Cerdas Otak, Cerdas Hati dan Cerdas Religi

0
111

Guru memang sosok yang sakral dan wajib sepertinya memiliki keutuhan intelektual. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan profesional dalam mengajar, tetapi mereka sudah selayaknya terus belajar untuk membangun ketajaman budi, sebuah lanskap kemampuan cerdas dengan otaknya, hatinya dan agamanya.

Hari Sabtu, pukul 14.00 saya menghadiri undangan dari Bapak Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kementerian Agama Kabupaten Malang, Bapak Dr. H. Muhammad Arifin, M.Pd, untuk menghadiri acara penerahan nilai UAMBD (Ujian Akhir Madrasah Bersatndar Daerah), USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dan sosialisasi petunjuk teknis penulisan blangko ijazah, bagi kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Malang.

Dari beberapa yang disampaikan Bapak Arifin, ada satu hal yang menarik dan mengena di hati dan pikiran saya serta menyentuh relung hati perasaan saya, baik sebagai saya pribadi maupun status saya sebagai seorang guru. Beliau titip kepada para guru yang hadir dalam acara tersebut agar mendidik anak didiknya hingga menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi. Tentunya untuk menjadikan anak didik tiga hal di atas, seorang guru terlebih dulu juga harus memiliki tiga hal itu. Tidak mungkin guru berhasil menjadikan anak didiknya menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi kalau dalam diri seorang guru belum memiliki ketiga hal tersebut dalam dirinya secara satu kesatuan dan menyeluruh.

Akan saya terjemahkan dan uraikan maksud Bapak Arifin satu per satu sesuai dengan pemahaman saya. Pertama, cerdas otak, maknanya adalah seorang yang berprofesi guru semestinya adalah sosok manusia yang lebih daripada profesi lain pada umumnya, yaitu harus pandai dan terampil dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsinya sebagai guru. Pandai dan terampil bisa dibuktikan dengan ijazah, sertifikat, piagam penghargaan, prestasi, temuan inovasi pendidikan, kreatifitas mengajar, pengembangan media pembelajaran, kemampuan membimbing siswa hingga berprestasi dan lain sebagainya, terutama yang terkait dengan aktifitas guru.

S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin mengatakan, seorang guru jangan sampai kalah dengan Kasi Pendma-nya yang sudah menyelesaikan S3 dan bergelar Doktor. Sampai Pak Arifin bergurau dengan mengatakan, “kalau perlu guru mengembangkan diri dengan kuliah sampai S4”. Yang saya pahami bahwasanya guru harus terus menerus belajar sepanjang hayat, karena kuliah S4 dalam lembaga formal itu tidak ada. S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya”.

Kedua, cerdas hati, saya menafsirkannya adalah dimana seseorang yang dalam posisi memiliki kejernihan perasaan, kebaikan hati, ketulusan, ikhlas, adil, tanggungjawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, tidak tinggi hati, pemaaf, jujur, suka menolong, loyalitas tanpa batas, berintegritas, dan sifat-sifat baik lainnya yang mendarah daging dalam jiwa, hingga menjadi karakter dan sifat kesehariannya. Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya.” Karena itu kecerdasan otak semestinya diimbangi dengan kecerdasan hati.

Ketiga, cerdas religi, saya menerjemahkannya adalah seseorang yang memiliki rasa keimanan yang tinggi terhadap Allah Swt. Seseorang yang selalu merasa apa yang dilakukukannya dipantau oleh Allah Swt. Sehingga seseorang tersebut selain takut untuk berbuat keburukan atau kecurangan juga perilaku dan aktifitas kesehariannya senantiasa selalu diniatkan semata-mata untuk ibadah terhadap Allah Swt. Pak Arifin memiliki motto hidup yaitu; “layananku, ibadahku.” Bermakna beliau melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai Kasi Pendma, untuk melayani orang-orang yang membutuhkannya dengan semaksimal mungkin, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya. Agar kita sebagai guru juga bisa mengajarkan ketiga hal tersebut pada anak didik kita. Sehingga pada akhirnya terwujudlah generasi penerus bangsa yang cerdas secara intelektual, cerdas secara moral atau sikap dan cerdas dalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketiga hal tersebut semuanya diajarkan dalam lembaga yang berbasiskan nilai-nilai agama yaitu madrasah. Insyaallah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here