Bothok, Geneman, dan Hasanah Kuliner Pedesaan

0
238

Produk desa dalam bentuk masakan, ada yang sudah punah, ada juga yang masih bertahan. Bahkan pertahanannya telah mampu mengambil posisi penting dalam rak-rak kuliner di kota. Produk itu bernama, bothok, geneman, dan lain kota lain pula namanya. Nyatanya Trenggalek masih juga menyimpan bhotok, geneman sebagai salah satu simbol yang wajib ada dalam berbagai menu upacara hajatan/selametan.

Trenggalek-KampusDesa. Masih seputar kuliner. Di Trenggalek (nama Kabupaten sini) saja, untuk benda dan kegiatan mengolah kuliner itu saja beda. Di daerah Prigi, Kecamatan Watulimo, tempat saya lahir dan besar dulu, ada nama dan sebutan Bothok. Ternyata, nama dan istilah ini digunakan secara berbeda oleh Kecamatan lain, termasuk kota lain untuk menyebut suatu makanan secara berbeda.

Yang dimaksud Bothok di Prigi itu adalah olahan ikan laut yang dibuat agak “buthuk” atau agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu. Biasanya yang sering saya jumpai, karena sering dimasak oleh (alm.) Mbok saya, adalah ikan Layur. Ikan itu dibiarkan selama sehari semalam tanpa pendinginan, agar agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu, dan kemudian dicampur kelapa muda. Dibungkus dengan daun pisang atau istilahnya “Digenemi”. Dan bungkusan itu namanya “Geneman”.

Nah, Geneman inilah yang oleh kecamatan lain atau daerah lain dinamakan Bothok. Maksudnya, setiap olahan yang digenemi, di daerah luar Prigi-Watulimo, ya namanya Bothok. Jadi, daerah lain akan mengenal Bothok dengan aneka jenis masakan (olahan), seperti Bothok Tawon, Bothok Lele, Bothok Iwak Kali, Bothok Tempe, Bothok Teri, Bothok Jeroan, dll.

Sedangkan yang dimaksud Bothok di daerah Prigi, padanannya dengan itu, adalah “Geneman”. Jadi di Prigi, namanya adalah Geneman Luntas, Geneman Tempe, Geneman Iwak, Geneman Mlanding (lamtoro), Geneman Tempe Bosok, Geneman Tawon, Geneman Sembukan, dan lain-lain. Sedangkan istilah “Bothok” seingat saya ya hanya mengacu pada ikan laut yang diolah setelah agak dibusukkan karena aromanya memang lebih berasa itu tadi. Bukan hanya ikan  Layur, seingat saya juga ikan Tracah—mungkin  nama ikan ini juga asing untuk daerah lain.

Jadi ketika saya agak lama tinggal di luar daerah asal saya, awalnya saya kaget bahwa nama dan sebutan Bothok itu kok berbeda. Tapi lama-lama terbiasa. Namun  ketika saya berjunjung ke daerah asal saya, ya masih beda. Meskipun orang-orang di daerah Prigi mulai kenal istilah Bothok untuk mengganti istilah Geneman. Terutama yang memang pernah tinggal di luar Prigi dan kembali, misal pernah kos di luar kota.

Yang aneh lagi, terjadi ketika saya pindah domisili di kecamatan Karangan, kecamatan lain di Trenggalek yang agak dekat dengan kecamatan kota. Ternyata kami dari daerah Prigi, khususnya Margomulyo, punya olahan kuliner yang tak dijumpai di Karangan dan daerah-daerah lain. Ada olahan namanya Geneman Iwak Pitik (Ayam Kampung). Ketika saya ceritakan tentang olahan itu, keluarga Karangan malah kaget. “Pitik kok digenemi? Gek piye rasane?”

Di daerah saya, Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Geneman ayam ini adalah kuliner khas acara genduren yang disebut “Nyambung Tuwuh”, terbiasa ada di acara genduren yang dilakukan siang hari, mulai acara megengan, berdoa saat ada anggota keluarga yang akan kerja ke luar kota (merantau), doa keselamatan (slametan), dll. Selain nasi, urap-urap, dan sajian tradisional sebagaimana acara slametan, lauknya ya Geneman Ayam itu tadi. Jadi, ayamnya tidak diingkung dengan bumbu Lodho. Tapi digenemi atau dibungkus daun pisang.

Saya belum menemui kuliner sejenis ini di manapun sependek pindah-pindahnya hidup saya di beberapa tempat. Karena saya belum “ngiyak” semua daerah di Indonesia, mungkin saja ada tapi belum menemui atau belum tahu.

Itu salah satu khasanah kuliner pedesaan yang kaya dan variatif. Banyak kuliner tradisional lain yang layak untuk dibahas. Banyak yang sepakat kuliner tradisional itu sehat. Ya, kalau dulu memang sehatnya dijamin. Wong Mbok saya masaknya pakai kayu bakar, bungkusnya daun pisang, belum ada racun-racun kimia di berbagai bahan makanan dan tumbuh-tumbuhan. Ayamnya juga ayam kampung, belum dikasih makan pakan pabrikan.[]

Tulisan ini direpost untuk disebarluaskan guna menambah ensiklopedi makanan desa dari facebook Nurani Soyomukti. Silahkan jika mau mengikuti linimasa beliau yang sangat produktif menulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here