Biopik Habibie-Ainun, Kesetiaan Melampaui Hasrat Poligami

0
661
Ilustrasi foto diambil dari keepo.me

Habibie-Ainun menjadi sosok teladan tentang cinta. Selain Habibie sebagai Presiden RI, sosoknya menjadi contoh baik di kalangan anak muda, bukan hanya jejak intelektual dunia. Beliau menjadikan sebagian kisah romantisme yang dapat dipelajari oleh siapa saja. Kesetiaan Habibie pada Ainun tidak hanya saat masih hidup. Ketika sudah tiada, Ainun masih menjadi magnit cinta Habibie. Ada apa kesetiaan itu kok tidak menjadikan alasan baginya berpoligami. Kesetiaan adalah harga diri, tidak sekedar cinta birahi.

Kampusdesa.or.id–Sepeninggal B.J Habibie, warganet tidak hanya membahas kecerdasan dan capaian beliau untuk negara ini. Berkali-kali muncul di beranda facebook saya, ungkapan kekaguman mereka atas kesetiaan beliau kepada istrinya ‘Ibu Ainun’. Tak hanya facebook, saat Anda menulis di google search engine “Habibie- Ainun” maka yang muncul adalah berita dan artikel yang menyertakan gambar kemesraan beliau berdua. Terlebih kalau kita mencari foto di google, semua foto yang muncul merepresentasikan tentang kesetiaan dan kemesraan beliau berdua.

Ada yang mengatakan bahwa ketika pria ditinggal mati istrinya belum 100 harinya sudah punya calon pengganti almarhum istrinya,  bahkan justru ada yang sudah melangsungkan pernikahan.

Sebelum kekaguman ini mencuat di dunia maya, berkali-kali memenuhi status beranda dan kabar berita, pikiran saya terkontaminasi prasangka bahwa seolah memang dari sananya kalau pria itu tidak bisa memberikan totalitas kesetiaannya kepada pasangannya. Prasangka ini terbangun oleh ungkapan-ungkapan yang kita dengar guyonan namun menjadi justifikasi ‘iya’. Ada yang mengatakan bahwa ketika pria ditinggal mati istrinya belum 100 harinya sudah punya calon pengganti almarhum istrinya, bahkan justru ada yang sudah melangsungkan pernikahan. Akhirnya prasangka tak baik saya ini dipatahkan oleh Pak Habibie, Pak Suharto, dan mungkin berikutnya Pak SBY juga.

Tulisan ini tidak bermaksud mempersuasi para ‘duren’ (duda keren) ‘duka’ (duda kaya)  untuk tidak menikah lagi. Saya sekedar ingin mengapresiasi dan ikut bahagia melihat kesetiaan Pak Habibie kepada istrinya. O ya, saya tak menyertakan ‘ducer’ (duda cerdas) dalam akronim yang saya buat sendiri ‘duren‘dan ‘duka’ karena golongan ‘ducer‘ telah mepresentasikan dirinya sebagai pria setia.

Baca juga :Selamat Jalan BJ Habibie, Bapak Demokrasi Indonesia

Baiklah, masih dangkal pemahaman saya soal definisi kesetiaan ini, apa yang saya tulis ini bagian dari yang saya baca dan saya dengar saja. Tidak bermaksud menggeneralisasikan, namun sekedar ikut alur apa yang sudah dibangun oleh warganet terkait kesetiaan ini. Ada yang menulis dalam story WA-nya  “Belajar dari Habibie, orang cerdas itu setia kepada pasangannya, kalau pasangannya banyak berarti memiliki kecerdasan majemuk.” Membaca story WA ini saya teringat catatan saya setahun lalu tentang pasangan hidup yang menjalani pernikahan poligami.

Saya yakin Anda juga setuju bahwa membuat keputusan untuk berpoligami tentulah melalui proses berpikir cerdas dan bijaksana. Jika cerita dan bahkan film biopik Habibie belum mempengaruhi cara pandang seseorang tentang kesetiaan kepada pasangannya, mungkin cerita pilu ini akan menjadi pembuka cakrawala lain dalam kaitannya menjalani hidup tenang bersama keluarga kecil tiap individu yang membangun maghligai rumah tangga. Sebelum memutuskan untuk berpoligami, mendukung niatan berpoligami atau sebaliknya menolak poligami. Saya ingin mengungkapkan pikiran saya tentang poligami ini. Dan saya mengambil salah satu buntut pernikahan poligami yang tak berakhir bahagia di pihak istri dan anak-anak. Silahkan pembaca bisa berkomentar di catatan ini jika ada ending bahagia dari pihak anak, istri, madu, dan suami dari pernikahan poligami ini.

Setahun lalu, ada berita  yang menggemparkan warganet. Tentang Evy Suliastin Agustin (26) yang membunuh tiga anaknya -Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan)-dalam upaya bunuh diri yang tak berhasil . Istri ke dua Fakihudin waktu itu masih dalam perawatan di RSUD Jombang dinyatakan tersangka. Saya baca berulang-ulang beritanya. Hal ini karena ada dorongan ingin tahu saya apa penyebab peristiwa memilukan pada  15 Januari 2018 jam 21.00 ini. Mana ada ibu yang tega berlaku demikian kepada buah hatinya yang semasa bayinya digendong, disusui, dirawat dengan kasih sayang dan belaian lembut agar merasakan kenyamanan tiba-tiba mengajak mereka minum baygon? Dan ketiganya akhirnya mati. Rasanya sedih membaca kematian tragis yang menimpa anak seusia murid-murid PAUD ini, mereka tak membuat kesalahan tapi mengalami perlakukan begitu.

Berkali- kali saya membaca berbagai sumber berita penyebab kejadian tragis ini. Sayapun membaca chat- chat sosial media seperti WAG maupun komentar postingan berita di sosial media antara lain karena pernikahan dini berdampak pada kurang matangnya si ibu dalam menyikapi persoalan hidup (bisa dihitung usia ibu 26 tahun memiliki anak pertama usia 6 tahun). Riwayat hidup si ibu yang hidup di panti asuhan setelah ditinggal mati bapaknya sementara ibunya menjadi TKW di luar negeri kemudian mondok dan dinikahi sirri oleh seorang yang dipanggil Gus Din menjadi alasan berikutnya. Ia bukanlah satu- satunya istri Gus Din alias ia dimadu dengan perempuan lainnya. Dalam chat-chat membahas berita pembunuhan ini, tidak sedikit yang menyinggung masalah pernikahan lebih dari satu istri (poligami) yang dikaitkan dengan penyebab pembunuhan tersebut.

Selama ini, saya menanggapi ringan tiap diskusi di sosial media yang membahas poligami ini.Ya, karena saya takut salah memahami tiap pendapat tentang poligami, hal yang dibolehkan oleh Allah SWT namun sulit diterima oleh perempuan dan mungkin anak-anaknya. Bagi perempuan yang dimadu bukanlah hal mudah melepaskan hatinya untuk berbagi kasih sayang dan apa saja yang menjadi haknya dari suaminya akan dibagi kepada perempuan lain dengan status istri suaminya.

Bukanlah hal mudah ketika istri yang satu membutuhkan kehadiran sang suami tiba-tiba tak dapat dipenuhi karena suami sedang memenuhi hak madunya. Tidak mudah pula, istri yang juga ibu dari anak-anaknya memahamkan kepada mereka mengapa ayahnya tidak bisa sepenuhnya memperhatikan mereka sepanjang waktu kehadiran dan mendampingi aktivitas anak-anak sebagaimana anak-anak yang ayahnya mampu mencurahkan perhatiannya penuh karena tak ada tanggungjawab untuk membahagiakan anak-anak dari ibu yang lain.

