Buatlah Resep Untuk Berbicara di Depan Umum

0
202

Ketika berani mencoba, saya menjadi bisa. Karena terus mencoba, saya menjadi terbiasa. Dua kalimat tersebut selalu menjadi jawaban saya ketika para siswa bertanya tentang resep untuk bisa menjadi seorang MC (Master of Ceremony) atau Public Speaking. Saya memberikan jawaban demikian berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Kampusdesa- Membawakan acara adalah salah satu seni berbicara di depan umum. Berbicara di depan umum merupakan kegiatan yang tidak mudah dilakukan bagi sebagian besar orang. Hal ini cukup beralasan karena untuk bisa berbicara di depan umum seseorang dituntut untuk memiliki sebuah modal dasar yaitu keberanian. Keberanian yang dimaksud adalah berani untuk mencoba tampil atau melakukan. Ketika tidak memiliki keberanian untuk mencoba atau melakukan sampai kapanpun tidak akan pernah bisa.

Waktu MTs. Saya demam pangung sampai saat diajak berdiskusi saya tak bergerak sama sekali, waktu SMA saya memulai melatih public speaking didepan umum. Indikator pencapaian hasil saya mampu membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar serta santun. Dengan indikator tersebut tersebut, idealnya masing-masing siswa harus memiliki pengalaman berbicara di depan umum atau minimal di depan teman-teman satu kelasnya.

Dalam suatu kesempatan seusai pembelajaran, saya melakukan kegiatan sharing pengalaman dengan para siswa. Kegiatan sharing yang kami lakukan berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang baru saja kami lakukan yaitu membawakan acara dalam berbagai keperluan dengan bahasa yang baik dan benar serta santun. Dari sharing tersebut terungkap bahwa sebagian besar siswa tidak berani tampil berbicara di depan umum disebabkan oleh dua hal yaitu malu dan takut salah. Dari temuan ini, saya menyimpulkan ada dua hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru yaitu memotivasi dan memberi mereka pengalaman untuk tampil. Meskipun dalam waktu yang singkat dan lingkup yang kecil (di depan kelas), pengalaman ini akan memiliki arti yang sangat besar dan berharga bagi mereka.

Pada mulanya saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan oleh para siswa. Saya adalah seorang yang sangat penakut dan akan selalu menghindar saat diberi tanggung jawab yang berhubungan dengan publik. Ketika ini terjadi saya selalu menjadi objek yang di salahkan. Bukannya memberi motivasi dan bimbingan bagaimana supaya saya berani tampil tetapi menyalahkan saya yang tidak berani tampil. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Bapak kepala sekolah saat SMA . Beliau kalau ada waktu luang pasti terus memotivasi saya untuk terus meningkatkan Public Speaking saya.

Pada suatu hari Pak Nyamirun (Kepala sekolah SMAM 06) memberi tugas berbicara. Setelah dalam banyak kesempatan memberikan motivasi dan teknik berbicara di depan umum, para siswa diberi kesempatan untuk tampil di depan teman-temannya. Kelas dikondisikan sedemikian rupa seakan-akan kami tampil dalam sebuah acara yang dihadiri oleh banyak orang. Setiap siswa diberi kesempatan menampilkan kemampuan public speaking yang kami persiapkan sebelumnya di depan teman-teman. Masing-masing siswa hanya diberi waktu maksimal 3 menit untuk tampil.

Tanpa ditunjuk oleh Pak Nyamirun, para siswa berebutan ingin tampil. Kata-kata motivasi Pak Nyamirun bagai sebuah magnet yang bisa membuat para siswa yang semula takut dan malu untuk tampil menjadi sangat antusias dan berebutan ingin tampil. Ada yang yang menyanyi, mendalang, membacakan alkitab, membawakan acara, kotbah, pidato, dsb. Setelah tampil, siswa akan langsung mendapat masukan dan motivasi dari Pak Nyamirun.

Setelah satu demi satu teman tampil, tibalah giliran saya ke depan. Apakah saya masih takut dan malu? Jawaban jujur saya adalah iya sangat. Namun, ada semacam kekuatan yang mendorong saya untuk ingin tampil. Saya ingin tampil beda dari teman-teman yang lain. Saya mencoba membawakan acara pernikahan dalam bahasa Jawa. Meskipun sedikit kagok berbicara karena grogi, saya berhasil melakukannya. Perasaan lega dan bahagia seketika menyelinap di pikiran. Riuh tepuk tangan teman-teman dan Pak Nyamirun yang mengapresiasi penampilan saya menjadi semangat tersendiri. Saya pun mendapat masukan dan motivasi yang menyejukkan dari Pak Nyamirun.

Sebelum menutup jam pelajaran, Pak Nyamirun berkata, “Ris (begitu beliau memanggil nama saya), sebelum pulang nanti kamu temui, Pak Nyamirun, ya.” Sontak saya kaget dan takut. Mengapa saya dipanggil? Apakah ada yang salah dari penampilan saya tadi. Tanyaku dalam hati.

Setelah selesai sekolah, saya menuju ke Pak Nyamirun. “Ada apa ya, Pak?” Tanyaku. “Tulung aku tukokna buku-buku pranata adi cara ya!”(Tolong aku dibelikan buku-buku pembawa acara ya!) Jawab Pak Nyamirun. Ternyata, Pak Nyamirun  meminta tolong saya untuk membeli buku-buku tentang pranata adicara atau tata cara membawakan acara dalam berbagai keperluan dalam bahasa Jawa. Wah, lega hati saya mendengar itu. Saya pikir ada yang salah dengan penampilan saya lalu mendapat tugas apa. Setelah beliau memberikan sejumlah uang, siang itu juga saya pergi ke toko buku dan membeli beberapa buku yang Pak Nyamirun pesan.

