Berubalah Dalam Hidup atau Kau Mati Gaya

0
114

Ada banyak kisah yang menaruh “perubahan” pada inti ceritanya. Banyak, bahkan mungkin sebagian besar kisah dan film inspiratif adalah gambaran proses seseorang tokoh dari keadaannya yang biasa saja bahkan gagal, sejurus kemudian ia mencari jalan yang tepat, membuka akses bagi sesuatu yang baru bagi hidupnya walaupun sakit dirasa. Dengan segenap raga yang siaga, ia palingkan dirinya dari kenyamanan, mengejar, berlari, berpacu dengan waktu untuk mencapai target perubahan yang dia impikan.

Kampusdesa.or.id–Termasuk Po. Kawan tahu kan? Tokoh utama dalam film animasi Kungfu panda yang gilang-gemilang laris itu? Po adalah seekor panda yang anehnya menjadi anak seekor bebek. Di sela-sela kehidupannya berjualan bakmi, ia punya mimpi besar menjadi kesatria naga, kesatria legenda yang akan memimpin para kesatria lain membela kebenaran. Nah, seperti kawan tahu, ada beberapa tembok raksasa yang menghalanginya dari cita-citanya, mulai dari badan terlalu besar: profesi sebagai penjual mie yang sulit ditinggalkan: dan cemooh orang-orang di sekitarnya yang merespons mimpinya  sebagai kegilaan yang tak tahu diri.

‘Ala kulli hal. Po, dengan dorongan mimpinya, ditambah lagi keberuntungannya, membuat hal mustahil menjadi mungkin untuk terwujud nyata. Master Oogway, yang digambarkan sebagi guru senior yang telah tua, ingin memberikan gulungan naga pada kesatria yang terbaik dari murid-murid Master Shifu. Di saat yang sama, Po memasang kembang api di kursi yang ia duduki. Awalnya ia hanya ingin melihat aksi murid-murid Master shifu. Namun, karena ia tak bisa mengontrol kembang api di kursinya, ia pun meluncur tinggi, berbelok-belok, menabrak sana-sini.

Nah, ketika Master Oogway ingin menunjuk siapa yang akan  menjadi kesatria naga dengan telunjuknya, di situlah Po dengan kelucuannya jatuh tepat di depan jari telunjuk Master Oogway.. jadi, secara langsung, master Oogway menunjuk Po untuk menjadi kesatria naga. Hal yang sulit dipercaya, panda gemuk pemuk penjual mie yang suka makan itu menjadi kesatria dambaan para pendekar mana pun. Namaun, itulah adanya. Namanya juga cerita.

“perubahan,” tutur leo Buscalgia, “memiliki kekuatan untuk mengangkat, menyembuhkan, mendorong, memberikan unsur kaget, membuka pintu-pintu baru, mendatangkan pengalaman yang menantang, dan menciptakan kegembiraan dalam hidup. Tentu layak untuk dipertarukan.”

Sama seperti seorang lelaki muda yang memutuskan mendirikan perusahaan Komputer di garasi rumahnya. Ia tak peduli bagaimana keadaanya sekarang. Yang paling penting, ia punya tekad untuk menyusun perubahan, dan itu terlanjur kuat di dadanya. Tahun 1976 ia kumpulkan modal dengan susah payah dengan menjual barang-barang berharga miliknya. Usaha yang keras ia jalani. Karena yang ia pertaruhkan adalah hidupnya di masa depan. Jika ia berhasil, ia akan banyak untung. Jika gagal, akan berdampak serius bagi keluarganya.

Dimulailah membuat komputer. Dengan usaha maksimal, terciptalah komputer pertama mereka yang  dijual 50 unit ke setiap took local. Itu pun dalam beberapa tahun. Peristiwa fenomenal seperti ini adalah awal mula perusahaan Komputer yang sangat masyhur di telinga kita. Menggunakan simbol buah  sebagai ikonya, seperti itulah Apple yang digawangi steve jobs memulai tekadnya, lalu berubah dan dan meraih mimpinya.

Tabiat peruhan adalah menyakitkan. Benar, bukan? Apa lagi sekarang kita sebagai agent of cahage, agen-agen perubahan, di tengah 254 juta rakyat Indonesia yang majemuk: di antara belasan ribu pulau: di tengah persaingan serta perang-perang politik, penjajahan ekonomi, dan masyarakat yang sulit menerima perubahan. Lihat saja film sang pencerah yang mengisahkan Ahmad Dahlan memulai perubahan, sampai-sampai rakyat di sekelilingnya kiai kafir.

“perubahan itu menyakitkan,” demikian kata Richard Marcinko, “ia menyebabkan orang merasa tidak aman, binggung, dan marah. Orang menginginkan setiap hal seperti semula karena mereka menginginkan hidup yang mudah.”

Begitulah tabiat perubahan. Selalu. Namun, jangan berciut hati, kawan, karena memang itulah jalan yang dilalui para nabi, rasul, mujahid, dan pejuang-pejuang-nya salah satunya, tersebutlah pedana menteri Turki beberpa masa setelah Mustafa Kemal pasha yang sekularis, namanya Adnan Mandres.

Memang dengan suara terbanyak menyakinkannya untuk menggulirkan perubahan Islam. Dengan persiapan sedemikian rupa, ia mengembalikan azan dari bahasa Turki ke bahasa Arab. Ia menjalin komunikasi dengan Negara-negara teluk yang Muslim, lalu diam-diam melakukan ibadah haji.

Perubahan memang menyakitkan. Ketika perubahan menuju kebenaran digulirkan, Adnan Mandares berhadapan dengan pemuja sekularisme yang tak tinggal diam. Tak lama  kemudian, setelah langit merindukannya, beliau syahid di tiang gantungan.

Tak lain juga dengan kisah menyejarah Ir. Necmetin Erbakan, sang Guru yang gigih mengembalikan Islam menjadi ruh bangsa Turki. Ketika ia menjadi perdana menteri Turki, ia memasang Islam terang-terang di hadapan public, di tengah gelombang sekularisme yang amat mencekam. Bahkan, dalam cekaman itu, ia menggagas perubahan besar yaitu memelopori berdirinya D-8, Asosiasi Negara-Negara Islam dalam rangka mendongkrak kemajuan ekonomi di dunia Islam. Dan kembali, perubahan menuju kebenaran menuai respons garang dari musuh-musuh di sekitar.

Tak lama setelah ia menggulirkan perubahan  itu, militer yang menamakan dirinya “Penjaga Setia Sekularisme Turki” mengudeta dirinya dan memenjarakan seumur hidup. Meski pedih, para  ulama dan mujahid tetap terpompa semangatnya untuk semakin teguh berjuang. Ya, inilah jalan bagi agent of change!

Tugas kita adalah memulai langkah untuk perubahan. Masalah hasil atau nilai akhir, itu semata-mata milik Allah. Itulah embun sejuk yang mendinginkan hati kita.

“Kebenaran,” kata salah seorang guru, “awalnya memang dimusuhi. Namun, jika sang pembawa berkonsisten dengan perubahan yang dibawahnya, orang akan mengaguminya, lalu mengikutinya.” Tugas kita adalah memulai langkah untuk perubahan. Masalah hasil atau nilai akhir, itu semata-mata milik Allah. Itulah embun sejuk yang mendinginkan hati kita.

Para pembawa perubahan ingin membawa perbaikan, tetapi  mereka tak mengiginkan pertengkaran. Para pembawa perubahan membawa napas perbaikan dalam tingkah lakunya. Mereka yang membawa perubahan menuju kebenaran bukanlah orang-orang yang sekedar berteori, melainkan orang-orang yang selalu menjadi teladan di tengah-tengah lingkungannya. Apa pun dan bagimana pun keadaannya.

Tidak cukuplah peristiwa Badar yang fenomenal kita baca  berulang kali? Kita bahkan sudah hafal beberapa jumlah pasukan Muslimin  dan beberpa jumlah kekuatan kuffar Quraisy. Peristiwa itu mengabarkan pada kita: jika tekad perubahan ditanam dengan iman yang teguh, akan terbit keyakinan  bahwa Allah pasti menolong!

Kata kedua adalah jihad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan jihad dengan peryataan, “jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah. “Di tempat lainnya, beliau rahimahullah menyatakan, “jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal shalih dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

Perubahan menuju kebaikan membutuhkan perjuangan berkobar-kobar dengan kontiunitas yang memadai. Perubahan tak harus terlihat seperti revolusi. Yang ada adalah, kita terus bekerja, berkarya, terus dan terus menciptakan perbaikan-perbaikan  kecil bagi diri kita, lalu lingkungan kita. Bukankah setiap hal besar diawali dengan hal kecil?

Kadang ada teman yang berseloroh ketika kami berdiskusi kecil di Asrama pondok, “Bagaimana kita akan merapikan Indonesia kalau lemari kita masih berantakan? Lemari sekotak ajak kagak bisa dirapiin, apalagi Indonesia?” Dan kami mengangguk, tersindir, lalu setelah itu membersihkan lemari kami.

We are af change! Jangan mencoba melompat langsung menuju hal yang besar tanpa memperhatiakn maslah kecil di sekeliling kita. Kita mungkin tak sedermawan Abu Bakar, tak sehebat Umar, tak sekaya Utsman, dan tak sepandai Ali, tetapi kita sedang berusaha melewati jalan yang sama seperti yang mereka lakukan.

Setelah kita mengagendakan perubahan besar pada diri dan lingkungan kita, Allah pasti akan memberikan jalan terang yang tak disangka-sangka.

Yang kita yakini, setelah kita mengagendakan perubahan besar pada diri dan lingkungan kita, Allah pasti akan memberikan jalan terang yang tak disangka-sangka. Seperti Po. Panda gemuk itu, menjadi kesatria naga, mungkin. Seperti kata ustadz Salim A. Fillah, “Bekerja, maka keajaiban.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here