah temannya yang juga teman kuliah ini, maka si orangtua temannya menyediakan makan untuk tamu yang notabene adalah teman kuliah anak kesayangannya. Lauknya kebetulan adalah ayam kampung yang dimasak begitu lezatnya dengan cara “diungkep”. Sayurnya adalah sayur daun singkong (“godhong Tela”). Ada sambelnya pula.

Sehabis makan sore dengan ayam kampung itu, saat ia nyantai sambil ‘rokokan’ di teras rumah temannya itu, ia berkomentar: “Wah, enak sekali ya jadi orang desa. Makanannya lezat-lezat, ayam kampung punya sendiri. Sayur tinggal metik. Beras bertumpuk-tumpuk di ruang penyimpanan untuk stok. Surga sekali desamu ini, friend”.

Mahasiswa ini memang sedang berada di rumah temannya yang kebetulan ayah teman kuliahnya adalah perangkat desa. Yang punya sawah. Yang punya banyak ayam kampung. Dan kebun belakang rumahnya yang luas juga ada beberapa ekor ayam kampung yang kadang dibiarkan liar di siang hari dan akan kembali ke kandang sederhana ketika hari petang. Kebun belakang rumah memang banyak tertancap pohon Ketela yang daunnya lebat-lebat. Dan hari itu, saat ia sedang berkunjung ke rumah itu, tentu saja ibu temannya ingin masak enak. Menyembelih dua ekor ayam dan dimasak. Itung-itung anaknya jarang pulang, apalagi datang bersama teman kuliahnya.

Kedatangan dua hari saja di desa oleh aktivis jurnalis kampus yang berasal dari kota itu akan menghasilkan pandangan sekilas bahwa hidup di desa itu enak dan nyaman. Pertanyaannya adalah apakah semua atau kebanyakan orang desa itu seperti keluarga temannya itu? Kalau ditelisik lebih jauh, ternyata ada fakta bahwa tidak semua orang desa punya stok “gabah” atau berasnya sendiri. Tentunya, karena tidak semua orang desa itu punya sawah.

menyimpan gabah atau bahan makanan pokok (beras) adalah pilihan untuk menjaga musim berikutnya yang tak selalu memungkinkan untuk menanam padi.

Sawah yang tak banyak menghasilkan uang (cash-money) ketika panen sudah dilakukan itu, kalah dengan biaya sarana produksi seperti pupuk, obat pemberantas hama, dan benih membuat kegiatan bertani tidak “nyucuk” antara pengeluaran dan penghasilan. Sehingga, beras lebih banyak digunakan untuk persediaan makanan daripada dijual. Sebab musim tidak menentu dan irigasi tidak ajeg, tidak selalu bisa menanam padi. Di sini, menyimpan gabah atau bahan makanan pokok (beras) adalah pilihan untuk menjaga musim berikutnya yang tak selalu memungkinkan untuk menanam padi.

Bagaimana orang yang tak punya sawah yang jumlahnya jauh lebih banyak? Datanglah ke dukuh saya, Dukuh Tenggong, Desa Kedungsigit, Kabupaten Trenggalek. Di antara sekitar seratus KK, ada berapa persen yang punya sawah? Tidak semua punya sawah, kira-kira separuh saja. Ini untuk dukuh saya yang kebetulan wilayah sawahnya lebih luas daripada wilayah untuk pemukiman dan rumah-rumah. Bagaimana dengan kampung lain, terutama daerah Trenggalek yang rata-rata malah banyak yang tinggal di pegunungan?

Dalam kesehariannya, di desa yang amat minim peredaran cash-money ini, iklan dari kota melalui media televisi merayu untuk terus mengonsumsi barang-barang serta konsumsi gaya hidup. Sehingga kebutuhan terus dirangsang untuk dipenuhi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar saja juga masih kesulitan. Televisi menjadi kebutuhan yang paling penting, hingga sebagian keluarga lebih memilih menabung untuk membeli TV daripada untuk membiayai hal-hal lainnya. Sebab, semua tahu, terutama ibu-ibu yang gandrung pada sinetron, audisi dangdut, dan tayangan gosip selebritis, bahwa hiburan itu amat penting di saat istirahat dari aktivitas dapur maupun kerja di ladang atau sekedar mencari rumput (ramban) untuk pakan ternaknya.

Sejauh ini tradisi fatalisme, anggapan bahwa kesusahan hidup dan tekanan psikologis, bisa disembunyikan dengan tradisi berserah diri pada Tuhan adalah tradisi yang paling massif.

Tekanan hidup terjadi akibat kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi pada saat pemenuhannya sulit dilakukan. Muncul mekanisme psikologis pada jiwa-jiwa orang desa yang terekspresi dalam berbagai cara. Ketertekanan ini butuh saluran-saluran ekspresi maupun cara menekannya agar dianggap tidak ada. Sejauh ini tradisi fatalisme, anggapan bahwa kesusahan hidup dan tekanan psikologis, bisa disembunyikan dengan tradisi berserah diri pada Tuhan adalah tradisi yang paling massif. Mekanisme kepasrahan ini tentu saja tidak bisa menghapus semua bentuk kebutuhan dan ketertekanan pada wilayah alam bawah sadar.

