Desa Wisata : Empat Potensi Desa yang Diunggulkan

0
69
Eksotisme alam sisir sungai Cemorokandang

Menggagas desa wisata membutuhkan peta potensi. Saat peta potensi diperoleh, harapannya potensi itu menjadi kekuatan baru kelahiran desa wisata. Untuk itu, peta potensi kemudian menjadi pijakan memulai gerakan desa wisata. Melalui kegiatan Workshop Desa Belajar yang digagas oleh Kampus Desa pada Jumat, 14 September 2018 akhirnya menghasilkan lima narasi (kisah) kunci untuk merintis desa wisata. Salah satunya adalah narasi tentang Desa Digital Cemorokandang.

Untuk menghidupkan sebuah wilayah menjadi Desa Wisata, diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Menurut saya setidaknya ada 4 faktor yang saling berkaitan. Jika salah satu tidak dipenuhi maka kondisi ideal tidak akan tercapai alias tidak berjalan dengan semestinya. Keempatnya adalah :

  1. Keindahan alam
  2. Potensi desa (baik SDM maupun sistem-sistem yang ada di dalamnya)
  3. Model marketing
  4. Kesiapan masyarakat beserta aparat

Dalam kasus Desa Cemorokandang, unsur pertama dan kedua telah ada sejak lama. Alam pedesaan dengan hamparan sawah ladang menghijau, aliran sungai Amprong yang deras serta kontur tanah perbukitan yang eksotis memanjakan pandangan maupun pernafasan.

Potensi desa berasal dari keragaman produktivitas UKM serta para petani organik yang telah eksis. Sebut saja Vigur Organik. Kelompok petani organik yang satu ini telah memiliki nama di kancah nasional bahkan internasional. Apa saja yang ada di desa yang bisa dijual sebagai elemen-elemen wisata?

Potensi berbasis alam. Di Cemorokandang tersedia hiking/jogging track, kolam pemancingan, jalur balap sepeda atau kereta kelinci, kolam renang, wisata petik sayur atau pun outing block (wisata turun ke sawah atau empang).

Kreativitas, seni dan pendidikan. Tersedia pusat pengembangan literasi anak, rumah baca, Markaz Dolanan, klinik konsultasi keluarga, sentra daur ulang, BSM (bank sampah masyarakat), handycraft, konveksi dan batik.

Potensi olahraga. Ada olah raga berkuda, berenang serta panahan.

Potensi wisata kuliner. Ada bakery, cookies, snack, kerupuk, kue serta aneka makanan dan minuman tradisional.

Begitu banyak potensi namun masih berjalan sendiri-sendiri. Belum cukup kuat untuk bersatu mengangkat potensi desa secara keseluruhan dan merata. Ibarat roda-roda mobil dari sudut pandang kebersamaan, keempat roda penggerak itu masih tertidur, belum dalam kondisi menggelinding secara koordinatif lagi sinergis menuju target bersama.

Kelompok perumusan Desa Wisata

Narasi Desa Wisata dan Desa Digital
Demikianlah kelompok kami, mendefinisikan permasalahan di desa Cemorokandang dalam tinjauan langkah koheren menuju desa wisata. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan seluruh potensi yang berada dalam lingkup 4 faktor itu bekerja dan menguat bersama hingga mendatangkan arus pengunjung yang konsisten dan signifikan. Mestinya hal ini masih memiliki peluang besar, mengingat akses jalan di desa ini sudah sangat bagus. Sudah banyak pula warga desa yang berpendidikan lagi melek teknologi.

Hasil yang sangat penting dari adanya diskusi kelompok ini adalah telah didefinisikannya model marketing untuk memperkenalkan citra desa ini sebagai salah satu destinasi wisata di kota Malang, yaitu dengan model Paket Wisata by Order (alias pesanan dulu) dengan strategi digitalisasi serta adanya event tetap bulanan.

Dengan demikian, adanya sebuah event organizer tangguh yang berfungsi sebagai koordinator dan pengelola utama mutlak diperlukan. Demikian pula dengan tenaga-tenaga marketing handal serta para ahli di bidang pengelolaan web untuk mendukung marketing online maupun offline.

Sedangkan upaya pembenahan dan penambahan fasilitas untuk mempercantik desa sebagai pengungkit daya tarik terhadap pengunjung, bisa diagendakan berikutnya setelah semua kegiatan berjalan lancar sesuai konsep yang diajukan.

Cemorokandang, medio September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here