Dana Desa Untuk Desa-Desa Kreatif

0
69
Credit: www.clipartkey.com

0Shares
0

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

Kampusdesa.or.id–Akhir-akhir ini banyak desa yang menampilkan informasi penggunaan dana desa. Sekilas nampak baik dan tanggungjawab. Namun jika dicermati lebih dalam, dana desa banyak untuk pembangunan fisik, tapi minim untuk pemberdayaan ekonomi atau pengembangan Bumdes secara signifikan.

Alasan utama karena mengerjalan fisik, oknum kuasa pengguna anggaran bisa dengan mudah mencari ujung dari mark-up anggaran. Selain itu kegiatan pembangunan fisik dapat dilihat hasil setelah pembangunan. Misal saja gapura, maskot desa, gorong-gorong dan lainnya.

Desa seharusnya punya roadmap mau ditampilkan seperti apa 5 tahun yang akan datang. Banyak pilihan, misalnya desa olahraga, desa pertanian dan peternakan, desa wisata dan desa dengan segudang pilihan tema lainnya. Lebih dari itu, jika ada pemimpin progresif di desa tersebut, perubahan akan signifikan terjadi. Semangatnya bukan cari ujung, tapi memang pengabdian masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Baca juga:

Saya konkritkan kepada Desa Srisawahan Lampung Tengah (Lamteng) yang berada di dekat Dam Raman. Pemudanya pernah datang ke Payungi dan menawarkan saya untuk tarung lurah. Saya menolak dengan halus, tapi saya beri alternatif jika ada pemuda yang mau nyalon di sana saya janji akan carikan uang untuk pemenangan. Jujur saya lebih tertarik tarung lurah jika istri saya mengizinkan.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

 

*Tulisan kiriman dari Dharma Setyawan (Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi Kota Metro, Lampung)