Bisakah Nilai Kebersihan Sekolah Kita Seperti Mall

0
322
Tebar Ikan Wader | Edukasi pada anak-anak sekolah

“Kemampuan menjamin kebersihan menjadi nilai organisasi menjadi salah satu indikator budaya mutu berjalan dengan baik” (Amka)


KEBERSIHAN merupakan kondisi dimana tidak didapati kotoran yang ada. Kondisi seperti itu akan dihasilkan ketika kita selalu memperhatikan dan menjaganya. Kebersihan tubuh misalnya, akan selalu didapati ketika seseorang dengan sabarnya menjaga dan membersihkan kotoran di tubuhnya setiap hari.

Kebersihan lingkungan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan dan dijaga. Untuk menjaga kebersihan lingkungan, dibutuhkan kebiasaan. Kebiasaan adalah sikap seseorang yang selalu sadar dan sabar melakukan sesuatu. Tanpa kesadaran dan kesabaran maka kebiasaan tidak akan bisa terpenuhi, maka dengan ilmu kesadaran akan diperoleh. Untuk memperoleh ilmu, maka membutuhkan pengajaran.

Pengajaran tentang sikap seseorang agar sadar kebersihan tentunya tidaklah mudah. Variabelnya cukup banyak untuk diperhatikan ketika mengajar bab kebersihan sekaligus bagaimana implementasinya agar kebersihan itu tidak hanya menjadi pengetahuan akan tetapi menjadi sikap semua civitas akademika yang ada di lingkungan sekolah.

Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah.

Seringkali kita pergi ke Mall dan mendapati bahwa Mall keadaannya lebih bersih dari pada sekolah atau madrasah. Kita mau membuang sampah menjadi sungkan ketika keadaannya sangat bersih. Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah. Kata kuncinya adalah bagaimana memastikan lingkungan di sekitar kita untuk selalu bersih agar bisa murid atau guru di sekolah menjadi “sungkan” untuk membuang.

Pesan-pesan tentang menjaga kebersihan hendaknya di tempel sebanyak mungkin di tempat yang kemungkinan seseorang akan membuang sampah misalnya di pojok ruangan, sekitar pohon, dan lain sebagainya sehingga seseorang terus terinstall pikirannya untuk menjaga kebersihan atau bisa juga dengan pesan peringatan berupa rekaman pengumuman yang terus disuarakan di lingkungan itu.

Peran seorang penjaga kebersihan juga sangat penting, biasanya penjaga kebersihan hanya membersihkan di awal masuk dan di akhir ketika semuanya akan pulang. Kinerja penjaga kebersihan seperti ini masih kurang efektif, seharusnya penjaga kebersihan selalu memantau setiap saat dan memastikan kondisi di sekitarnya itu bersih, sehingga ada sedikit kotoran langsung dibersihkan tanpa sisa. Manajemen seperti ini sangat efektif dan juga membutuhkan dana yang cukup besar, karenanya standar kinerja harus ditetapkan misalnya 5 jam minimal untuk beban kerja penjaga kebersihan harus dipastikan dengan upah yang standar pula.

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya. Misalnya ketika merokok hendaknya putung rokok tidak di buang sembarangan dan pemimpin selalu mengingatkan anggota lembaganya agar selalu menjaga kebersihan.

Lembaga Pendidikan semestinya mampu mengajarkan kebersihan sebagai nilai bersama dalam organisasi itu, bahkan tidak hanya mengajarkan akan tetapi mampu mengelola lingkungan agar selalu bersih.

Wallahu A’lam bi al Sawab
Malang, Jum’at 4 Mei 2018 (18 Syakban 1439 H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here