Keesokan harinya saya datang kepada Pak Nyamirun bermaksud menyerahkan buku-buku yang sudah saya beli beserta bukti pembayaran dan uang kembalian. Ketika semua itu saya berikan, Pak Kadi hanya menerima struk bukti pembayaran saja lalu berkata, “Kuwi buku-bukumu.” (Itu buku-bukumu). Saya yang kurang paham maksud Pak Nyamirun bertanya, “Maksud Pak Nyamirun?” Pak Nyamirun menjawab,”Buku kuwi tak tukokke, gawenen lan sinaonono!” (Buku itu saya belikan, gunakan dan pelajari!) Wah, saya kaget sekali mendengar jawaban Pak Nyamirun. Saya mendapat hadiah yang sangat besar dari Beliau. Sampai saat ini buku terbebut masih saya simpan dan gunakan untuk terus belajar.

Selain sebagai hadiah, saya berpikir bahwa ini adalah tantangan dari Pak Nyamirun untuk saya. Saya tidak boleh mengecewakan beliau. Saya melatih diri seperti apa yang pernah beliau sarankan. Saya berlatih di depan cermin. Kadang-kadang saya berlatih di depan kambing dan adik saya atau di depan beberapa teman saya. setelah itu saya meminta saran dan kritik dari mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa sudah menguasai teori yang ada di buku dan cukup siap untuk tampil. Namun, akan terasa percuma ketika saya tidak bisa mendapatkan kesempatan tampil.

Hingga pada suatu hari mas pradana, tetangga desa menemui saya. Beliau bermaksud meminta tolong kepada saya untuk menjadi narasumber pada acara seminar keislaman. Awalnya saya sempat ragu menerima tawaran itu. Namun, saya berpikir inilah kesempatan saya. Kesempatan ini belum tentu ada lagi. akhirnya saya pun menyatakan bersedia.

Meskipun sudah merasa siap untuk tampil menjadi narasumber, saya merasa cemas juga. Pak Nyamirun pernah berkata, “Jangan takut salah tetapi berusalah untuk tidak berbuat salah.” Kata-kata itu yang menjadi pegangan saya untuk meminimalisasi kesalahan yang terjadi. Setiap hari saya melatih vokal dan sikap tubuh seperti apa yang pernah Pak Nyamirun ajarkan di bangku SMA.

Tibalah waktunya bagi saya untuk bertugas. Tamu dari kedua belah pihak sudah berkumpul semua. Sebelum bertugas saya berdoa terlebih dahulu untuk menguatkan mental saya. Puji Tuhan. Acara demi acara berhasil saya bawakan. Meskipun saya sadar masih ada kekurangan sedikit di sana–sini. Saya anggap itu adalah bagian dari proses belajar saya.

Semenjak saat itu, saya sering mendapat tawaran untuk menjadi pembawa acara dan narasumber. Bahkan tidak terbatas. Dalam berbagai berbagai kesempatan saya juga sering menjadi pembawa acara. seperti Seminar, Workshop, dsb. Bahkan dalam kesempatan tertentu saya melakukannya dengan profesional. Artinya saya mendapatkan uang saku dari hasil MC atau narasumber  (Ngemsi) ini.

Meskipun sudah bisa dikatakan profesional saya masih ingin terus belajar. Untuk menjaga mental agar terbiasa tampil di depan umum, setiap kali ada kesempatan saya tidak ragu untuk menerima kesempatan itu. Kesempatan-kesempatan itu seperti membawakan acara saat ada pertemuan antara pihak sekolah dengan orang tua siswa, dan bergabung dengan Komunitas liteerasi yaitu orang yang suka berdiskusi, membaca, melatih mental, dsb.

Dari pengalaman-pengalaman ini saya bisa berbagi ilmu kepada para siswa saya. Salah satu kesempatan berbagi itu misalnya ketika melatih siswa untuk menjadi public speaking. Bahkan ilmu saya semakin bertambah dengan kesempatan melatih public speaking ini karena kadang-kadang banyak hal yang diluar dugaan harus dicarikan penyelesaiannya. Saya juga menjadi memiliki kesempatan untuk sharing dengan rekan teman dalam tim seksi acara.

Paling tidak sebagai guru sebelum meminta siswa melakukan, kita sudah menunjukkan bahwa kita sudah pernah melakukan. Dengan demikian, para siswa menjadi yakin bahwa dirinya dibimbing oleh orang yang tepat.

Paling tidak sebagai guru sebelum meminta siswa melakukan, kita sudah menunjukkan bahwa kita sudah pernah melakukan. Dengan demikian, para siswa menjadi yakin bahwa dirinya dibimbing oleh orang yang tepat.

Kalau Anda ingin berani dan bisa berbicara di depan umum, jawabannya adalah mencoba. Kalau sudah mencoba ambil setiap kesempatan supaya terbiasa.

Kalau dulu tidak pernah mencoba karena takut salah, saya yakin sampai hari ini tidak akan pernah bisa. Kalau dulu tidak pernah mencoba, saya yakin sampai hari ini tidak akan pernah punya pengalaman. Ketika saya biasa mencoba, saat ini saya menjadi terbiasa. Jadi, berbicara di depan umum tidak akan lagi menjadi sebuah beban. Kalau Anda ingin berani dan bisa berbicara di depan umum, jawabannya adalah mencoba. Kalau sudah mencoba ambil setiap kesempatan supaya terbiasa.

 

Selamat mencoba!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here