Berkawan dengan Literasi

0
103

Era 4.0, di mana berkembangnya teknologi yang semakin canggih menjadikan segalanya lebih mudah. Demikian halnya dengan literasi. Saat ini, literasi bukan lagi menjadi hal yang asing di khalayak ramai. Sayangnya, kurangnya budaya literasi justru menjauhkan kalangan anak muda yang seharusnya haus akan keilmuan.

KampusDesa–Empat Ramadhan 1440H lalu saya mendpat tagged status dari kawan sosial media saya. Judul statusnya Literasi Ramadhan.

“Wow, literasi benar-benar menjadi perbincangan menarik dan kosakata elok di kalangan para penyuka bacaan dan giat menulis”. Spontan hati saya takjub. Ya, baru kali itu saya tahu ada ‘Literasi Ramadhan’, biasanya ‘Safari Ramadhan’,  ‘Ramadhan Berbagi’ , ‘Tadarus Ramadhan’ dan apalah saja yang dilakukan di bulan Ramadhan bisa muncul istilah-istilah baru. Status yang berjudul Literasi Ramadhan ini memaparkan tentang simbiosis antara aktivitas baca tulis sebagai keniscayaan yang ada di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu pula mengaitkan bahwa Ramadhan adalah bulan literasi dengan turunnya Surat al-Alaq (QS:96). Sumber literasi terhebat sepanjang sejarah ummat manusia adalah Al-qur’an itu sendiri. Ia adalah kalamullah dan sumber segala ilmu. Di bulan Ramadhan, aktivitas membaca, tadharus  Al-Qur’an meningkat, majelis ilmu tumbuh di mana-mana. Benar-benar bulan literasi!

Untuk tahu seputar uang tentang asal, penggunaan dan pengelolaannya ternyata “it is a must” ber’literasi’.

‘Literasi’ disandingkan dengan istilah yang berkesan baik, selalu pantas, tanpa ia memantaskan dirinya. 15 Maret  2019 saya terlibat dalam kepanitian halaqoh ekonomi dan keuangan yang diselenggarakan PC ISNU (Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nadlatul Ulama) Jombang di UNWAHA (Universitas Wahab Hasbullah). Ada makalah dari halaqoh ini yang menggadengkan keungan dengan literasi,  sehingga menjadi “literasi keuangan”. Gagasan literasi keuangan ini tentang kebijakan pemerintah terkait keuangan seperti sebaran pembangunan di Indonesia, pajak, bank syariah, komitmen pelaksana tugas bidang keuangan, entrepreneurs, satripreneur, ekonomi kreatif dan lain-lain. Ya, pantas kalau makalah tersebut mengambil gagasan keuangan yang disandingkan dengan “literasi”. Untuk tahu seputar uang tentang asal, penggunaan dan pengelolaannya ternyata “it is a must” ber’literasi’.

Dari “literasi keuangan” ini mengingatkan saya dengan siswa Paket C saya yang tahun lalu mempresentasikan mata pelajaran pengembangan kepribadian profesional. Ia menyajikan gagasan di depan teman sekelasnya tentang minatnya di tata rias kecantikan. FYI (for your information), mata pelajaran kepribadian profesional kami sajikan dalam bentuk tutorial dan berbasis pada minat dan bakat siswa yang dikemas dalam diskusi panel. Tutor sebagai moderator saja.

Literasi pantas bersanding dengan kecantikan sehingga menjadi literasi kecantikan.

Saya baru “ngeh” bahwa merias wajah itu tidak asal pasang bedak dasar, bedak tabur, alis mata, eye shadow, lipstick, dan lain sebagainya. Dari presentasi siswa saya ini, menginformasikan bahwa pilihan warna perangkat make up yang dipakai seseorang itu selayaknya agar menyesuaikan dengan warna urat nadi orang tersebut. Dari presentasi ini saya juga penasaran, saya menambah pengetahuan lagi dengan googling. Oh, ternyata “warna urat nadi” ini mengambil istilah “undertone“. Undertone ini bisa digunakan dalam memutuskan untuk memakai warna yang cocok dalam hal berbusana dan tata rias kecantikan. Dari sini, saya yakin bahwa “literasi” pantas bersanding dengan “kecantikan” sehingga menjadi “literasi kecantikan”.

Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy di Pusat Kegiatan masyarakat (PKBM) Bestari Jombang Jawa Timur pada tanggal 10-11 Agustus 2019.

Ada pula digital literacy, adalah literasi berbasis digital, menggunakan alat, menggagas dunia baca tulis dalam format digital, dalam format website (media sumber Literasi berupa bahan bacaan atau tulisan), format fotografi (sumber literasi dalam wujud gambar) dan video (sumber literasi dalam wujud rekaman kegiatan yang bergerak). Semuanya tersaji dalam wujud karya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Untuk literasi yang terakhir ini, Anda bisa pelajari bersama Kampus Desa dalam kegiatan Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy di Pusat Kegiatan masyarakat (PKBM)  Bestari Jombang Jawa Timur pada tanggal 10-11 Agustus 2019.

Akhir dari yang akhir, untuk tahu banyak hal, kita memang perlu berkawan dengan literasi.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah