Berhijrah Menjadi Guru Berkualitas, Bukan Mengubah Kurikulum Sekolah Semata

0
81
Guru Paud sedang berlatih menulis hasil observasi selama mendampingi anak didik

 Indonesia selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan perubahan yang lebih baik dalam bidang pendidikan, hal ini ditunjukkan dengan berhasilnya Indonesia dalam menyediakan akses pendidikan dasar bagi semua masyarakat, namun saat berbicara mengenai kualitas pendidikan di negara ini, Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara maju lainnya (Chen&Ragatz, 2011). Indonesia masih perlu terus menerus memperbaiki sistem pendidikannya dan untuk mencapai pendidikan berkualitas. Pendidikan yang berkualitas juga akan menentukan masa depan dan kejayaan bagi sebuah bangsa (Ma’arif, 2011).

Meningkatkan pendidikan berkualitas dimulai dari guru yang berkualitas pula.  Mengapa guru menjadi prioritas utama dalam transformasi pendidikan Indonesia? karena guru merupakan penentu utama kualitas pendidikan suatu negara. Gurulah yang berinteraksi secara langsung dengan peserta didik, gurulah yang berperan untuk memberikan, memahamkan dan menghidupkan pengetahuan secara langsung, gurulah yang mendidik peserta didik agar memiliki akal budi. Sehingga sangat logis apabila dikatakan bahwa guru memiliki peran strategis dalam pembangunan manusia.

Sudah kita ketahui bersama, bahwa pada saat ini, Finladia disebut-sebut sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik didunia. Berbicara sistem artinya juga berbicara tentang bagaimana negara tersebut mengelola guru-guru berkualitas, hingga dapat mereformasi pendidikannya. Disana, guru merupakan pemain kunci dalam membangun masyarakat madani. Di negara tersebut, tidak semua lulusan sarjana dengan mudah menjadi guru, mereka harus melewati seleksi yang menantang dan ketat. Finlandia bahkan tidak main-main soal kualitas guru yang akan mengajar, negara tersebut memilih lulusan terbaik di setiap universitas, dan mereka mensyaratkan harus memiliki gelar master untuk melamar menjadi seorang guru (Sahlberg, 2014). Ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat bertransformasi melalui perubahan guru-gurunya.   Sedangkan di Indonesia masih berkutat pada perubahan kurikulumnya yang sama sekali tidak diimbangi dengan perubahan kualitas gurunya. Padahal berhasil tidaknya pendidikan bergantung pada apa yang diberikan dan diajarkan oleh gurunya (Shoimin, 2014)

Upaya pemerintah dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia sudah terus berlangsung, salah satunya upayanya adalah berusaha menyempurnakan kurikulum yang lalu dengan menerbitkan kurikulum 2013.  Namun, aktor penerjemah kurikulum yaitu guru masih belum maksimal dalam menerapkan kurikulum 2013, karena guru masih belum banyak mengenal model pembelajaran yang inovatif (Shoimin, 2014). Ini menunjukkan bahwa masih banyak guru-guru yang belum siap dengan adanya perubahan, dan belum siap untuk merubah paradigma tradisional menjadi paradigma inovatif.  Maka tidak heran, jika penerapan kurikulum 2013 masih terkesan berbelit-belit dan susah untuk diimplementasikan, karena aktor pendidiknya yang masih belum merubah paradigma mengajarnya.

Jika perubahan kurikulum yang tidak diimbangi dengan perubahan paradigma gurunya, maka hasilnya akan sia-sia. Pendidikan Indonesia pun akan jauh dari kata berkualitas, karena masih banyak gurunya yang enggan untuk belajar dan guru masih menggunakan cara mengajar tradisional dan klasikal (Shoimin, 2014).  Data menunjukkan bahwa guru-guru di Indonesia menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mempelajari materi baru pelajaran dibandingkan 7 negara pembanding lainnya (Australia, Republik Ceko, Hong Kong, Jepang, Belanda, Swiss, dan Amerika Serikat).  Ini menunjukkan bahwa adanya berbagai kelemahan dalam praktik pedagogik guru-guru di Indonesia (Chen&Ragatz, 2011).  Guru terlihat enggan memperbaharui pengetahuannya, jarang pula mempelajari materi yang akan disampaikan kepada peserta didik sebelum mengajar, sedangkan di negara maju guru mampu mempersiapkan diri dan memperbaharui pengetahuannya sebelum mengajar.

Kelemahan dalam praktek pedagogik juga nampak ketika guru enggan menggunakan cara-cara inovatif di dalam kelas, enggan untuk mempelajari beragam pendekatan dalam pengajaran. Guru hanya melakukan komunikasi satu arah, enggan melakukan komunikasi interaktif dialogis, karena hanya mengandalkan metode ceramah tanpa diberikan ruang dialog. (Asmani, 2014).  Data penelitian lain mendukung bahwasannyan guru-guru Indonesia secara rata-rata mengucapkan 2.633 kata selama pelajaran berlangsung, sementara kata-kata yang diucapkan guru- guru di negara pembanding lain berkisar antara 5.148 (terendah) hingga 5.902 (tertinggi) (Chen&Ragatz, 2011). Ini menunjukkan rendahnya informasi yang disampaikan guru di dalam kelas kepada peserta didik.

Data lain menyatakan bahwa siswa di Indonesia mengucapkan 197 kata, sementara jumlah kata yang diucapkan siswa-siswa di enam negara pembanding lainnya berkisar dari 640 (terendah) hingga 1.018 (tertinggi) (Chen&Ragatz, 2011). Ini menunjukkan bahwa rendahnya interaksi verbal guru-guru di Indonesia dengan peserta didiknya.  Sangat miris, hampir terpaut separuh dari kisaran negara pembanding. Ini mencerminkan bahwa seolah-olah guru menjadikan murid sebagai obyek, bukan subyek yang bebas untuk berkespresi dan berpendapat.   

Jika kondisi ini terus berlangsung dan tidak ada perubahan, maka yang menjadi korban adalah peserta didik. Tidak heran, jika peserta didik adalah korban malpraktek kurikulum, akibat para pendidik tidak tepat menerjemahkan kurikulum. Wajar saja jika banyak anak-anak Indonesia memiliki minat baca rendah dan tidak memiliki tradisi menulis, serta kemampuan berfikir kritisnya menjadi lemah, salah satu penyebabnya adalah guru-guru di kelas belum mampu berikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan lebih, guru-guru belum mampu menghidupkan ruang kelas menjadi kaya akan proses dialogis, guru-guru belum mampu membangkitkan keinginan peserta didik untuk merdeka belajar. Sungguh ironisnya negeri kita Indonesia. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, kita harus segera menyadari, harus mau segara berubah.

Sekali lagi, perubahan transformatif pendidikan kita harus dimulai dari perubahan paradigma guru-gurunya.  Ketika guru-guru Indonesia menunjukkan kualitas lebih baik, maka harapan untuk menjadikan pendidikan kita lebih baik akan selalu ada. Data menunjukkan bahwa pengetahuan dan kemampuan guru memiliki dampak yang signifikan pada kinerja akademis anak didiknya (Barber&Mourshed, 2007). Ini artinya, jika peserta didik dikelas dijar oleh guru yang berkualitas, maka kemampuan dan kinerja akademis peserta didik akan menunjukkan hasil yang lebih baik.

Perubahan paradigma guru mutlak diperlukan, guru harus kembali memperbaiki cara berfikir dalam mengajar, guru harus mau belajar dan mempelajari hal baru, guru harus memperbaiki cara berkomunikasinya pada peserta didik, guru juga harus bisa menggunakan cara inovatif dan kreatif dalam mengajar. Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali, dan mencari berbagai terobasan, pendekatan, metode dan strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang munculnya inovasi dalam mengajar. Jika setiap guru memiliki kemauan yang kuat untuk berinovasi, maka sama halnya guru akan menghidupkan pengetahuan bagi peserta didik di kelas.

Daftar Pustaka

Asmani, Jamal Ma’mur. 2014. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Yogyakarta: Diva Press
Barber, M., and M. Mourshed. 2007. “How the World’s Best Performing Schools Come out on Top.” McKinsey & Company, New York, USA
Chen, Dandan & Andrew Ragatz. 2011. Mentransformasi Tenaga Pendidikan Indonesia (Volume I: Ringkasan Eksekutif) Pembangunan Manusia Kawasan Asia Timur dan Pasifik. Jakarta: Bank Dunia
Daryanto. 2013. Standar Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru Profesional. Yogyakarta: Gava Media
Ma’arif, Syamsul. 2011. Guru Profesional: Harapan dan Kenyataan. Semarang: Walisongo Press
Sahlberg, Pasi. 2014. Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Bantyak ala Finlandia. Bandung: Kaifa
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Ragatz, Andrew, Halsey R, Ratna K, Ritchie S, Richard, Ralph R, Muhammad F, Jups K, Adam R,
Siwage D, Susie S, Imam S), dan Megha Kapoor. 2011. Mentransformasi Tenaga Pendidikan Indonesia (Volume II: Dari Pendidikan Prajabatan hingga ke Masa Purnabakti: Membangun dan Mempertahankan Angkatan Kerja yang Berkualitas Tinggi, Efi sien, dan Termotivasi). Pembangunan Manusia Kawasan Asia Timur dan Pasifik. Jakarta: Bank Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here