Ada batin terdalam yang tersiksa yang barangkali tak terekspresikan. Tidak ada jalan pembebasan dan pencerahan bagi masalah-masalah dalam diri ini yang semestinya dijawab melalui pengetahuan dan kesadaran tentang realitas dan problematikanya. Tradisi berpikir kritis tidak muncul ketika basis ketertekanan dan ketertindasan masyarakat pedesaan tidak menghasilkan kesadaran baru yang berupa nalar kritis mempertanyakan keadaan. Hal ini karena kumpulan massa dan forum-forum masyarakat hanya berisi tradisi penyerahan diri pada Tuhan semata, doa-doa, ngaji bersama. Cukup itu saja.

Tradisi berpikir kritis tidak muncul ketika basis ketertekanan dan ketertindasan masyarakat pedesaan tidak menghasilkan kesadaran baru yang berupa nalar kritis mempertanyakan keadaan. Hal ini karena kumpulan massa dan forum-forum masyarakat hanya berisi tradisi penyerahan diri pada Tuhan semata, doa-doa, ngaji bersama. Cukup itu saja.

Berkumpul, doa dan ngaji bersama ini terjadi paling sedikit seminggu sekali. Tapi juga sejak dulu sampai sekarang hanya seperti itu yang terjadi. Tidak mendatangkan wawasan baru untuk merubah masalah bersama. Sedangkan kelompok-kelompok berbasis kepentingan ekonomi semacam kelompok tani sejak dulu hingga sekarang juga tidak pernah bisa menjawab kebutuhan untuk merubah nasib petani di desa yang terus mandeg: Pupuk langka dan mahal saat butuh, harga panen turun saat tanaman dipetik, ketergantungan pada zat kimia pabrik yang merusak ekosistem, irigasi yang juga sebagian besar semakin buruk.

Kumpulan-kumpulan orang di desa yang bernuansa pemberdayaan dan membangkitkan penyadaran kritis minim sekali-hampir tidak ada. Demikian juga pemberdayaan ekonomi. Ketika perkembangan suatu masyarakat selayaknya disokong oleh semangat belajar bersama, menganalisa keadaan dan membongkar hambatan-hambatan relasi produksi antar manusia, untuk mengetahu sumber permasalahan yang ada, hal ini sama sekali tidak terjadi di desa.

Artinya, bicara kesadaran sosial yang bersifat politis untuk kalangan pedesaan juga masih nihil. Mereka hanya tahu bahwa politik itu adalah sekedar memilih calon, pemimpin, baik level Negara, daerah, dan desa. Tetapi bahkan mereka sama sekali tidak mengerti apa maknanya kecuali bahwa ketika musim pemilihan akan ada calon yang bagi-bagi duit untuk menyogok mereka agar mau memilih. Atau akan hadir calon yang menyapa mereka dengan memberikan secara simbolik bantuan berupa uang, peralatan, barang, atau menjajikan sesuatu pada mereka. Sedangkan relasi antara mereka (rakyat desa) dengan dunia politik maupun orang yang menduduki posisi politik tidak dimaknai secara potensial untuk melihat potensi politik apa yang bisa mereka ambil berhadapan dengan relasi semacam itu.

Bahkan mereka hanya tahu, orang yang punya kedudukan adalah orang yang hanya bisa dimintai tolong dalam bentuk sumbangan ketika ada kegiatan sosial atau kebutuhan lingkungan seperti membangun mushola atau pembangunan fisik lainnya. Kepentingan rakyat hanya sebatas hal yang material dan pragmatis. Sedangkan upaya untuk menjadikan kekuatan rakyat dan kumpulan massa sebagai kekuatan kontrol yang punya visi jangka panjang dengan menyadari potensi kekuatan sosial hampir jarang dilakukan.

Ketika kucuran Dana Desa datang, sebenarnya tujuannya adalah mengatasi segala kemandegan tersebut. Program fisik dibiayai begitu besarnya, agar rakyat tak lagi tergantung dan meminta-minta pada elit dan politisi. Demikian juga program pemberdayaan, agar rakyat punya kekuatan produktif untuk mengelola potensi yang ada di desa. Dana dikucurkan agar menjadi modal usaha bagi forum-forum masyarakat desa dibawah kordinasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Modal didatangkan dari pemerintah pusat, agar peredaran uang bisa mewarnai kegiatan-kegiatan produktif yang dilakukan dengan melibatkan daya pikir dan kreativitas masyarakat desa untuk mengolah potensi yang ada di daerah pedesaan. Peredaran inilah yang harus dikawal oleh siapapun yang punya kepentingan untuk membangun desa dan menjadikannya sebagai pilar ekonomi baru dari desa yang lebih dinamis.

Yang pertama-tama dihadapi adalah tradisi pedesaan yang kurang kritis dan cenderung pasrah pada keadaan. Situasi ini harus pelan-pelan diubah menjadi tradisi partisipasi aktif dan membangun nalar kritis terhadap potensi dan keadaan yang dimiliki. Kegiatan pemberdayaan harus melibatkan upaya membuka cakrawala berpikir masyarakat desa. Mereka harus disadarkan bahwa mereka punya potensi diri dan potensi lingkungan. Mereka harus menyadari pentingnya berkumpul dan berorganisasi untuk menganalisa potensi dan masalah, bukan hanya berkumpul untuk merayakan kepasrahan massif saja.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here