Berkata Positif Pada Anak

Mewujudkan Keluarga Hebat (Part I)

0
158
http://www.wajibbaca.com/2017/05/cara-ampuh-menasehati-anak-agar.html

Menyusun kalimat positif menjadi senjata pengasuhan anak akan menjadi kebiasaan jika kita menyadari bahwa kata-kata negatif telah menciptakan jejak mental yang tidak baik pada anak. Namun, kata negatif itu seperti tak banyak direfleksikan sebagai bahaya karena kita menganggap baik ketika diukur dari kepentingan orang tua. Nah, kata positif hanya dapat menjadi tabungan masa depan jika orang tua sadar diri, bahwa kata negatif yang dianggap baik, telah melahirkan kepatuhan tetapi meninggalkan luka. Bagaimana dengan Anda.

kampusdesa.or.id–Siapa bilang jadi orang tua itu susah? Di dunia ini tidak ada yang sulit jika dijalani dengan ikhlas begitu pun dalam hal mewujudkan keluarga hebat. Keluarga hebat? Seperti apa sih?

Beberapa keluarga, khususnya kepala keluarga atau sosok ayah, ada yang hanya memiliki pemikiran, “yang penting bisa memenuhi kebutuhan anak istri dan orang tua.” Namun tidak sedikit orang tua yang berpikir,“ anakku harus lebih hebat dariku, harus lebih sukses.”

Kecenderungan yang ke dua lebih kental ada di kehidupan masyarakat modern dan asing. Bagaimana bisa?

Perhatikan hal-hal remeh berikut:

“Nak, kok nilai matematika kamu enam puluh. Jangan kalah dong sama bla bla bla …,”

“Ayo main mobil-mobilan, masa’ kalah sama anak itu, dia kecil loh …,”

“Jangan mainan itu ya, nanti baju kamu kotor semua …,”

Saya curiga, ukuran “normal” hanya sebagai standar yang diciptakan manusia atas asas mayoritas.

Tidakkah para orang tua sering kecewa dan berkata demikian kepada anak-anaknya? Padahal tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, hobi yang berbeda, keinginan yang berbeda, tidak berdasarkan ukuran normalnya atau wajarnya. Saya curiga, ukuran “normal” hanya sebagai standar yang diciptakan manusia atas asas mayoritas. Baiklah, mungkin ini PR besar untuk orang tua agar tidak menanggap anak tidak normal ketika tidak melakukan hal seperti anak-anak lainnya.

Jika demikian, hal seperti apa yang seharusnya diucapkan kepada anak? Sangat mungkin bagi orang tua mengganti beberapa kalimat di atas dengan kalimat yang memberi penghargaan kepada anak.

“Nanti belajar lagi ya, pasti bisa. Adik kan cerdas. Oke, Sayang?”

“Mau main mobil-mobilan? Adik kan pemberani, nanti ayah temani ya?”

“Suka mainan ini ya? Setelah main dibersihkan ya, Adik kan bertanggung jawab.”

Nah, para orang tua yang sangat saya banggakan. Tidak mudah memang berlaku demikian. Tetapi itulah konsekuensi sebagai orang tua. Bukan men-judge anak, tetapi memotivasi anak.

Bandingkan kalimat di atas dengan seksama dan pikirkan respon anak. Tiga kalimat pertama memberikan respon negatif kepada anak. Dia akan berpikir “yah, aku dimarahin, aku dibanding-bandingin, aku dibatasin.” Ini adalah salah satu penghambat tumbuh kembang psikologis anak.

Namun, di tiga kalimat berikutnya, respon anak pasti positif. “Ya, kata ayah aku cerdas, aku kan pemberani, aku kan bertanggung jawab, aku pasti bisa.”

Jika memang ingin meluruskan kesalahan anak, biarkan ia tenang terlebih dahulu, baru bicara baik, sampaikan hal positif apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Saya mengamati beberapa orang tua yang sedang di tempat umum bersama anaknya. Terkadang orang tua akan marah ketika anaknya tidak mau menurut. Ini tidak sedikit terjadi. Salah satu kebiasaan orang tua adalah menasihati anaknya setelah memarahinya. Ini benar, tetapi jangan menitikberatkan pada amarah. Sebagian besar anak tampaknya akan mendengar nasihat orang tua. Tetapi sebenarnya ia hanya takut karena dimarahi. Jika memang ingin meluruskan kesalahan anak, biarkan ia tenang terlebih dahulu, baru bicara baik, sampaikan hal positif apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Pada dasarnya hubungan orang tua dan anak harus interaktif dan hangat. Salah satu penyebab buruknya hubungan anak dengan orang tua ketika dewasa adalah orang tua yang sejak kecil suka membandingkan anak-anaknya dengan saudara sendiri atau bahkan orang lain. Jadi, selalu berkata positif pada anak sejak dini menjadi hal yang penting.