Apakah tugas untuk berpikir bijak menyikapi poligami ini hanya milik sang istri dan istri pula yang harus kuat menahan sakitnya luka dihadapan anak-anaknya atas keputusan berpoligami ayahnya? Apakah ini masih dianggap perempuan egois tidak memikirkan kebaikan sang suami yang menolong perempuan lain agar terangkat status sosialnya dengan menjadikan ia madunya? Tidak bisakah suami bersama istri menolong perempuan itu dengan mencarikan pria single? Para suami yang melakukan poligami tidak hanya Gus Din saja. Dari sekian yang menjalani pernikahan poligami, baik dari kalangan tokoh masyarakat, tokoh agama dan selebritas, cerita bahagia yang bagaimana yang bisa dijadikan syiar bahwa pernikahan poligami ini menyelesaikan masalah dari sudut pandang istri kesatu, istri kedua, suami, masing-masing anak-anak mereka dan aspek kehidupan yang lainnya?

Jika niatan berpoligami adalah niat ibadah kepada Allah, apakah ulama-ulama yang baik pemahamannya kepada agama dan mengamalkan ajaran agama sehingga menjadi panutan ummat, rujukan dalam berpendapat, memiliki santri-santri yang taat semuanya menjalani pernikahan poligami? Yang sudah nampak dalam indra kita, mereka yang terpadang dari segi ilmu pengetahuan dan  status sosial seperti Habibie, Suharto dan SBY tidak melakukan hal itu. Mungkin saya membuat majas hiperbola mengaitkan bahasan ini dengan para mantan presiden ini. Tapi mereka juga manusia menjalani tahapan hidup yang miirp bahkan sama, cuma beda bagaimana menjalaninya.

Siapakah yang dibahagiakan oleh pernikahan poligami jika ada dampak yang memilukan hingga ada anak-anak tak pernah tahu urusan orang tuanya terbunuh di tangan ibunya sendiri?

Siapakah yang dibahagiakan oleh pernikahan poligami ketika seorang ibu yang menahan cemburu misalnya ditanyai anaknya “ayah dimana?” Cukupkah sang ibu menjawab,

“Sedang berada di rumah ibu Fulan ” (misalnya). Pernikahan yang sejatinya dijalani seumur hidup bisakah anak dan istri yang berada dalam kehidupan pernikahan poligami ini memiliki suasan batin yang stabil selalu ihlas, istri yang bersikap dan berpikir bijak dengan dinamika perjalanan poligami suaminya?

Nuwon sewu, kepada mendiang Habibie dan keluarga, kalau biopiknya saya jadikan bahan renungan berdampingan dengan kisah memilukan di daerah saya untuk memahami kembali arti bahagia dalam biduk rumah tangga itu tak bisa dijalani secara parsial. Dalam keluarga, bahagia itu dapat dirasakan benar-benar bahagia ketika suami,istri dan anak-anak bahagia. Berhati- ati saya tuangkan pikiran saya dalam tulisan ini untuk menghindari salah persepsi tentang pandangan saya terhadap pernikahan poligami.

Apa yang sudah diatur Allah dalam al-Quran adalah ajaran yang kebenaran bagi saya dan seluruh umat manusia. Allah Maha Bijak, Allah Maha Tahu, apakah hambaNya mampu atau tidak menjalankan perintahNya yang termaktub dalam AlQuran, terbukti ada tahapan-tahapan dalam beribadah kepadaNya. Mungkin manusia saja yang kurang paham bagaimana menerapkan ajaran agama yang dikehendakiNya. Manusia lupa bahwa mengambil dalil AlQuran secara parsial akan berakibat tidak baik bagi dirinya di kemudian hari.

Sungkem ta’dhim saya kepada Pak Habibie dan Ibu Ainun teriring do’a semoga rahman, rahim dan pengampunan Allah melapangkan jalan beliau bedua menuju keabadian.